Amerika » Amerika Serikat

Berkembangnya Komunitas Unik Buddhis Latin di AS

Bhagavant.com,
California, Amerika Serikat – Seorang bhikkhu etnis Mesiko Amerika mendobrak hambatan bahasa dan budaya untuk menyambut umat baru di Los Angeles, Amerika Serikat.

Berkembangnya Komunitas Unik Buddhis Latin di AS
Vihara Sarathchandra (Sarathchandra Buddhist Center). Foto: Google

Ketika Y.M. Sanathavihari ditahbiskan sebagai bhikkhu delapan tahun lalu, saat itu adalah pengalaman yang sepi. Sebagai seorang pemuda Meksiko Amerika yang dibesarkan sebagai Katolik di Koreatown Los Angeles, ia tidak mengenal banyak bhikkhu lain yang bisa ia kenal.

Namun sejak itu, ia membantu membangun komunitas Buddhis Latin yang berkembang di Sarathchandra Buddhist Center di Hollywood Utara, sebuah vihara yang didirikan oleh warga Amerika keturunan Sri Lanka. Vihara itu sekarang memiliki dua bhikkhu etnis Latin dan satu lagi dalam pelatihan – jumlah ini dianggap yang paling banyak di vihara mana pun di LA – serta semakin banyak orang awam etnis Latin yang membantu mempertahankan kehidupan vihara tersebut.

Y.M. Sanathavihari mengatakan perubahan ini dapat mewakili titik balik nyata bagi komunitas yang sering menghadapi hambatan bahasa dan budaya ketika mencoba mempelajari Agama Buddha.

“Potensi dan keterbukaan Agama Buddha untuk diintegrasikan sepenuhnya ke dalam budaya Latin di California selatan mulai terjadi,” kata Y.M. Sanathavihari, yang berusia 37, seperti yang dilansir The Guardian, Jumat (15/4/2022).

“Jadi, Agama Buddha bukan menjadi sesuatu yang asing, atau lainnya, atau fetish – Tentu saja, ini hanyalah seperti sesuatu yang dilakukan orang Latin, mereka bisa menjadi Kristen, Katolik, Buddhis atau apa pun.’”

Y.M. Sanathavihari, yang menghabiskan sembilan tahun di angkatan udara sebelum ditahbiskan pada usia 29 tahun dalam tradisi Theravada mengatakan ia bercita-cita untuk membuat Agama Buddha lebih mudah diakses. Sebelum pandemi memindahkan semuanya secara online, ia mendirikan Casa de Bhavana, komunitas virtual global Buddhis Latin dengan sumber daya – termasuk video meditasi, terjemahan, dan penjelasan tentang praktik dan ajaran Buddhis – dalam bahasa Spanyol. Ia bahkan menjadi tuan rumah beberapa retret di Meksiko dan baru-baru ini membantu membuka pusat Buddhis di Kepulauan Canary di Spanyol.

Dalam tatap muka di vihara, ia berbicara dengan para umat dalam bahasa Spanyol dan memberikan nasihat kepada warga Latin yang mungkin lebih dekat kepadanya daripada para bhikkhu Sri Lanka. Ia juga mencoba memicu rasa ingin tahu dengan berjalan di sekitar lingkungan dan naik bus dan kereta api dengan jubahnya. Pendatang baru ke vihara tersebut biasanya menemukan vihara tersebut dari mulut ke mulut.

“Saya tidak berkhotbah. Saya tidak mencoba untuk mengubah orang,” kata Y.M. Sanathavihari. “Tetapi saya ingin meningkatkan visibilitas untuk memberi tahu masyarakat bahwa kami ada di sini, bahwa Agama Buddha dalam bahasa Spanyol ada di sini.”

Tidak jelas berapa banyak umat Buddhis Latin di Amerika Serikat. Pew Research Center memperkirakan bahwa pada tahun 2014, 12% umat Buddhis di AS adalah warga Latin, berdasarkan survei terhadap hanya 262 orang. Yang lebih tidak jelas adalah apakah – atau sampai sejauh mana – jumlah umat Buddhis Latin telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Tapi bukti anekdotal menunjukkan adanya gelombang minat baru.

Y.M. Sanathavihari
Y.M. Sanathavihari. Foto: Youtube

Y.M. Sanathavihari mengatakan sebagian besar anggota baru vihara adalah warga Latin muda, dan bahwa mereka lebih terlibat dalam aspek komunal dan ritual kehidupan vihara. “Sebelumnya, ketika warga Latin datang, mereka akan tinggal untuk belajar meditasi dan hanya itu,” katanya. “Tetapi sekarang mereka ingin menjadi bagian darinya dan berkontribusi di dalamnya dan mengambil peran sebagai Buddhis Asia tradisional di komunitas tersebut.”

Diana Herrera, 31, mengatakan dia tertarik pada Agama Buddha bertahun-tahun yang lalu tetapi menghindari vihara karena ia merasa tidak pada tempatnya dan tidak dapat berkomunikasi dengan bhikkhu lainnya. Namun, ia tidak mengalami ini di Vihara Sarathchandra, dan mulai berkomunikasi secara teratur sekitar tiga tahun lalu. Ia sekarang menghadiri sesi meditasi dan belajar mingguan, baru-baru ini mengorganisir gerakan berkesadaran penuh dan membantu para bhikkhu dengan membawakan mereka barang-barang yang mereka butuhkan dan membersihkan vihara.

“Saya suka membantu para bhikkhu karena hal itu juga membantu orang lain,” katanya.

Tahun ini, Michael McPherson, 67, memulai pelatihan sebagai samanera di vihara tersebut, periode tiga bulan sebelum penahbisan yang mencakup meditasi, pembacaan sutta, mempelajari ajaran Buddha, pembacaan paritta dan pemberkatan untuk komunitas dan pekerjaan vihara.

McPherson, mantan bankir investasi dan ayah dari dua putra dewasa, mengatakan menjadi bhikkhu akan membuatnya menghilangkan gangguan hidup sehingga ia bisa fokus pada studi dan pelayanannya. “Sungguh menakjubkan bagaimana kita membanjiri diri kita sendiri dengan tanggung jawab – dan untuk apa?” katanya. “Semua itu terputus, dilepaskan ketika seseorang memasuki kehidupan monastik. Hanya perasaan kebahagiaan internal, ketenangan, kedamaian – sungguh menakjubkan.”

Y.M. Sanathavihari mengatakan beberapa faktor berkontribusi pada meningkatnya minat warga Latin pada Agama Buddha, termasuk pergeseran negara yang terus berlanjut dari agama Kristen, dan cara pandemi dan protes Black Lives Matter telah membuat orang mengevaluasi kembali kehidupan mereka dan membuka diri terhadap praktik spiritual dan cara berpikir yang baru.

Di Vihara Sarathchandra, representasi juga menjadi kunci. “Ketika mereka melihat warga Latin lain di sana, seperti mengatakan, ‘Oke, ini bisa untuk saya. Saya dapat melangkah keluar dari budaya saya dan merangkul budaya lain tanpa merasa seperti mengkhianati budaya saya.’”

Y.M. Dhammasudassi, usia 44 tahun , bhikkhu Meksiko Amerika lainnya di vihara tersebut, sependapat.

“Sebagai manusia, jika kita melihat seseorang yang berasal dari budaya kita atau yang mirip dengan kita, dan mereka mengikuti ajaran ini, atau mereka melakukan praktik semacam ini, kita secara otomatis lebih tertarik padanya,” kata Y.M. Dhammasudassi yang merupakan warga asli LA itu. . “Dan sebagai bhikkhu, kami merasa seperti kami dapat berhubungan dengan pengalaman orang lain di komunitas karena kami berasal dari komunitas itu.”

Vihara Sarathchandra bukan satu-satunya vihara dengan semakin banyak praktisi dari warga etinis Latin. Y.M. Sanathavihari mengatakan bahwa ketika dia mengunjungi vihara-vihara lain di seluruh kota, ia sering bertemu dengan sesama umat Buddhis Latin. Dan di luar vihara, banyak warga lainnya beralih ke praktik Buddhis seperti berkesadaran penuh dan meditasi dalam konteks yang lebih sekuler.

Rosamaría Segura pertama kali belajar tentang meditasi ketika dia bekerja di sebuah organisasi nirlaba LA yang melayani pengungsi Amerika Tengah. Banyak dari mereka mengalami gangguan stres pasca-trauma, dan untuk membantu mereka mengatasinya, ia mulai menerjemahkan kaset meditasi terpandu ke dalam bahasa Spanyol.

“Pada titik tertentu saya menyadari, wow, ini sangat bermanfaat, saya heran mengapa tidak ada yang mengajarkannya dalam bahasa Spanyol,” kata Segura, yang sekarang adalah seorang guru di komunitas meditasi Insight LA.

Ia menjadikannya misinya untuk membawa berkesadaran penuh – yang ia sebut sebagai “alat untuk perawatan diri dan pemahaman” – kepada komunitas berbahasa Spanyol yang kurang terlayani yang biasanya tidak terjamah. Sebelum pandemi, katanya, ia mengajar kelas meditasi di toko bunga di pasar yang ramai di LA Timur. Meskipun bukan ruang meditasi tradisional, tempat ini ia bertemu dengan orang-orang di mana mereka berada.

“Kami hanya duduk di tengah di mana Anda bisa mendengar semua pekerja restoran melakukan penyajian, mereka mendengarkan pertandingan sepak bola, dan orang-orang masih akan datang dan duduk dan berlatih,” katanya. Sesi meditasi tatap muka yang lebih baru telah diadakan di aula dansa salsa, di samping program distribusi makanan di South Central LA, dan di sekolah tempat para ibu murid-murid dapat bergabung.

Y.M. Sanathavihari, yang juga mengambil gelar master dalam konseling dwibahasa, mengatakan bahwa akhirnya memiliki rekan-rekan bhikkhu Meksiko Amerika dan komunitas awam yang berkembang adalah “kelegaan”, karena hal itu meringankan beban kerjanya dalam pelayanan kebhikkhuan bagi komunitas Latin dan memberinya rasa persahabatan yang baru. Ia memuji pekerjaan yang dilakukan oleh para bhikkhu Sri Lanka di Vihara Sarathchandra, yang telah menjangkau warga Latin di lingkungan itu beberapa dekade sebelum ia tiba, katanya. “Saya hanya membantu bunga-bunga itu mekar.”

Ia berharap kehadirannya akan menginspirasi anak muda Latin untuk berpikir di luar norma dan harapan budaya yang dirasakan – dan tidak hanya menjadi Buddhis.

“Mereka mungkin melihat saya dan tidak ingin menjadi bhikkhu, tetapi itu mungkin membuka pikiran mereka untuk, seperti, ‘Tunggu sebentar, jika orang ini bisa melakukan ini, mungkin mimpi lain yang saya miliki, saya juga bisa melakukannya.‘”[Bhagavant, 16/4/22, Sum]


Kategori: Amerika,Amerika Serikat
Penulis:
REKOMENDASIKAN BERITA INI: