Sosial » Wanita Buddhis

Aktris Buddhis Jadi Salah Satu Wanita Luar Biasa Asia Pasifik-Amerika

Bhagavant.com,
Amerika Serikat – Aktris kelahiran Kanada, Chantal Thuy, ditampilkan dalam majalah Forbes sebagai salah satu dari enam wanita Amerika – Asia Pasifik yang luar biasa.

Aktris Buddhis
Chantal Thuy. From fandom.com

Chantal Thuy telah tampil bersama lima wanita terkemuka lainnya di komunitas Warga Amerika Asia dan Kepulauan Pasifik (AAPI) bulan Mei 2021 oleh majalah Forbes. Mei menandai Bulan Warisan Asia Pasifik Amerika di Amerika Serikat, menyoroti kehidupan dan pencapaian individu AAPI.

Chantal Thuy dikenal karena perannya sebagai Grace Choi di Black Lightning, serial TV pahlawan super yang menampilkan pemeran yang sebagian besar terdiri dari orang kulit berwarna, yang jarang ada di dunia media dan hiburan saat ini.

Chantal lahir dan dibesarkan di Montreal setelah orang tuanya menyelamatkan diri dari Vietnam sebagai pengungsi selama perang AS. Dengan karier yang membentang lebih dari satu dekade, Chantal telah berakting di lebih dari selusin film dan beberapa acara TV.

Dalam profilnya oleh Forbes, Chantal muncul bersama sesama wanita AAPI terkemuka lainnya yaitu Rain Valdez, Margaret Cho, Amazin LêThi, Geena Rocero, dan Senator Tammy Duckworth.

Dibesarkan dalam keluarga Buddhis-Katolik di Kanada, Chantal memeluk Agama Buddha tradisi Tibet saat dewasa pada tahun 2014. Dia bertemu gurunya, Rinpoche Tulku Neten, pendiri dan Kepala Vihara di Jam Tse Cho Ling Dharma Center di Toronto, setelah mendiang bibinya menjadi muridnya sebelum dia meninggal.

“Sungguh menyenangkan bisa berbicara Agama Buddha dengan ayah saya, bahkan ibu saya sampai batas tertentu meskipun dia sebagian besar beragama Katolik. Di Vietnam, ada campuran besar dari keduanya, dan saya dibesarkan di sebuah rumah tangga yang alternatifnya akan pergi ke vihara dan ke gereja. Jadi saya sangat terbiasa dengan kedua dunia dan saya melihat nilai dan memahami keduanya dengan baik,” kata Chantal seperti yang dilansir Buddhisdoor Global, Senin (31/5/2021).

“Ayah saya dan saya terkadang bertukar buku tentang Agama Buddha, dan dia juga menjadi murid Rinpoche beberapa tahun yang lalu. Saya juga dapat berdiskusi dengan baik tentang Agama Buddha dengan dua bibi saya, dan saya juga belajar banyak dari mereka. Saya pasti mengajukan banyak pertanyaan kepada mereka tentang praktik ritual karena mereka berbeda dari Agama Buddha tradisional Vietnam hingga Tibet. Saya masih harus banyak belajar!”

Munculnya pandemi COVID-19, penguncian komunitas, dan retorika anti-Asia telah menyebabkan peningkatan tajam dalam kekerasan terhadap anggota komunitas AAPI dan vihara di AS dan Kanada. Hal ini juga telah mengubah banyak cara umat Buddhis mengajar dan mempelajari Dharma, dengan persembahan secara online menjadi hal yang utama.

Ditanya tentang pandemi dan praktiknya, Chantal mengatakan, “Guru saya mulai memberikan ajaran Dharma secara online untuk murid-muridnya pada akhir tahun 2020, dan mendengarkan ajaran Dharma selalu menjadi salah satu cara favorit saya untuk belajar dan berkembang. Saya juga cenderung lebih berlatih kontemplasi dari pada meditasi duduk.”

“Guru saya telah menasihati saya untuk merenungkan kematian dan ketidakkekalan, terutama karena ada begitu banyak pasang surut dalam hidup saya dan jenis karier yang saya pilih, jadi ini adalah praktik yang coba saya lakukan. Saya juga telah banyak merenungkan pemikiran tentang kemelekatan dan sikap mengagungjan diri sendiri serta penderitaan yang mereka ciptakan. Saya mempraktikkannya untuk menangkap ini ketika mereka muncul dan memeriksanya pada saat itu sehingga saya dapat menghapusnya.”

Chantal yang fasih berbahasa Inggris, Perancis, dan Vietnam, juga mengambil kelas bahasa Tibet online melalui Program Penerjemah Lotsawa Rinchen Zangpo. “Sudah lama menjadi tujuan untuk belajar bahasa Tibet. Cita-cita saya adalah menjadi fasih dalam beberapa tahun ke depan sehingga saya dapat menerima pemahaman langsung dari guru saya dan mungkin suatu hari nanti membantu menerjemahkan ajaran Dharma untuk membantu orang lain.”

Saat di tanya oleh Forbes mengenai yang akan dia lakukan untuk meningkatkan kehidupan warga Amerika keturunan Asia dan Kepulauan Pasifik dan apa lagi yang perlu dilakukan, Chantal mengatakan bahwa ia melakukannya dengan mendukung aktivis lokal dan tokoh masyarakat yang melakukan pekerjaan sehari-hari dalam menerapkan perubahan di tingkat kota.

“Ada peningkatan besar dalam kekerasan terhadap komunitas AAPI, terutama terhadap anggota AAPI yang sudah lanjut usia. Di luar donasi, unjuk rasa, dan berbicara tentang hal itu, terkadang saya bingung tentang apa yang perlu dilakukan agar kekerasan ini berhenti. Ada kebencian dan ketidaktahuan tentang ‘orang lain’ yang telah ada di Amerika untuk waktu yang sangat lama.”

“Sebagai seorang Buddhis, saya berusaha untuk mengubah pikiran saya sendiri dan mencabut hal-hal negatif. Tapi bagaimana kita bisa menghubungkan dan mengubah orang-orang yang berada di luar ruang gema kita sendiri? Ini adalah pertanyaan yang sering saya pikirkan. Tetapi untuk saat ini, saya telah menemukan bahwa menghubungkan, belajar dari, dan mendukung aktivis lokal dan tokoh masyarakat yang melakukan pekerjaan sehari-hari dalam menerapkan perubahan di tingkat kota adalah salah satu hal paling berharga yang telah saya lakukan tahun ini.”[Bhagavant, 5/6/21, Sum]

Kata kunci:
Penulis:
REKOMENDASIKAN