Arkeologi » India » Seni dan Budaya

Usaha Pemugaran Pemukiman Kuno Buddhis di Rajaghatta

Kamis, 23 Agustus 2012

Seni dan Budaya BuddhisBhagavant.com,
Rajaghatta, India – Pemugaran sebuah pemukiman kuno Buddhis yang unik akan segera dilakukan setelah Direktorat Arkeologi dan Museum (DAM) India mendapatkan izin untuk melakukannya setelah selama setahun sebelumnya dilakukan penggalian di Rajaghatta, India.

Seperti yang dilaporkan ENS (18/8), M.S. Krishna Murthy, mantan profesor dan ketua Departemen Sejarah Kuno dan Arkeologi Universitas Mysore mengatakan bahwa situs berupa cetiya di Rajaghatta yang berada sekitar 8 km Timur Laut Doddballapur dekat Bangalore dikatakan dibangun oleh umat Buddha dari tradisi Mahayana. Sisa-sisa peninggalan yang ditemukan di Rajaghatta diharapkan dapat membuka lembaran baru dalam sejarah Buddhisme di Karnataka, kata Prof. Murthy yang memimpin pekerjaan penggalian (ekskavasi) tersebut.

Dalam laporan beliau “Rajaghatta, Sebuah Pemukiman Unik Buddhis di Karnataka” yang diserahkan kepada petugas DAM, Prof, Murthy menyebutkan bahwa ada bukti baru yang mendukung kebutuhan untuk penggalian lebih jauh.

Kepala DAM, R. Gopal mengatakan bahwa Rajaghatta merupakan sebuah sutus Buddhis yang penting dimana penggalian dapat dilakukan setelah mendapat izin dari Central Advisory Board of Archaeology, Archaeological Survey of India (ASI), dan akan dilanjutkan selama setahun.

“Warga desa yang menemukan beberapa stupa pada situs tersebut mengguncangkan isi di dalamnya, membukanya untuk menemukan isinya. Tapi, dengan kecewa mereka mengatakan semua stupa hanya berisi lempengan tanah liat dan tidak ada yang lainnya. Sayangnya, warga desa terlalu penasaran untuk mengetahui isinya, dikatakan mereka telah menghancurkan ratusan stupa. Terlepas dari ini semua, kami bisa menggali sekitar 300 stupa di berbagai tahapan pelestarian,” kata Prof. Murthy.

Prof. Murthy menyatakan kekecewaannya mengenai tidak ditemukannya sebuah prasasi satu pun saat tahap penggalian yang pertama, sehingga menyulitkan untuk memperkirakan usia dari kompleks cetiya tersebut. Prasasti yang ditemukan di sekitar situs tersebut juga tidak memberikan petunjuk yang berkaitan dengan pemukiman Buddhis di Rajaghatta. Oleh karenanya, penanggalan dari peninggalan Buddhis di tempat ini hanya dibuat berdasarkan pada petunjuk-petunjuk dasar yang didapatkan dari hasil penggalian tersebut.

Eksplorasi sebelumnya yang dilakukan pada tahun 2000 sampai 2001 dan 2003 sampai 2004 di Rajagattha telah menghasilkan barang-barang antik yang diperkirakan berhubungan dengan Buddhisme. Nampaknya kompleks cetiya di Rajaghatta tersebut hancur pada masa akhir abad ke-6 Masehi. Struktur bangunannya dijarah untuk bahan bangunan. Tempat keagamaan yang sunyi tersebut berubah menjadi tanah pemakaman umat Hindu yang mengakhiri periode panjang dan megah Buddhisme di Rajaghatta selama tiga abad.

Prof. Murthy juga menjelaskan bahwa kompleks cetiya dan vihara tersebut memiliki sebuah tata ruang yang khusus di Rajaghatta. Konstruksi cetiya dan vihara bukanlah dari tradisi yang tidak dikenal. Indah dan besar, pahatan Buddha duduk setinggi sekitar dua meter, terpahat dari batu terlihat sama seperti di Deganur di distrik Dharmapuri di Tamil Nadu, yang berdekatan dengan distrik Kolar. Desa-desa yang ada sekarang seperti Kallya, Magadi taluk, deket Rajaghatta dikenal sebagai pemukiman Buddhis. Dengan penerangan bukti-bukti ini, perlu sekiranya merumuskan kembali sejarah Buddhisme di negara tersebut.[Bhagavant, 23/8/12, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis:

REKOMENDASIKAN: