Arkeologi » Belanda

Mumi dalam Arca Buddhis 1.000 Tahun Kini dalam Sengketa Hukum

Jumat, 7 Juli 2017

Bhagavant.com,
Amsterdam, Belanda – Arca Buddhis berusia 1.000 tahun lebih asal Tiongkok yang menjadi perhatian dunia pada tahun 2015 yang lalu karena terdapat mumi di dalamnya, kini masuk dalam sengketa hukum.

Arca (kiri) dan hasil citra tomografi berkomputer (kanan) dari mumi Master Liuquan. Foto: Drents Museum
Arca (kiri) dan hasil citra tomografi berkomputer (kanan) dari mumi Master Liuquan. Foto: Drents Museum

Arca Buddhis berisi mumi tersebut masuk dalam ranah hukum di Amsterdam pada 14 Juli 2017 ini, lantaran warga Desa Yangchun di Tiongkok menggugat kepemilikannya yang kini berada di tangan seorang kolektor seni asal Belanda.

Arca mumi tersebut ditemukan pada tahun 1997 oleh perestorasi seni dan barang antik Asia yang berbasis di Amsterdam, Carel Kools, yang menerima arca Buddhis berlapis emas seukuran itu dari kolektor Belanda yang juga arsitek sekaligus desainer interior, Oscar van Overeem.

“Arca itu datang kepadaku dalam keadaan yang sangat buruk,” kenang Kools, seperti yang dilansir Financal Review awal bulan lalu (2/6/2017).

“Ada banyak kerusakan karena serangga. . . . Jadi kami memindahkan papan-papan (pada arca) itu dan menemukan gulungan-gulungan linen ini.”

Setelah melepaskan linen, Kools melihat sepasang kaki dan menyadari bahwa ia melihat sisa-sisa manusia. Pemindaian dengan sinar-X terhadap arca itu dilakukan oleh Kools yang bekerja paruh waktu di rumah sakit. Hasil pemindaian memastikan bahwa arca itu memang berisi mumi, kerangkanya hampir utuh, hanya kehilangan beberapa tulang jari saja.[Baca: Ditemukan Mumi Bhiksu dalam Arca Buddhis 1100 Tahun]

Arca itu walnya dibeli oleh seorang kolektor seni Dinasti Tang, Van Overeem, pada tahun 1995 dari agennya Benny Rustenburg. Van Overeem percaya bahwa arca itu berasal dari Dinasti Ming (1368-1644), namun penanggalan karbon menunjukkan bahwa alas duduk dan mumi tersebut jauh lebih tua, berasal dari Dinasti Song (960-1279).

Arca itu tetap dimiliki Van Overeem selama 18 tahun, namun saat dipinjamkannya ke sebuah pameran di Budapest tahun 2015, perhatian internasional terhadap arca tersebut meningkat. Arca tersebut dikenali oleh warga Desa Yangchun di Provinsi Fujian, Tiongkok sebagai mumi Zhang Gong Liuquan (章公六全), yang telah dicuri pada tahun 1995.

Media Tiongkok membandingkan foto arca Bhiksu Zhang Gong Liuquan saat sebelum hilang (kiri) dan saat ditemukan kembali (kanan). Foto: edgesuite.net

Zhang Gong, atau Zhang Qishan, merupakan seorang herbalis terkenal sekaligus bhiksu yang karena ketaatannya diberi gelar kehormatan gong (公). Ia lahir di Desa Xukeng.

Ketika ia masih kecil, dia berjalan jauh sebelum memutuskan untuk memasuki sebuah vihara. Pengetahuan mendalam tentang pengobatan herbal yang didapatnya membuatnya mendapat ketenaran dan kasih sayang.

Warga desa mengatakan bahwa selama 1.000 tahun mereka telah menggunakan arca yang berisi jenazahnya untuk menghormatinya, bahkan menyembunyikannya dari pejabat negara selama Revolusi Kebudayaan Tiongkok agar selamat dari kehancuran.

Namun pada bulan Desember 1995, arca tersebut hilang. Warga desa tidak pernah berhenti mencari arcatersebut, dan ketika seorang warga desa melaporkan bahwa ia telah menemukan artefak tersebut di sebuah museum di Budapest, mereka dengan cepat menghubungi Liu Yang, seorang pengacara yang berbasis di Beijing yang mengkhususkan diri untuk memulihkan properti kebudayaan Tiongkok.

Liu Yang, pada gilirannya, menghubungi HIL, sebuah firma hukum di Belanda, membawa kasus melawan Oscar van Overeem ke pengadilan.

Van Overeem dan penasihatnya bersikeras bahwa arca tersebut bukanlah warisan curian dari Yangchun dan kasus itu hanyalah kekeliruan identitas, dengan alasan bahwa waktu menghilangnya arca tersebut tidak bersamaan dengan pembeliannya.

Van Overeem mengklaim bahwa Telah membeli arca tersebut pada akhir 1995, dan arca itu telah dikirim ke Amsterdam dari Hong Kong pada pertengahan 1995 – beberapa bulan sebelum arca di Yangchun dicuri.

Namun, Van Overeem tidak memiliki bukti untuk menyokong peristiwa versi ini, karena ia tidak menerima tanda terima dari Rustenburg, yang sekarang sudah pensiun dan tinggal di Filipina dan yang belum menanggapi permintaan untuk memberikan komentar.

Sementara itu, warga desa bersikukuh bahwa mumi itu milik mereka, meski tidak memiliki bukti kuat untuk klaim mereka sendiri. “Dari gambaran yang kami lihat dari pameran di Hungaria, kami langsung tahu,” kata Lin Lemiao, seorang guru pensiunan.

“Tidak ada keraguan bahwa (mumi) itu milik kami,” kata Lin Qizhou, seorang pejabat setempat, menambahkan. “Sangat menggelikan untuk berpikir bahwa ini bukan mumi kami. Semua orang di sini telah mengunjungi cetiya selama hidup mereka, dan kami semua sudah tahu. Ini bahkan tidak membuka peluang untuk diperdebatkan.”

Namun hal tersebut akhirnya akan melalui perdebatan di pengadilan Belanda untuk menemukan bukti yang kuat.

Bukti terkuat yang dimiliki warga desa adalah alas duduk bundar dan datar yang ditemukan di bawah mumi, yang mereka miliki fotonya. Pada pinggirannya terdapat tulisan dalam huruf Tionghoa kuno.

Ada yang tidak terbaca, tapi bagian kunci berbunyi sebagai berikut: “Sejak Sesepuh Zhang Gong Liuquan dari Vihara Puzhao mewujudkan dirinya sendiri, tahun-tahun berlalu yang tidak tercatat. Sejak (ada huruf karakter hilang) aula ini … jarang orang-orang yang berkunjung, tidak ada dupa mawar dan bencana-bencana terjadi. Para pemimpin desa, Lin Zhangxin dan Lin Shixing, menyentuh hati penduduk desa untuk mengumpulkan uang … untuk merombak dan mendekorasi ulang arca sesepuh yang berharga itu.”

Pada awal 2015, warga desa mengatakan kepada wartawan, baik warga Tiongkok maupun orang asing, mengakui mumi Zhang Gong memiliki dua karakter yang membedakannya dengan yang lain.

Yang pertama adalah sebuah lubang antara ibu jari dan telunjuk pada tangan kiri arca, yang dikatakan telah dibuat pada tahun 1950 oleh seorang pejabat yang skeptis terhadap klaim warda desa bahwa arca tersebut berisi mumi dan ingin memastikannya. Sebuah laporan kantor berita mengutip dan menyebut seorang pria yang mengatakan bahwa ia telah mengisi lubang tersebut pada tahun 1980an.

Mumi tersebut memiliki keunikan lainnya yaitu leher yang goyah. Warga desa membawanya keluar dari cetiya pada acara-acara khusus untuk sebuah prosesi sekitar Yangchun dan pada suatu waktu menabrak tangga.

Van Overeem mengatakan, bahwa pemindaian MRI (magnetic resonance imaging) pada bulan Januari tidak menemukan bukti adanya lubang yang diperbaiki di kedua sisi sementara sinar-X telah menunjukkan bahwa mayat di dalam arca itu dilengkapi dengan batang baja yang ada dari dahi ke bagian belakang kepala dan ke bagian bawah tulang belakang. “Jika ada salah satu yang stabil pada mumi ini, maka itu adalah lehernya,” katanya.

Pada bulan November 2015, Van Overeem memberikan arca tersebut kepada seorang kolektor anonim yang telah menyimpannya di lokasi yang dirahasia dari belahan dunia lainnya, dan juga dari Van Overeem sendiri. Jadi, apa pun putusan pengadilan minggu depan, Van Overeem bersikeras untuk tidak menyerahkan arca tersebut apa pun yang terjadi.[Bhagavant, 7/7/17, Sum]

Kata kunci:
Penulis: