Amerika » Amerika Serikat » Seremonial » Tradisi dan Budaya

Hari Natal di Vihara Abhayagiri

Selasa, 27 Desember 2011

Buddhisme di Amerika SerikatBhagavant.com,
California, Amerika Serikat – Setiap tanggal 25 Desember, mayoritas umat Kristiani di seluruh dunia merayakan hari Natal, hari yang disepakati bersama sebagai hari kelahiran Yesus Kristus yang dipercaya sebagai tuhan dalam kepercayaan Kristen.

Dan setiap menjelang Natal, kehadiran pohon Natal atau pohon terang telah menjadi sebuah tradisi tersendiri bagi kalangan umat Kristiani dan menjadi sesuatu lang umum. Namun bagaimana jika pohon Natal itu berada dalam sebuah vihara?

Di Vihara Abhayagiri (Gunung Ketakgentaran) di Redwood Valley, California yang berjarak sekitar 21 km di utara kota Ukiah, sekitar tiga jam dari San Francisco, terdapat sebuah pohon Natal kecil berdiri dekat rupang Sang Buddha.

“Biasanya kami hanya memiliki bunga, dupa dan lilin, tapi sekarang kami memiliki sebuah pohon Natal kecil. Sangat mungil,” kata Ajahn Yatiko, seorang bhikkhu yang tinggal di vihara tersebut.

“Ini lebih lepada sebuah tradisi, menghormati dan menghargai budaya dimana kita hidup,” jelas Ajahn Yatiko seperti yang dikutip Bhagavant.com dari CNN (24/12).

Ajahn Yatiko yang aslinya berasal dari Kanada tersebut mengatakan bahwa selama masa liburan Natal, bhikkhu senior dapat memberikan ceramah yang isinya dapat berupa perbandingan agama.

“Bhikkhu senior mungkin memberikan sebuah ceramah kepada umat awam yang mungkin menarik kesamaan antara keyakinan Kristen dan keyakinan Buddhis, serta perbedaannya, karena saya pikir keduanya merupakan aspek penting dari keharmonisan antar agama,” kata Ajahn Yatiko.

“Kadang kala di Barat hari-hari ini ada semacam kecenderungan untuk mengumpulkan semua agama secara bersamaan dan mengatakan, ‘Kami semua mendaki gunung yang sama,’ dan saya pikir terdapat maksud yang baik di sana. Namun saya pikir lebih baik mengatakan, ‘Marilah menghormati perbedaan dan cinta dan menghargai perbedaan dari keyakinan lain‘,” jelas Ajahn Yatiko.

Bagi para bhikkhu di Vihara Abhayagiri, kehidupan mereka dihabiskan dalam meditasi, komunitas, keselibatan dan bertugas. Mereka mempraktikkan Buddhisme tradisi Theravada yang berafiliasi pada tradisi Hutan dari Thailand. Dalam keyakinan tradisi Theravada, para bhikkhu tidak diperkenankan mengelola uang, menanam bahan makanan sendiri untuk dimakan atau dijual, dengan demikian secara keseluruhan kehidupan mereka bergantung kepada kedermawanan orang lain.

Setiap setengah bulan, sekitar sekali dalam seminggu, para bhikkhu di Vihara Abhayagiri pergi ke kota untuk melakukan pindapatta, dimana mereka berjalan berkeliling mengenakan jubah berwarna safron dengan mangkuk makanan untuk mengumpulkan dana berupa makanan.

Para bhikkhu juga melakukan pelatihan diri atau puasa yang disebut dengan hari Uposatha pada setiap awal bulan baru, bulan purnama, dan pada seperempat bulan setelah awal bulan dan seperempat bulan sebelum akhir bulan pada penanggalan bulan. Hari Uposatha pada bulan Desember tahun ini jatuh pada malam Natal.

“Setiap orang yang kami lihat hendak mengucapkan kita selamat hari Natal, dan kami akan melakukan hal yang sama,” kata Ajahn Yatiko beberapa hari sebelum Natal.

“Kami tidak bersentuhan dengan uang dan hidup dengan gaya hidup yang sangat sederhana, jadi tradisi Natal berupa menukar hadiah tidak sesuai bagi kami,” jelasnya.

Namun para umat Buddha terpanggil untuk hidup dengan kedermawanan di setiap kesempatan, baik itu dalam hal-hal materi ataupun spiritual, jadi pada waktu Natal para bhikkhu satu gunduk kayu bakar dan sekeranjang buah untuk diberikan kepada tetangga mereka di sebuah biara Katolik Ukraina.

Vihara Abhayagiri merupakan vihara pertama di Amerika Serikat yang didirikan oleh para siswa Ajahn Chah yang di antaranya adalah Ajahn Sumedho. Area awal vihara tersebut merupakan pemberian dari Y.M. Hsuan Hua, seorang Master Zen pendiri Vihara Wan Fo Sheng Cheng atau Kota Sepuluh Ribu Buddha, sebelum beliau mangkat pada tahun 1995.[Bhagavant, 27/12/11, Sum]

Kata kunci:
Penulis: