India » Sosial

236 Dalit Valmiki Beralih Keyakinan Memeluk Agama Buddha

Bhagavant.com,
Uttar Pradesh, India – Di tengah ketidakpuasan yang meningkat atas kasus Hathras, warga dari komunitas Valmiki beralih keyakinan memeluk Agama Buddha di Ghaziabad.

236 Dalit Valmiki Beralih Keyakinan Memeluk Agama Buddha
Ilustrasi. Foto: religionnew

Sekitar 236 orang dari 50 keluarga yang termasuk dalam komunitas Valmiki di Desa Karera, Ghaziabad, Uttar Pradesh, beralih keyakinan memeluk Agama Buddha.

Peristiwa tersebut dilaporkan dari daerah Karheda di Ghaziabad ketika 236 orang dari komunitas Valmiki, yang tinggal di daerah tersebut, berkumpul dan memutuskan untuk memeluk Agama Buddha di hadapan Rajaratna Ambedkar, cicit dari Baba Saheb Ambedkar pada 14 Oktober 2020,.

Tanggal tersebut dipilih karena merupakan hari yang penting, dan bermakna simbolis. Pada tanggal itu, 64 tahun yang lalu, Baba Saheb Ambedkar memeluk Agama Buddha bersama dengan 3.65.000 pengikutnya.

Komunitas Valmiki, yang merupakan kaum Dalit, mengatakan adanya diskriminasi di bagian ‘kasta atas’ komunitas Chauhan, yang merupakan mayoritas di Desa Karera tersebut. Menurut penduduknya, Desa Karera berpenduduk sekitar 9.000, 5.000 di antaranya adalah komunitas Chauhan, sedangkan 2.000 adalah komunitas Valmiki. Sisanya adalah orang luar yang sudah menetap di sini.

Seperti yang dilansir The Print, Selasa (20/10/2020)m komunitas Valmiki mengatakan bahwa dugaan peristiwa pemerkosaan di Hathras dan penanganan kasusnya oleh administrasi Uttar Pradesh adalah pukulan terakhir bagi mereka.

Mereka mengatakan bahwa mereka kehilangan kepercayaan pada Ketua Menteri Uttar Pradesh Yogi Adityanath setelah polisi melakukan kremasi tubuh korban di tengah malam.

Peristiwa di Hathras terjadi setelah empat orang pria diduga memperkosa seorang wanita Dalit berusia 19 tahun di desa Bulgadhi di distrik Hathras dan kemudian mencoba untuk mencekiknya. Korban kemudian dirawat di Aligarh Medical College tetapi kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Safdarjung di Delhi setelah kondisinya memburuk. Korban meninggal dunia akibat lukanya pada 29 September 2020 saat menjalani perawatan.

Pejabat pemerintah distrik itu kemudian mengkremasi jenazah korban pada tengah malam pada pukul 3 pagi meskipun sebagian besar anggota keluarga menentang kremasi tengah malam.

“Warga Hindu tidak menerima kami sebagai bagian dari mereka, warga Muslim tidak akan pernah menerima kami,” kata Pawan Valmiki, 27 tahun yang membantu memfasilitasi perpindahan agama massal tersebut. “Setelah peristiwa Hathras, kami menyadari bahwa negara tidak akan menerima atau membantu kami. Pilihan apa yang tersisa bagi kami?”

Rajjo Valmiki, seorang pengrajin kain perca berusia 65 tahun, marah dengan kebrutalan yang ditimpakan kepada wanita Hathras dan membandingkannya dengan kasus Nirbhaya tahun 2012.

“Nirbhaya diberi perawatan terbaik di rumah sakit Delhi dan kasta nya tidak pernah diangkat di media,” kata Rajjo yang tampak gelisah. “Putri kami diperlakukan dengan buruk, polisi dan dokter tidak menunjukkan simpati pada tubuhnya. Mengapa media melecehkan keluarganya? Kami telah dibuat untuk percaya bahwa kami adalah ‘orang lain’, Anda terus mengangkat status kasta rendah kami dalam segala hal.”

Pawan dan Rajjo termasuk di antara 236 orang yang secara resmi memeluk Agama Buddha. Mereka berharap umat Buddhis lainnya akan membantu mereka mendapatkan keadilan ketika terjadi kekerasan atau diskriminasi terhadap mereka.

“Mesin negara tidak memiliki perwakilan dari Kasta Terdaftar (Dalit) dan karenanya sikap apatis mereka adalah wajar. Komunitas Valmiki belum bisa keluar dari identitas mereka yang telah ditetapkan sebelumnya sebagai tukang sapu atau pembuat kulit,” Rajratna Ambedkar, yang menjalankan Buddhists Society of India.

“Beralih ke Agama Buddha adalah cara untuk membantu mereka keluar dari lingkaran setan kemiskinan dan kompleks rendah diri yang mereka tinggali,” kata Rajratna, yang memfasilitasi alih keyakinan tersebut.[Bhagavant, 25/10/20, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN