Asia OseaniaAsia Tenggara

Pesan Kerajaan Kamboja untuk Hari Buddhis Internasional 2026

Bhagavant.com,
Phnom Penh, Kamboja – Kamboja merayakan Hari Buddhis Internasional pada 8 April 2026 dengan menyampaikan pesan kerajaan dari Raja Norodom Sihamoni.

Raja Kamboja Norodom Sihamoni. Foto: khmertimeskh

Mengangkat tema peringatan tahun ini adalah “Memperkuat Solidaritas dan Mendorong Perdamaian melalui Jalan Ajaran Buddha,” situs Cambodianess melaporkan bahwa Raja Norodom Sihamoni menegaskan bahwa perayaan ini bertujuan mempromosikan nilai-nilai Agama Buddha sekaligus menjadi sarana harapan bagi perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia.

Ia juga menyampaikan kebahagiaan yang mendalam serta ucapan selamat kepada para bhikkhu dan seluruh rakyat Kamboja.

Seperti dilaporkan oleh Khmer Times, tanggal 8 April ditetapkan sebagai Hari Buddhis Internasional oleh pemerintah Kamboja—pertama kali pada 2014 dan kemudian disahkan secara resmi satu dekade kemudian pada 2024—untuk memperkuat posisi Agama Buddha sebagai agama negara, meningkatkan hubungan internasional dengan negara-negara Buddhis, serta menyebarkan ajaran perdamaian Buddhis di masyarakat dan dunia.

Penetapan ini juga mencerminkan hubungan antara Kamboja dan Jepang. Raja yang dikenal sebagai buddhis yang taat tersebut dianugerahi gelar kehormatan “Preah Sri Loka Dhammika Raja” oleh World Buddhist Supreme Conference sebagai pengakuan atas perannya dalam menyebarkan Dhamma.

Raja Norodom menjelaskan bahwa Hari Buddhis Internasional merupakan peristiwa yang sangat berharga yang diperingati berdasarkan kalender matahari, dan menjadi kesempatan bagi umat Buddha serta masyarakat umum untuk memahami makna ajaran Buddha, persatuan, dan solidaritas di antara berbagai aliran Buddhis.

Ia menekankan bahwa perayaan ini mendorong perilaku yang benar serta penyebaran prinsip-prinsip Agama Buddha. Menurutnya, hal ini mendukung upaya memperkuat persatuan, meningkatkan penghormatan terhadap Agama Buddha, serta membangun perdamaian dan keharmonisan beragama baik di tingkat nasional maupun global.

Menyoroti peran Kamboja, ia menambahkan bahwa masyarakat setiap tahun merayakan momen ini untuk mempromosikan nilai-nilai Agama Buddha dan menyebarkan Buddha Dhamma, yang melambangkan harapan bagi perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia.

Raja juga menekankan pentingnya perayaan ini dalam mempererat persatuan dan keharmonisan di antara seluruh komunitas atau nikaya Buddhis. Ia mengimbau para umat untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Buddha, serta menegaskan bahwa penyebaran ajaran Buddha secara luas akan memberikan manfaat bagi berbagai aspek pembangunan nasional.

Wakil perdana menteri Hang Chuon Naron dalam pidatonya menyoroti relevansi Dhamma di tengah tantangan global. Ia menyebut berbagai persoalan abad ke-21 seperti konflik bersenjata—yang juga dirasakan Kamboja setelah ketegangan militer dengan Thailand tahun lalu—ketegangan ekonomi, perubahan iklim, kerusakan lingkungan, serta perpecahan sosial. Menurutnya, Agama Buddha menawarkan kerangka penting untuk mendorong persatuan, welas asih, dan tanpa kekerasan, yang pada akhirnya membantu membangun pemahaman dan pembangunan berkelanjutan.

Agama Buddha sendiri telah lama hadir di Kamboja, sebuah monarki konstitusional dengan raja yang dipilih. Ajaran ini telah menjadi bagian penting dari budaya Kamboja sejak setidaknya abad ke-5, berkembang dari pengaruh awal Mahayana dan Hindu hingga menjadi tradisi Theravada yang dominan sejak abad ke-13.

Agama Buddha berkembang pesat pada masa Kekaisaran Khmer (sekitar 802–1431) dan periode pasca-Angkor (1431–1863), namun hampir musnah selama rezim Khmer Merah. Sejak 1993, Agama Buddha kembali bangkit sebagai agama resmi negara.

Menurut Kementerian Urusan Agama dan Kepercayaan Kamboja, saat ini terdapat lebih dari 5.000 stupa dengan hampir 70.000 bhikkhu di seluruh negeri. Komunitas Buddhis utama di Kamboja didominasi oleh Maha Nikaya dan Dhammayuttika Nikaya, yang telah hadir sejak 1855.[Bhagavant, 12/4/26, Sum]

Rekomendasikan: