Solidaritas Buddhis » Sosial

Buddhis Sejumlah Negara Lakukan Puja untuk Korban Bom Sri Lanka

Rabu, 24 April 2019

Bhagavant.com,
Bihar, India – Umat Buddhis di sejumlah negara melakukan puja untuk menghormati para korban ledakan bom yang terjadi di Sri Lanka pada Minggu (21/4/2019).

Puja untuk Korban Bom Sri Lanka

Para bhikkhu di Mahavihara Mahabodhi di Bodh Gaya, India melakukan sebuah puja bakti dan melakukan prosesi penyalaan lilin pada Minggu malam (21/4/2019) untuk para korban pemboman berantai yang terjadi pada pagi dan siang harinya di Sri Lanka.

“Banyak warga sipil terbunuh dalam serangan teroris di Sri Lanka. Saya pikir terorisme seharusnya tidak memiliki tempat di dunia ini. Puja ini adalah untuk kedamaian batin dari mereka yang meninggal dalam serangan itu,” kata seorang bhikkhu seperti yang dilansir ANI, Senin (22/4/2019).

Sementara itu, atas nama rakyat Bhutan, Raja Bhutan Jigme Khesar Namgyel Wangchuck dan Ratu Jetsun Pema melakukan puja bakti di Kuenrey (aula pertemuan) di Vihara Tashichhodzong dan mempersembahkan seribu lampu mentega untuk mengenang para korban pemboman di Sri Lanka. Perdana Menteri dan pejabat pemerintahan lainnya juga turut bergabung dalam puja bakti tersebut.

Bersamaan dengan puja bakti di Vihara Tashichhodzong, puja bakti khusus juga diadakan di vihara-vihara penting lainnya. Sangharaja (Je Khenpo) Bhutan, Y.M. Jigme Choedra memimpin puja bakti di Namdroling Goenzin Dratshang di Lhuentse.

Seribu lampu mentega dipersembahkan di Vihara Kyichu Lhakhang, di Distrik Paro. Dan di Simtokha Dzong, sebuah puja diadakan selama tiga hari.

Diaspora Buddhis Sri Lanka di Uni Emirat Arab membacakan sutta di Vihara Mahamevnawa di Jumeirah, Dubai, vihara satu-satunya di UEA.

Rubesh Pillai, seorang ekspatriat asal Sri Lanka yang merupakan sukarelawan yang membantu mengelola Vihara Mahamevnawa, menggarisbawahi: “Tidak peduli siapa para pembom itu atau siapa yang mereka klaim mewakilinya, kami memahami bahwa mereka tidak mewakili siapa pun kecuali diri mereka sendiri.”

Ada kesedihan di hati kami untuk para korban, untuk nyawa yang direnggut terlalu cepat, untuk masa depan yang belum terealisasi. Kami berduka dengan para penyintas karena bahkan satu kematian merupakan hal yang terlalu banyak,” tambahnya, seperti yang dilansir Khaleej Times, Selasa (23/4/2019).

Untuk memulai proses penyembuhan, Pillai mengatakan bahwa para umat di Vihara Mahamevnawa telah memutuskan untuk menyumbangkan dana untuk pembangunan kembali gereja-gereja yang dibom dan untuk membuat dana untuk sumbangan kepada keluarga-keluarga yang kehilangan orang yang dicintai atau menderita luka-luka.

Diaspora Buddhis Sri Lanka di Bahrain juga bergabung dalam doa lintas agama dan menyalakan lilin bersama.

Pada hari Minggu malam (21/4/2019), lebih dari 30 orang berkumpul di Vihara Minnesota di Minneapolis utara, Amerika Serikat untuk mengirimkan energi damai dan berkah kepada para korban ledakan bom di Sri Lanka.

Y.M. Witiyala Seewalie dan Y.M. Bisho Kirti Maharjan, dua bhikkhu yang berdomisili di vihara tersebut memimpin puja bakti peringatan.

“Kemarahan tidak pernah diredakan oleh kemarahan,” kata Y.M. Seewalie, seperti yang dilansir Star Tribune, Minggu (21/4/2019). “Ini bukan saat untuk menilai tetapi saat untuk bergandengan tangan dan memperluas pikiran, kata-kata dan tindakan yang penuh kasih kepada mereka yang membutuhkan dukungan penuh kasih.”

Untuk Piyumi Samaratunga, yang tumbuh di Sri Lanka dan sekarang tinggal di St. Louis Park, puj abakti ini memberikan ruang untuk bereaksi terhadap tragedi itu.

Buddhis di Vihara Minnesota di Minneapolis utara, Amerika Serikat, melakukan penyalaan lilin untuk para korban bom di Sri Lanka. Foto: Star Tribune

“Pada saat-saat ini, Anda merasa sangat tak berdaya dan sangat jauh,” katanya. Piyumi menghabiskan sebagian besar hari Minggu untuk berbicara dengan teman dan kerabat di Kolombo yang salah satunya mendengar suara bom dan awalnya mengira adalah petasan untuk merayakan Paskah.

Begitu banyak masyarakat Sri Lanka telah mendengar suara ledakan selama masa perang, kata Lucky Withanawasam, yang juga tumbuh di Sri Lanka.

“Tapi membom tempat ibadat melewati batas yang sama sekali berbeda,” katanya. “Itu hal yang tragis.”

Piyumi setuju. Dia seorang Buddhis tetapi ia ingat bagaimana ia menghadiri misa di St. Anthony’s Shrine, salah satu lokasi ledakan.

“Bagi kami di Sri Lanka, kami memiliki begitu banyak budaya keyakinan, kami adalah komunitas keyakinan yang saling berhubungan,” kata Piyumi.

Sementara itu, pemerintah Thailand dalam pernyataannya pada Senin (22/4/2019) bersama dunia internasional mengecam aksi kekerasan mengerikan di Sri Lanka.

Dalam pernyataannya itu Thailand menyampaikan simpati dan belasungkawa terdalamnya kepada para keluarga korban dan berharap yang terluka segera pulih.

Thailand bersama dalam solidaritas dengan pemerintah dan rakyat Sri Lanka di masa yang sulit dan tragis ini

“Kami tetap berkomitmen kuat untuk bekerja sama erat dengan Sri Lanka dan komunitas internasional untuk memerangi tindakan kekerasan yang tercela dalam segala bentuk dan manifestasinya,” kata pernyataan itu seperti yang dilansir Kedutaan Besar Thailand untuk Sri Lanka.

Setidaknya 359 korban tewas dan 500 terluka dalam tragedi bom bunuh diri di delapan tempat di Sri Lanka. Update: berdasarkan laporn pemerintah Sri Lanka, jumlah korban tewas adalah 258 orang.

Menurut pejabat pemerintah Sri Lanka, ketujuh pembom bunuh diri dalam serangan yang hampir bersamaan tersebut adalah warga negara Sri Lanka yang terkait dengan Jama’at Thowheeth Nasional, sebuah kelompok militan Islam lokal yang diduga berhubungan kelompok luar negeri. Kelompok Islam radikal ini sebelumnya dikenal karena serangan terhadap umat Buddhis dengan melakukan serangkaian vandalisme terhadap rupaka-rupaka Buddha.

Sampai saat berita ini diturunkan, investigasi lebih lanjut terkait tragedi ini sedang berlangsung. Sejumlah media internasional melaporkan adanya klaim oleh Negara Islam (ISIS) sebagai yang bertanggung jawab atas tragedi keji tersebut.[Bhagavant, 24/4/19, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: