Bangladesh

Ribuan akan Hadiri Kremasi Mendiang Sangharaja Bangladesh Ke-12

Bhagavant.com,
Dhaka, Bangladesh – Upacara merta dan kremasi mendiang Y.M. Dharmasena Mahathera, Sangharaja Bangladesh Ke-12, akan diselenggarakan pada 25-26 Februari 2021 di Desa Unainpura, Distrik Chittagong.

Ribuan akan Hadiri Kremasi Mendiang Sangharaja Bangladesh Ke-12
Peti kaca Yang Mulia Sangharaja Dharmasena Mahathera. Foto: Facebook Joysen Bhikkhu

Upacara tersebut rencananya akan dihadiri oleh ribuan umat dan para bhikkhu, juga para menteri anggota parlemen, diplomat, dan jurnalis. Y.M. Dharmasena Mahathera wafat pada 20 Maret 2020 di Royal Hospital di Chittagong pada usia 92 tahun.

Menurut Komite Upacara Kremasi, karena tindakan pencegahan seputar pandemi COVID-19, jenazah Sangharaja diawetkan dalam peti untuk menunggu upacara penghormatan terakhir yang akan dihadiri oleh umat lokal dan internasional.

“Setelah Yang Mulia Sangharaja Bangladesh Dr. Dharmasena Mahathera (17 Juni 1928-20 Maret 2020) wafat, para pengikut dan umat mengawetkan jenazahnya di Vihara Unainpura Lankarama dengan penuh keyakinan dan rasa hormat,” kata Komite Upacara Kremasi dalam sebuah pernyataan tertulis.

“Karena pandemi saat ini dan dengan rasa hormat yang rendah hati, jenazah Yang Mulia Sangharaja Bangladesh Dr. Dharmasena Mahathera yang telah diawetkan ditempatkan ke dalam peti kaca pada tanggal 31 Juli 2020.”

Y.M. Dharmasena adalah nama unik dalam sejarah Agama Buddha di Bangladesh. Beliau lahir di Unainpura, sebuah desa yang diakui sebagai rumah dari beberapa umat dan praktisi Buddhis yang dihormati, termasuk Y.M.. Purnachara Mahathera (1838–1905), Sangharaja Bangladesh Ke-2; Y.M. Kripasaran Mahathera (1865–1926), seorang bhikkhu besar yang datang ke Kalkuta dan mendirikan Asosiasi Buddhis Benggala pada tahun 1892 dan juga merupakan tokoh kunci dalam gerakan untuk menghidupkan kembali Agama Buddha di anak benua India; dan Brahmacari Shilananda, seorang penulis yang terkemuka yang menulis mengenai Agama Buddha.

Y.M. Dharmasena menjadi samanera pada tahun 1942 dan ditahbiskan sebagai bhikkhu pada tahun 1947. Pada tanggal 29 Januari 2004, pada rapat umum ke-57 Dewan Sangha Tertinggi Bangladesh (Bangladesh Sangharaj Bhikkhu Mahasabha), beliau menjadi Sangharaja Ke-12.

Ada dua dewan tertinggi untuk Sangha di Bangladesh, yaitu: Bhikkhu Mahasabha Sangharaj Bangladesh dan Bhikkhu Mahasabha Bouddha Bangladesh. Selain kedua organisasi ini, ada dewan sangha lainnya di antara komunitas vihara etnis Chakma dan Marma.

Y.M. Dharmasena menerima banyak penghargaan nasional dan internasional, di antaranya Atish Dipankar dan Vishuddhananda Award dari Bangladesh Bauddha Kristi Prachar Sangha, gelar Tripitaka Sahitya Chakraborty dari Sri Lanka dan Aggamahasaddhammajyotikadhvaja dari Myanmar, Medali Perdamaian Dunia dari Thailand, gelar Pemimpin Buddha Tertinggi dari Jepang, dan gelar doktor kehormatan dari Universitas Buddhis Vietnam.

Seperti yang dilansir Buddhistdoor Global, upacara merta (kematian) Buddhis di Bangladesh secara tradisional melibatkan banyak anggota komunitas. Bagi umat awam, berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu menyediakan makanan bagi anggota keluarga mendiang. Selama tujuh malam setelah mendiang meninggal, bhikkhu setempat mengunjungi rumah orang yang berduka untuk melafalkan paritta dan memberikan ajaran tentang kematian. Pada hari ketujuh, anggota keluarga mengadakan sanghadana (persembahan untuk sangha).

Namun, dinamika upacara merta Buddhis di Bangladesh zaman modern sedang berubah. Sesekali, upacara merta dilakukan oleh bhikkhu setempat dan ditandai dengan pelafalan paritta dan renungan tentang kehidupan mendiang. Tetapi tergantung pada kemampuan ekonomi, kerabat mendiang mungkin saat ini mengundang komunitas bhikkhu dan kerabat yang lebih besar untuk berpartisipasi.

Para bhikkhu senior yang wafat diberikan upacara merta yang besar. Tubuh mereka diawetkan lebih lama — dari enam bulan atau bahkan selama dua tahun — dan para umatnya menyelenggarakan upacara merta yang berlangsung selama 2-3 hari, atau lebih. Upacara ini unik karena ratusan bhikkhu dan ribuan umat diundang, dengan persembahan makanan dan pemberian. Upacara merta para bhikkhu secara tradisional diikuti dengan hiburan, seperti lagu dan pertunjukan religi.[Bhagavant, 14/2/21, Sum]

Penulis:
REKOMENDASIKAN