Asia Tenggara » Seremonial

Presiden Obama Kunjungi Vihara Pho dan Stupa Shwedagon

Rabu, 21 November 2012

Bendera BuddhisBhagavant.com,
Asia Tenggara – Setelah terpilih kembali menjadi Presiden Amerika Serikat pada 7 November 2012, Barack Obama memulai politik luar negerinya dengan melakukan perjalanan pertamanya ke tiga negara berpenduduk mayoritas Buddhis di Asia Tenggara selama tiga hari, pada 18 – 20 November 2012.

Kunjungan pertama Obama dimulai dari Thailand pada Minggu, 18 November. Tempat yang pertama kali dikunjunginya setibanya di Negeri Gajah Putih adalah Maha Vihara Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwara (Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwara Mahaviharn) atau Vihara Pho (Wat Pho) yang lebih dikenal dengan nama Vihara Buddha Berbaring (Temple of the Reclining Buddha), di Bangkok.

Bersama dengan Sekretaris Negara Amerika Serikat, Hillary Rodham Clinton, Obama melakukan tur di kompleks vihara kerajaan tersebut dengan dipandu oleh asisten kepala vihara, Y.M. Bhikkhu Suthee Thammanuwat (Chao Khun Phra Suthee Thammanuwat).

Presiden Barack Obama dan Sekretaris Negara Hillary Rodham Clinton melihat rupaka Buddha Berbaring saat tur di Vihara Kerajaan Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwara (Wat Pho) bersama dengan asisten kepala vihara Y.M. Bhikkhu Suthee Thammanuwat di Bangkok, Thailand, 18 Nov. 2012. (AFP/Getty Images/Jewel Samad)
Presiden Barack Obama dan Sekretaris Negara Hillary Rodham Clinton melihat rupaka Buddha Berbaring saat tur di Vihara Kerajaan Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwara (Wat Pho) bersama dengan asisten kepala vihara Y.M. Bhikkhu Suthee Thammanuwat di Bangkok, Thailand, 18 Nov. 2012. (Foto: publicradio.org)

Chao Khun Suthee sempat memuji Obama mengenai sikapnya untuk memilih menggunakan sikap salam tradisi Thailand yaitu ‘wai’ yaitu sikap tangan beranjali dibandingkan dengan berjabat tangan.

Dalam laporan The Nation Thailand, Selasa (20/11), Chao Khun Suthee juga menjelaskan bahwa Obama dan Clinton sangat menghormati kebiasaan disana dengan melepas sepatu mereka sebelum memasuki ruang puja bakti dan area-area suci lainnya. Obama menjadi Presiden Amerika Serikat pertama yang mengunjungi vihara tersebut.

Sesuai dengan kebiasaan sebelum memasuki ruang dalam vihara, Obama melepas sepatunya dengan tetap mengenakan kaus kaki hitam, sedangkan Clinton tanpa alas kaki, memasuki ruangan puja bakti dengan rupang Buddha besar berlapis emas dalam posisi duduk dengan Bhumisparsa Mudra. Dengan berjalan mengitari rupang tersebut

Tidak beberapa lama, mereka menuju ke tempat dimana rupang/rupaka Buddha dalam posisi berbaring berada. Rupang semen bersepuh daun-daun emas dengan tatahan mutiara di kakinya, memiliki panjang 46 meter dan tinggi 15 meter. Meskipun bukan merupakan obyek utama ziarah di negara tersebut, rupang tersebut merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan karena ukurannya yang tidak biasa.

Suasana santai dan penuh canda membalut kunjungan Presiden AS ke-44 tersebut di Vihara Pho.

Suatu kesempatan Clinton bertanya kepada Chao Khun Suthee mengenai mengapa terdapat sebuah Rupang Buddha Berbaring, dan asisten kepala vihara tersebut menjawab bahwa rupang tersebut melambangkan kedamaian dan keberhasilan.

Dalam canda, Chao Khun Suthee mengatakan bahwa jika diperbolehkan oleh konstitusi AS untuk memilih presiden yang sama sebanyak tiga kali berturut-turut, maka Obama akan memenangi pemilihan presiden karena telah mengunjungi rupang Buddha berbaring.

Obama kemudian mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi presiden untuk ketiga kalinya karena ia ingin membesarkan anak-anaknya dan ia menunjuk ke arah Hillary Clinton dan mengatakan bahwa ia yang akan menjadi presiden selanjutnya. Mereka pun tertawa.

Tur dilanjutkan dengan mengunjungi serambi di kompleks vihara dimana terdapat sejumlah besar kumpulan stupa-stupa kecil berjumlah 71 buah yang dikenal dengan nama Phra Chedi Rai.

Di penghujung tur, Obama meminta para pejabat AS mencari suvenir dari vihara tersebut karena ingin memberikan beberapa kepada kedua puterinya. Obama memberikan sebuah pemberian dalam sebuah kotak besar dan tiga suvenir kaca dalam sebuah kotak sebagai sebuah pemberian dari Gedung Putih kepada Vihara Pho. Sedangkan pihak vihara memberikan sebuah buku mengenai Vihara Pho. Obama juga menandatangani buku tamu Vihara Pho.

Chao Khun Suthee sempat mempertanyakan kepada Obama mengenai apakah benar bahwa Obama pernah mengunjungi vihara tersebut saat masih muda. Obama menjawab dengan mengatakan bahwa hal itu hanya rumor namun ia memberi catatan bahwa ia tertarik dengan Buddhisme.

Pada kesempatan tersebut, Obama dan Hillary Clinton juga menemui kepala Vihara Pho, Y.M. Phra Thammapanyabodi yang telah berusia 96 tahun.

Kunjungan Obama ke Thailand dilanjutkan dengan bertemu Perdana Menteri wanita pertama Thailand, Yingluck Shinawatra, dan juga mengunjungi Raja Bhumibol Adulyadej yang sedang sakit di Rumah Sakit Siriraj, Bangkok.

Setelah kunjungan ke Thailand yang kurang dari 18 jam tersebut,Presiden Obama melanjutkan perjalanannya dengan berkunjung ke Birma (Myanmar) pada Senin, 19 November. Ia menjadi Presiden Amerika Serikat pertama yang mengunjungi Negeri Stupa Emas tersebut.

Kunjungan Obama ke Birma didahului dengan bertemu Presiden Thein Sein, di bekas Gedung Parlemen, di kotapraja Dagon, Rangoon (Yangon). Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi tokoh pro-demokrasi Birma serta peraih Penghargaan Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, di rumahnya di tepi danau dimana ia menghabiskan beberapa tahun sebagai tahanan rumah karena kegiatannya sebagai aktivis pro-demokrasi.

Berkaitan dengan permasalahan konflik komunal di Rakhine, Birma, Presiden Obama memberikan contoh keberagaman suku, agama dan ras di Amerika Serikat yang ia anggap menjadi sebuah kekuatan bagi negara tersebut, dan mengajak Birma untuk menerapkan hal yang sama.

“Setiap manusia di dalam perbatasan ini merupakan sebuah bagian dari kisah bangsa anda, dan anda harus merangkulnya. Hal itu bukanlah sebuah sumber kelemahan, itu adalah sebuah sumber kekuatan,” demikian kata Obama pada pidatonya di Universitas Yangon, Ragoon, Birma. Namun kemudian waktu pidato tersebut menuai kritikan dari beberapa kalangan di Birma yang menganggap Obama telah bersikap arogan dan tidak tahu sejarah Birma karena menggunakan istilah ‘Rohingya’ untuk para imigran Bengali di Rakhine yang dalam sejarah Birma tidak mengenal istilah ‘Rohingya’ dan hanya ada baru belakangan ini.

Dengan bertelanjang kaki Presiden Obama,Sekretaris Negara AS Hillary Clinton melakukan tur tak terencana ke Stupa Shwedagon, Rangoon, Birma, 19 Nov. 2012. (Foto: dfb8888.net)
Dengan bertelanjang kaki Presiden Obama,Sekretaris Negara AS Hillary Clinton melakukan tur tak terencana ke Stupa Shwedagon, Rangoon, Birma, 19 Nov. 2012. (Foto: dfb8888.net)

Hal menarik dari kunjungan Obama ke Birma adalah kunjungannya yang tanpa rencana ke Stupa Emas Suci Dagon (Shwedagon Zedi Daw) yang lebih dikenal dengan nama Stupa Shwedagon (Pagoda Shwedagon) saat hendak meninggalkan Birma menuju Kamboja.

Pada menit-menit terakhir kunjungan enam jamnya di Birma, Presiden berusia 51 tahun tersebut meminta untuk berhenti dan mengunjungi Stupa Shwedagon yang berusia 2000 tahun lebih yang menjadi ciri khas dari negara tersebut.

Seperti yang dilaporkan oleh The Huffington Pos, Senin (19/11), Deputi penasihat keamanan nasional AS, Ben Rhodes mengatakan bahwa Presiden Obama tergerak oleh kerumunan orang yang berbaris di jalan-jalan untuk menyambutnya saat kunjungan tersebut. Obama melakukan sebuah perhentian tanpa rencana di Stupa Shwedagon. Setelah melihat stupa tersebut saat Air Force One mendekati Rangoon, kemudian melihat banyaknya dukungan para warga terhadap situs yang memiliki banyak arti bagi mereka, Obama secara pribadi memutuskan untuk melakukan perhentian tanpa rencana.

Obama dan Hillary Clinton serta para petugas keamanan dan agen dinas rahasia berjalan tanpa alas kaki saat mereka dipandu melakukan tur menelusuri beberapa bagian dari kompleks Stupa Shwedagon.

Dalam tur keliling kompleks stupa emas tersebut, Obama berhenti di sebuah stupa kecil untuk melakukan sebuah tradisi ritual memberikan sebuah buket bunga kepada rupang putih Bodhisatta Siddhattha dan menuangkan air ke atas rupang tersebut.

Setelah melihat keindahan kompleks Stupa Shwedagon yang saat itu sedang mengalami renovasi pad beberapa bagian area, Barack Obama mengakhiri kunjungannya di Birma dan untuk selanjutnya bertolak ke Kamboja untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur, pada Selasa, 20 November. Dan lagi, ia mencetak sejarah dengan menjadi Presiden AS pertama yang mengunjungi negara tersebut.[Bhagavant, 21/11/12, Sum]

Kata kunci: , ,
Penulis: