Asia Tenggara

Berikut Pesan Waisak 2566 Sangha Theravada Indonesia

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Apa yang menjadi Pesan Waisak 2566 Era Buddhis / 2022 dari Sangha Theravada Indonesia (STI)? Dan tema Waisak yang diangkat?

Berikut Pesan Waisak 2566 Sangha Theravada Indonesia

Adalah hak setiap orang untuk meyakini agamanya yang dianut sebagai agama yang terbaik dan paling benar. Tetapi ketika keyakinannya itu (keyakinan bahwa agamanya adalah yang terbaik) justru menimbulkan primordialisme (sikap berlebihan), ketidaksukaan, kebencian, antipati terhadap agama orang lain yang berbeda sehingga ada keinginan untuk mengubah bahkan menghancurkannya dengan cara halus hingga keras dan ekstrem (seperti membunuh), inilah yang memunculkan permasalahan besar seperti intoleransi, ekstremisme hingga teroris berkedok agama.

Permasalahan besar itulah yang belakangan ini banyak menghinggapi umat beragama di dunia termasuk di Indonesia. Ada sejumlah umat beragama yang jsutru melakukan tindakan kekerasan atas nama agamanya, mereka melakukan kekerasan, membakar milik orang lain sambil meneriakkan nama tuhannya atau mengumandangkan ayat-ayat agamanya.

Terkait masalah ekstrem dan intoleransi dalam beragama tersebut yang berkembang dewasa ini, Saṅgha Theravāda Indonesia (STI) memberikan wejangannya dalam pesan Waisak 2566/2022 dan mengangkat tema Trisuci Waisak 2566/2022 yaitu Moderasi Beragama Membangun Kedamaian.

“Moderasi beragama sangat tepat diterapkan di tengah kehidupan dewasa ini, agar memberi kesempatan bagi umat Buddha dan umat beragama lain untuk melaksanakan agama masing-masing dengan sikap saling bertoleransi, sehingga terbangunlah kedamaian hidup antar umat beragama di Indonesia,” papar pesan yang ditandatangani oleh Y.M. Sri Subhapañño Mahāthera sebagai Ketua Umum (Saṅghanāyaka) STI.

Apa itu moderasi beragama?

Moderasi beragama berasal dari kata “moderasi” yaitu pengurangan kekerasan atau penghindaran keekstreman; dan kata “beragama” yaitu menganut (memeluk agama). Maka secara harfiah, moderasi beragama adalah menganut agama dengan menghindari keestreman.

Lengkapnya, moderasi beragama adalah sikap seseorang dalam menganut agama yang menghindari pemahaman dan pengamalan ajaran agamanya secara ekstem kanan (pemahaman agama yang sangat kaku) maupun ekstrem kiri (pemahaman agama yang sangat liberal/bebas) terhadap orang lain dan lingkungannya.

STI mengatakan bahwa moderasi beragama merupakan ‘jalan bijak’ memadukan cinta kasih dan kasih sayang serta pemahanan agama lebih terbuka terhadap perkembangan kehidupan dewasa ini, sehingga moderasi beragama dapat menjauhkan sikap ekstrem bahkan pemikiran primordialisme dan intoleransi terhadap perbedaan.

STI juga mendorong umat Buddha untuk melaksanakan moderasi beragama dengan menerapkan cinta kasih dan kasih sayang disertai kebijaksanaan, kesusilaan (moral), dan keteguhan pikiran (meditasi), agar kotoran pikiran dapat dikurangi bahkan dilenyapkan sehingga terbangunlah kedamaian masyarakat di Indonesia.

Berikut selengkapnya pesan Waisak 2566/2022 dari STI.

Pesan Waisak 2566/2022
SAṄGHA THERAVĀDA INDONESIA

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa

Maggānaṭṭhaṅgiko seṭṭho
saccānaṃ caturo padā
virāgo seṭṭho dhammānaṃ
dipadānañca cakkhumā.

Di antara banyak jalan,
jalan ariya berunsur delapan adalah terunggul.
Di antara banyak kata kebenaran,
empat kata kebenaran adalah terunggul.
Di antara banyak keberadaan,
keberadaan bebas dari nafsu ragawi
adalah terunggul.
Dan, di antara banyak manusia,
sang penglihat adalah terunggul.
(Dhammapada, 273)

Hari Trisuci Waisak mengingatkan kita pada tiga peristiwa suci yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu: kelahiran, pencerahan dan kemangkatan. Tiga peristiwa suci itu terjadi pada hari yang sama, dengan tahun berbeda, yaitu hari purnama raya di bulan Waisak. Kelahiran calon Buddha 623 SM, di Taman Lumbini, Kāpilavatthu, Nepal. Pencerahan Sempurna tahun 588 SM, di bawah Pohon Bodhi, Bodhgaya, India. Dan, Kemangkatan Buddha tahun 543 SM pada usia 80 tahun di Kusinārā, India. Hari Trisuci Waisak 2566 tahun ini jatuh pada tanggal 16 Mei 2022. Umat Buddha di Indonesia dan seluruh dunia merayakan hari Trisuci Waisak, dengan penuh keyakinan untuk menghayati ajaran kebenaran Dhamma sebagai landasan penuntun hidup benar.

Saṅgha Theravāda Indonesia mengangkat tema Trisuci Waisak 2566/2022: Moderasi Beragama Membangun Kedamaian. Moderasi beragama sangat tepat diterapkan di tengah kehidupan dewasa ini, agar memberi kesempatan bagi umat Buddha dan umat beragama lain untuk melaksanakan agama masing-masing dengan sikap saling bertoleransi, sehingga terbangunlah kedamaian hidup antar umat beragama di Indonesia.

Nilai Kemanusiaan dan Keseimbangan Pemahaman

Moderasi beragama menjadi kebutuhan untuk menemukan persamaan dalam perbedaan dan bukan mempertajam perbedaan dengan bersikap eksklusif. Moderasi beragama menjunjung nilai kemanusiaan dan menghadirkan keseimbangan pemahaman agama di tengah masyarakat.

Nilai kemanusiaan terdapat pada penerapan cinta kasih dan kasih sayang, dengan cara mengharap serta melakukan tindakan-tindakan yang mengarah pada kehidupan manusia yang bersahabat. Kekerasan, ketakutan, penindasan, bahkan pembunuhan tidak mencerminkan penerapan cinta kasih dan kasih sayang. Sebaliknya kekerasan dapat menimbulkan konflik, ketegangan dan permusuhan sesama. Kekerasan bermula dari dorongan kebencian yang tak terkendali, memunculkan sikap ingin menguasai ataupun meniadakan yang lainya. Bukan hanya terarah kepada individu, tetapi dapat pula ditujukan pada kelompok tertentu.

Keseimbangan pemahaman agama memerlukan keluasan wawasan berpikir sehingga mampu memahami agama sesuai dengan konteks sejarah maupun perkembangan zaman. Konteks sejarah akan menghargai agama sesuai dengan tradisi dan budaya pada saat itu, sedangkan konteks perkembangan zaman akan menghargai berbagai aspek kehidupan yang dibutuhkan pada zamannya, apakah aspek politik, ekonomi, sosial, budaya bahkan sains dan teknologi yang terus berkembang. Karena itu keseimbangan menerapkan agama memerlukan landasan maknawi agama yang menjadi pedoman utama bagi umat beragama. Landasan maknawi agama diperoleh dari sejauh mana umat beragama memahami esensi pandangan pendiri agamanya yang terdapat pada teks agama.

Moderasi beragama sebagai ‘jalan bijak’ memadukan cinta kasih dan kasih sayang serta pemahanan agama lebih terbuka terhadap perkembangan kehidupan dewasa ini, sehingga moderasi beragama dapat menjauhkan sikap ekstrem bahkan pemikiran primordialisme dan intoleransi terhadap perbedaan.

Moderasi beragama sebenarnya, telah lama menjadi aspek penting dalam membangun peradaban manusia di tanah air kita sejak dahulu kala. Pada masa Kerajaan Medang (Mataram Kuno) terdapat kehidupan beragama yang harmonis, meskipun ada perbedaan agama di tengah masyarakat. Raja Wangsa Syailendra membangun candi-candi Buddhis, sedangkan raja Wangsa Sanjaya mendirikan banyak candi Hindu. Candi-candi itu terletak berdampingan satu sama lain, masing-masing penganut agama beribadah dengan leluasa dan saling menghargai. Candi Buddhis terkenal, Borobudur telah ditetapkan sebagai tempat ibadah umat Buddha Indonesia dan dunia. Pernikahan penganut beda agama sudah lazim terjadi, Raja Rakai Pikatan beragama Hindu mempersunting Ratu  Pramodawardhani, puteri Raja Samaratungga, beragama Buddha. Dengan dasar kecintaan terhadap istrinya, Rakai Pikatan mendirikan Jinamandira Candi Plaosan, yang bercirikan Buddhis.

Guru Agung Buddha mengajarkan kehidupan berimbang dengan prinsip jalan tengah atau jalan madya. Prinsip jalan tengah menghindari dua cara hidup ekstrem, yaitu: mengikuti hasrat kesenangan indra dan mengikuti praktik penyiksaan diri. Ibarat menarik senar gitar terlalu kencang atau memasang terlalu kendur, sama-sama tidak menghasilkan suara yang indah, karena itu buatlah senar gitar sedang-sedang, supaya menimbulkan suara merdu dan dapat didengar dengan menyenangkan. Hidup berimbang itu diujudkan dengan pengembangan kebijaksanaan, kesusilaan (moral), dan keteguhan pikiran (meditasi) Buddhis.

Membangun Kedamaian

Kedamaian hendaknya dibangun dari diri sendiri terlebih dahulu, kemudian diterapkan ke luar diri. Kedamaian diri sendiri muncul karena telah berkurangnya bahkan lenyapnya kotoran pikiran seperti keserakahan, kebencian dan ketidak-bijaksanaan. Saat batin masih dikuasai oleh kotoran pikiran, maka berbagai bentuk perilaku kekerasan, ekstrem, primordialisme bahkan intoleransi akan tumbuh berkembang.

Guru Agung Buddha berpesan bahwa para bijaksanawan terkendali perbuatan, ucapan, dan pikirannya, sesungguhnya mereka itu benar-benar telah dapat menguasai dirinya. Pada kesempatan lain Guru Agung Buddha mengatakan bijaksanawan tidak berbuat jahat demi kepentingannya sendiri ataupun orang lain, demikian pula ia tidak menginginkan anak, kekayaan, pangkat atau keberhasilan dengan cara tidak benar. Orang seperti itulah yang sebenarnya luhur, bijaksana, dan berbudi.

Marilah umat Buddha sekalian melaksanakan moderasi beragama dengan menerapkan cinta kasih dan kasih sayang disertai kebijak-sanaan, kesusilaan (moral), dan keteguhan pikiran (meditasi), agar kotoran pikiran dapat dikurangi bahkan dilenyapkan sehingga terbangunlah kedamaian masyarakat di Indonesia.

Satu hal yang perlu diperhatikan bagi kehidupan beragama adalah menjauhi sikap intoleransi yang merusak sendi-sendi persaudaraan antar manusia maupun bangsa. Sesuai amanat Bapak Presiden Joko Widodo pada saat ritual penyatuan tanah dan air yang dilakukan di IKN Nusantara, penyatuan tanah dan air melambangkan kerukunan, persatuan dan kesatuan tanah air, untuk tetap menjadi bangsa yang kokoh dalam persaudaraan, agar memiliki daya juang yang kuat untuk membangun peradaban baru demi kejayaan bangsa.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi.

Selamat Hari Trisuci Waisak 2566/2022.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Jakarta, 16 Mei 2022
SAṄGHA THERAVĀDA INDONESIA
ttd.
Bhikkhu Sri Subhapañño, Mahāthera
Ketua Umum / Saṅghanāyaka

[Bhagavant, 9/5/22, Sum]


Kategori: Asia Tenggara
Kata kunci: , , ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN BERITA INI: