Tiongkok

Terkait Skandal, Kepala Vihara Shaolin Dilepasjubahkan

Bhagavant,com,
Beijing, Tiongkok – Dunia Buddhis kembali diguncang skandal besar yang menimpa tokoh viharawan yang seharusnya menjadi panutan. Kini menimpa komunitas Buddhis di Tiongkok.

Shi Yongxin, mantan kepala Vihara Shaolin Henan, Tiongkok. Foto: france24.com

Setelah skandal besar yang terjadi di Thailand baru-baru ini yang melibatkan oknum-oknum bhikkhu yang melakukan perilaku yang menyimpang dari vinaya (peraturan kebhikkhuan), kini skandal yang hampir sama juga menimpa komunitas Buddhis di Tiongkok.

Kepala Vihara Shaolin yang terkemuka di Tiongkok telah resmi dicopot dari jabatannya karena diduga terkait skandal pelanggaran finansial dan asusila.

Shi Yongxin, yang menjabat sebagai kepala Vihara Shaolin yang telah berdiri selama 1.500 tahun, secara resmi dicopot dari jabatannya sebagai kepala vihara di tengah penyelidikan pidana atas dugaan penyalahgunaan keuangan dan pelanggaran terhadap ajaran Buddha, termasuk hubungan asusila serta memiliki anak.

“Tindakan Shi Yongxin bersifat sangat tercela dan telah merusak reputasi komunitas Buddhis serta mencoreng citra para bhiksu,” demikian penyataan Asosiasi Buddhis Tiongkok yang mengonfirmasi keputusan tersebut pada 22 Juli 2025, seperti yang dilansir Washington Post, Senin (28/7/2025)

Asosiasi Buddhis Tiongkok tersebut menyatakan pihaknya setuju untuk mencabut sertifikat penahbisan Shi Yongxin setelah menerima surat pelepasan jubah dari Asosiasi Buddhis Tiongkok di provinsi Henan, tempat vihara tersebut berada.

Shi Yongxin, yang oleh media-media Tiongkok sering dijuluki sebagai “bhiksu CEO”, mulai dikenal secara luas baik di dalam maupun luar negeri setelah diangkat sebagai kepala Vihara Shaolin pada tahun 1999. Di bawah kepemimpinannya, viharatersebut memperluas pengaruh globalnya sebagai pusat ajaran Chan (Zen) dan seni bela diri Tiongkok, melalui berbagai kemitraan budaya dan bisnis internasional di lebih dari 40 negara.

Pengumuman pencopotan Shi muncul setelah adanya konfirmasi dari aparat penegak hukum serta berbagai lembaga resmi, termasuk Asosiasi Buddhis Provinsi Henan, tempat Vihara Shaolin berada. Media pemerintah melaporkan bahwa Shi telah ditahan oleh polisi di Xinxiang, Henan, pada pekan lalu, meskipun dakwaan resmi belum diumumkan.

Menurut pernyataan dari Asosiasi Buddhis Tiongkok, Shi sedang diselidiki atas tuduhan penggelapan dan penyalahgunaan dana serta aset milik vihara. Dalam pernyataan yang sama juga disebutkan bahwa Shi melanggar prinsip dasar kehidupan keviharaan dengan menjalin beberapa hubungan jangka panjang dengan wanita dan memiliki anak dari hubungan tersebut.

Tindakan tersebut, menurut Asosiasi Buddhis Tiongkok, merupakan pelanggaran berat terhadap disiplin Budddhis: “Ia juga secara serius melanggar sila-sila Buddhis dengan menjalin hubungan tak pantas dengan beberapa wanita selama waktu yang lama dan memiliki anak tidak sah dengan mereka.”

Vihara Shaolin sendiri mengonfirmasi adanya penyelidikan ini dalam pernyataan singkat, namun menolak memberikan komentar lebih lanjut.

Kasus ini menandai kejatuhan drastis dari salah satu tokoh agama paling dikenal di Tiongkok.

“Penyelidikan terhadap Shi Yongxin jelas merupakan kasus korupsi paling menggemparkan yang pernah terjadi di sebuah kuil Buddhis dalam beberapa tahun terakhir,” tulis Hu Xijin, mantan redaktur surat kabar Global Times, di platform media sosial Weibo.

Selama masa jabatannya sebagai kepala vihara, Shi menggabungkan praktik spiritual dengan ekspansi komersial, menjadikan Vihara Shaolin sebagai merek global. Langkah ini mencakup kerja sama lisensi, pariwisata, hingga pendirian pusat budaya di luar negeri.

Usahanya menuai pujian sekaligus kritik—dipuji karena memodernisasi ajaran Buddha dan menyebarkan budaya Tiongkok ke dunia, namun dikritik oleh sebagian pihak yang melihatnya sebagai komersialisasi yang bertentangan dengan nilai-nilai keviharaan.[Bahgavant, 3/8/25, Sum]

Rekomendasikan: