Bangladesh » Sosial

Vihara Bangladesh Kembali Gelar Iftar bagi Muslim Duafa

Selasa, 28 Juni 2016

Bhagavant.com
Dhaka, Bangladesh – Sebuah vihara di Bangladesh kembali menjadi sorotan media berita karena sikap toleransinya dengan kembali menggelar iftar bagi kaum Muslim yang fakir dan duafa selama bulan Ramadan.

Para bhikkhu di Vihara Dharmarajika, Dhaka, Bangladesh, menggelar iftar untuk kaum Muslim.
Para bhikkhu di Vihara Dharmarajika, Dhaka, Bangladesh, menggelar iftar untuk kaum Muslim. Foto FB Bhikkhu Dhipananda BD

Meskipun berada di tengah meningkatnya kekerasan yang kerap menimpa kaum agama minoritas khususnya umat Buddhis dan aktivis sekuler di Bangladesh, namun Vihara Dharmarajika di ibu kota Dhaka tetap kembali menggelar iftar (buka puasa) bagi para umat Muslim.

Setiap hari selama bulan Ramadan (masa puasa bagi umat Islam), ratusan pria, wanita, dan anak-anak Muslim mengantri di depan Vihara Dharmarajika untuk menerima makanan berbuka puasa.

Vihara Dharmarajika telah melakukan kegiatan ini selama enam tahun, dan para bhikkhu mengatakan bahwa Ramadan adalah kesempatan terbaik untuk membantu umat Muslim yang miskin.

Y.M. Suddhananda Mahathera, ketua umum Bangladesh Bouddha Kristi Prachar Sangha (sebuah organisasi Buddhis) yang menggagas kegiatan ini percaya bahwa perikemanusiaan adalah tujuan akhir dari manusia.

Abul Basahr, seorang pemilik toko yang tinggal di daerah itu, mengatakan bahwa para bhikkhu di vihara tersebut terlibat dalam beberapa kegiatan kesejahteraan sosial.

“Hal terbaik yang mereka lakukan adalah membagikan makanan buka puasa kepada orang-orang miskin,” katanya seperti yang dilansir Al Jazeera, Sabtu (25/6/2016).

Bhikkhu Karuna salah seorang bhikkhu di vihara yang didirikan pada tahun 1951 tersebut, mengatakan vihara bekerja untuk keharmonisan dalam masyarakat.

Ia juga mengatakan kegiatan itu merupakan upaya untuk membangun hubungan baik dengan komunitas Muslim yang hampir 90 persen dari populasi Bangladesh. Sedangkan umat Buddhis sendiri berjumlah kurang dari satu persen dari 160 juta penduduk Bangladesh.

Harun Miah, pemilik restoran setempat, telah bekerja sama dengan pihak vihara selama lima tahun terakhir untuk memasak makanan berbuka puasa.

Ia mengatakan menu berbuka puasa yang disajikan terdiri dari perkedel kentang, peyaju (tempura bawang/bakwan bawang), beguni (tempura terung/terung goreng tepung), chhola-boot (kacang arab), khejur (kurma), muri (nasi kembung/bipang/jipang), dan jalebi/jilapi (gorengan manis yang terbuat dari tepung dan sirup gula), semuanya disajikan dalam sebuah kotak.

Kepala Vihara Dharmarajika, Y.M. Buddhapriya Mahathera mengatakan mereka menyajikan makanan pembuka puasa kepada sedikitnya 300 orang kurang mampu setiap harinya.

“Warga mulai membuat antrian dari pukul 15.00 dan seterusnya di dalam vihara,” katanya.

Bagi orang-orang seperti seorang wanita bernama Sakhina, yang tidak mampu melaksanakan iftar, makanan gratis di vihara merupakan anugerah.

“Di sini, kami diberikan penghargaan yang seharusnya kami dapatkan dari saudara seiman kami,” katanya kepada Al Jazeera.

Meskipun belakangan ini terjadi kekerasan di negara tersebut, para bhikkhu mengatakan mereka tidak khawatir tentang keselamatan mereka dan memiliki hubungan yang sangat baik dengan komunitas Muslim.

Y.M. Buddhapriya Mahathera, percaya pada kerukunan antar umat beragama mengatakan: “Kenapa harus ada konflik? Kita semua adalah warga Bangladesh. Tanah ini untuk kita semua. Dengan membantu satu sama lain, kita dapat membuat negara ini besar.”

Komunitas umat Buddhis tersebar di seluruh dunia termasuk di negara-negara mayoritas non-Buddhis, dan tidak jarang mereka diperlakukan secara diskriminatif dan mengalami kekerasan.

Namun meskipun demikian mereka tetap bersumbangsih dan setia pada negara alih-alih melakukan pemberontakan. Minim atau mungkin tidak ada sama sekali terdengar komunitas minoritas Buddhis melakukan pemberontakan untuk mendirikan sebuah negara Buddhis.[Bhagavant, 28/6/16, Sum]

Kata kunci:
Penulis: