Asia Tenggara » Tradisi dan Budaya

Wabah Corona, Bolehkah Buddhis Rayakan Cheng Beng di Rumah?

Jumat, 3 April 2020

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Wabah virus corona membawa dampak bagi perayaan Cheng Beng khususnya kunjungan ke makam. Bagi Buddhis, bolehkah dan bisakah merayakan Cheng Beng di rumah saja?

Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan wabah COVID-19 membuat banyak negara melakukan upaya pencegahan penyebarannya. Di antara cara pencegahannya adalah dengan social distancing atau menjaga jarak antara individu, dan diam di rumah (isolasi diri) serta tidak berada di keramaian dan di tempat-tempat yang berisiko terpapar virus tersebut.

Kebijakan jaga jarak dan diam di rumah membawa dampak bagi perayaan Cheng Beng yang dirayakan etnis Tionghoa khususnya terhadap tradisi ziarah kubur dengan mengunjungi dan membersihkan makam mendiang orang tua atau leluhur.

Sejumlah umat Buddhis etnis Tionghoa yang juga merayakan Cheng Beng dan menjalankan tradisi mengunjungi dan membersihkan makam tentu menjadi bingung mengenai hal ini. Apakah harus tetap mengunjungi makam sebagai penghormatan kepada leluhur agar tidak dianggap durhaka, atau justru tinggal di rumah dengan melanggar tradisi Cheng Beng?

Sebelum menjawab kebingungan tersebut, ada baiknya kita memahami apa itu Cheng Beng dan apa inti dari merayakannya.

Cheng Beng bukan berawal dan bukan tradisi dari Agama Buddha. Cheng Beng (清明 – qingming) yang berarti cerah dan terang merupakan perayaan mengenang dan menghormati mendiang orang tua atau leluhur yang diadopsi dan didorong Kaisar Xuanzong dari Dinasti Tang (685-762), Tiongkok, dari perayaan Hanzi (寒食) untuk mengenang pejabat Jie Zitui (abad ke-7 SM) dari Dinasti Zhou.

Perayaan Cheng Beng dilakukan tepat pada saat posisi Matahari (jieqi) berada di posisi ke-5 dari 24 posisi dalam kalendar Asia Timur, yaitu pada tanggal 4 atau 5 April penanggalan Masehi. Posisi ke-5 dari 24 posisi Matahari tersebut di sebut Qingming. Dan kondisi cuaca saat itu dianggap berada dalam kondisi paling cerah (qing) dan terang (ming) dibanding dengan hari lainnya dalam setahun.

Lalu apa inti dari perayaan Cheng Beng itu sendiri? Baik dari awal terbentuknya Cheng Beng dan kemudian diadopsi Kaisar Xuanzong, inti dari perayaan Cheng Beng adalah menghormati mereka yang telah meninggal yang dianggap berjasa.

Orang tua, kakek dan nenek, serta leluhur lainnya merupakan orang yang dianggap berjasa bagi keluarga. Dan perilaku bakti kepada orang tua bagi etnis Tionghoa merupakan hal yang dijunjung tinggi. Itulah mengapa dalam perayaan Cheng Beng, mendiang orang tua dan para leluhur menjadi hal yang diutamakan saat diadopsi Kaisar Xuanzong.

Perilaku bakti yang menjadi inti perayaan Cheng Beng tentu saja tidak bertentangan dengan ajaran Agama Buddha yang juga mengajarkan bakti kepada orang tua. Untuk itu, Agama Buddha tidak pernah melarang umat Buddhis etnis Tionghoa untuk merayakan Cheng Beng.

Namun, meskipun demikian, Agama Buddha tetap mencermati dan berusaha mengoreksi dan memberikan nilai tambah dari tradisi Cheng Beng ini. Umat Buddhis juga diberikan alternatif lain untuk merayakan Cheng Beng tanpa merusak inti dari perayaan itu yaitu berbakti.

Dari alternatif cara merayakan Cheng Beng, tempat untuk mengenang dan menghormati mendiang leluhur dapat dilakukan kapan dan di mana saja.

Bagi umat Buddhis seharusnya tidak menjadikan masalah kapan melakukan ziarah kubur dan membersihkan makam, karena hari terbaik bisa kapan saja saat ia siap melakukannya.

Ketika ia tidak memiliki makam leluhur untuk dikunjungi karena jasad mendiang dikremasi, ia dapat mengunjungi rumah abu dan membersihkan tempat menyimpan sisa perabuannya.

Dan ketika tidak memungkinkan untuk berziarah kubur karena adanya kebijakan diam di rumah, umat Buddhis dapat mengenang mendiang leluhur dalam batin dan melakukan persembahyangan di rumah, karena sekali lagi inti dari perayaan Cheng Beng adalah mengenang dan menghormati leluhur bukan membersihkan makam.

Umat Buddhis tidak akan menjadi anak yang dianggap durhaka karena tidak mengunjungi dan membersihkan makam leluhur hanya sekali atau dua kali karena kondisi yang tidak memungkinkan. Umat Buddhis menjadi durkaha ketika ia tidak menjaga nama baik keluarga dan leluhurnya dengan melakukan perbuatan yang tidak baik.

Lagi pula, leluhur yang baik yang mana yang mau anak-cucunya menderita sakit dan menyebarkan penyakit COVID-19 kepada orang lain? Bukankah leluhur yang baik mengharapkan semua generasinya dalam keadaan sehat dan píng’ān?

Jadi jawabannya jelas, ya, umat Buddhis boleh dan bisa merayakan dan bersembahyang Cheng Beng di rumah.[Bhagavant, 3/4/20, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN: