Arkeologi » Asia Tenggara » Gerakan Buddhis » Indonesia » Sosial

Umat Buddha Jawa Tengah Gotong Royong Bersihkan Borobudur

Sabtu, 22 Februari 2014

Bhagavant.com,
Jawa Tengah, Indonesia – Pasca-meletusnya Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur, pada Kamis (13/2/2014), yang menyebabkan munculnya hujan abu vulkanis yang menyelimuti Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, umat Buddha di sekitar candi melakukan gorong royong bersama warga lainnya untuk membersihkan abu vulkanis yang menempel pada candi abad ke-9 tersebut.

Bhikkhu Cattamano bersama Umat Buddha membersihkan Abu Gunung Kelud di Candi Borobudur. Foto: kasi.or.id - Ngasiran
Bhikkhu Cattamano bersama Umat Buddha membersihkan Abu Gunung Kelud di Candi Borobudur. Foto: kasi.or.id – Ngasiran

Kegiatan membersihkan Candi Borobudur tersebut diikuti oleh sekitar lebih dari 1000 umat Buddha dan warga disekitar Candi Borobudur dan motori oleh Pemuda Teravada Indonesia (PATRIA) DPD Jawa Tengah dan juga didukung oleh Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) Jawa tengah.

Padesanayaka (Pembina) umat Buddha Jawa Tengah, Bhikkhu Cattamano Thera menuturkan bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan secara spontan setelah melihat berita abu Gunung Kelud sampai ke Candi Borobudur.

“Setelah kita melihat dan membaca berita, kita langsung mengajak umat untuk bagaimana kita mempunyai kepedulian terhadap Borobudur, karena sebagai umat Buddha yang mengagumi keagungan Borobudur juga bagian yang tak terpisahkan sebagai bangsa Indonesia kita perlu ikut merawat dan melestarikan Borobudur,” demikian penjelasan Bhante Cattamano, seperti yang dilansir situs web Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI), Selasa (18/2/2014).

Walaupun kegiatan pembersihan yang dilakukan terkesan mendadak, kepedulian umat Buddha dan masyarakat Indonesia terhadap kelestarian Candi Borobudur terlihat dengan banyaknya umat yang hadir dalam kegiatan tersebut. Umat Buddha yang hadir dalam kegiatan tersebut tidak hanya umat Buddha dari daerah Yogyakarta, Semarang dan Temanggung saja, tetapi kegiatan tersebut diikuti juga oleh perwakilan umat Buddha dari daerah Jepara dan Pati yang pada dasarnya tinggal sangat jauh dari lokasi Candi Borobudur.

Meskipun kali ini tingkat keasaman abu vulkanis Gunung Kelud ternyata tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan abu vulkanis Gunung Merapi saat meletus tahun 2010 yang dapat membahayakan bebatuan Candi Borobudur, namun pembersihan tetap diperlukan dilakukan. Selain untuk tetap menjaga kelestarian bebatuan candi, pembersihan juga dilakukan untuk keamanan dan kenyamanan para pengunjung.

Pada Rabu (19/2/2014) Candi Borobudur telah dibuka kembali untuk umum meskipun dilakukan secara bertahap yang dimulai dari zona II. Sedangkan pada Sabtu (22/2/2014), kawasan wisata Candi Mendut dan Candi Pawon, di Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang telah dibuka kembali untuk kunjungan wisata.[Bhagavant, KASI, 22/2/14, Sum]

Penulis: