Asia Tenggara » Seremonial

Magha Puja Lebih dari Sekadar Peringati 4 Peristiwa Langka dalam Sehari

Sabtu, 8 Februari 2020

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Apakah Hari Raya Magha Puja itu? Peristiwa apa saja yang terjadi saat perayaan Hari Magha Puja? Simak uraian berikut bagi Anda yang belum mengetahuinya.

Magha Puja Lebih dari Sekadar Peringati 4 Peristiwa Langka dalam Sehari
Foto: YouTube

Salah satu dari empat hari raya yang penting bagi umat Buddhis adalah Hari Raya Magha Puja. Namun tidak menutup kemungkinan umat Buddhis khususnya di Indonesia juga ada yang belum mengetahuinya.

Apa Hari Raya Magha Puja itu?


Hari Raya Magha Puja (Pali: Māgha Pūjā) adalah hari memperingati 4 peristiwa langka yang terjadi dalam sehari di Vihara Veluvana (Hutan Bambu), di dekat Rājagaha pada hari purnama di bulan Magha (bulan ke-11 penanggalan India Kuno) di masa kehidupan Sri Buddha (diperkirakan tahun 587 SM).

Saat Hari Magha Puja peristiwa utama apa yang diperingati?


Peristiwa utama yang terjadi saat Hari Magha Puja adalah:
1. Berkumpulnya 1.250 bhikkhu untuk mengunjungi Sri Buddha tanpa diundang di Vihara Veluvana.
2. Para bhikkhu tersebut adalah para siswa Sri Buddha yang ditahbiskan sendiri oleh Sri Buddha.
3. Para bhikkhu tersebut adalah para Arahant (orang yang telah mencapai tingkat kesempurnaan batin tertinggi) dengan memiliki Pengetahuan Lanjut Beruas Enam (chalabhiññā).
4. Peristiwa tersebut terjadi pada hari yang sama pada saat munculnya fenomena bulan purnama di malam hari.

Pada kesempatan tersebut Sri Buddha membabarkan Nasihat Menuju Pembebasan (Pali: Ovāda Pāṭimokkha; Sanskerta: Avavāda Prātimokṣa) yang isinya merupakan prinsip-prinsip ajaran para Buddha.

Bukan sekadar 4 peristiwa

Selain 4 peristiwa utama tersebut, pada hari yang sama, ada 2 peristiwa penting lainnya yang terjadi yang kadang luput disebut. Kedua peristiwa tersebut adalah:

1. Pencapaian Kearahatan Bhikkhu Sāriputta yang terjadi pada siang hari di Bukit Gijjhakūṭa sebelum 4 peristiwa utama tersebut terjadi.

2. Sri Buddha menganugerahkan gelar Siswa Utama (Aggasavaka) kepada Y.A Sāriputta dan Y.A. Moggallāna, yang terjadi sebelum Sri Buddha membabarkan Ovāda Pāṭimokkha dalam pertemuan 1.250 Arahant tersebut.

Hari purnama di bulan Magha juga menjadi hari yang penting di luar dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di Rājagaha tersebut.

Peristiwa yang tidak kalah pentingnya adalah peristiwa saat Sri Buddha memutuskan untuk wafat secara mutlak (parinibbana) 3 bulan kemudian sejak keputusan-Nya itu. Peristiwa ini terjadi di Cetiya Cāpāla di dekat Kota Vesali dan juga pada hari purnama di bulan Magha, namun di tahun 543 SM.

Di luar kehidupan Sri Buddha, ada peristiwa-peristiwa bersejarah lainnya yang juga terjadi di hari purnama di bulan Magha. Di antaranya adalah selesai dibangunnya Stupa Shwedagon oleh Raja Okkalapa di Myanmar. Diyakini oleh masyarakat Myanmar, relikui rambut Sri Buddha yang diperoleh dari 2 upasaka pertama yaitu Tapussa dan Bhallika.

Untuk itu seminggu sebelum Hari Magha Puja, masyarakat Myanmar mengadakan perayaan atau Festival Stupa Shwedagon.

Makna penting peringatan Hari Raya Magha Puja

Hari Raya Magha Puja menjadi penting untuk diperingati bukan hanya karena peristiwa-peristiwa langka dan bersejarah yang membentuknya. Hari Raya Magha Puja menjadi penting karena pesan yang disampaikan oleh Sri Buddha saat 4 peristiwa langka itu terjadi, yaitu Nasihat Menuju Pembebasan (Ovāda Pāṭimokkha) yang isinya sebagai berikut:

Tidak melakukan segala bentuk kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan dan membersihkan batin; inilah Ajaran Para Buddha.

Kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi. “Nibbana adalah tertinggi”‘ begitulah sabda Para Buddha. Dia yang masih menyakiti orang lain sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).”

Tidak menghina, tidak menyakiti, dapat mengendalikan diri sesuai dengan peraturan, memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di tempat yang sunyi serta giat mengembangkan batin nan luhur; Inilah Ajaran Para Buddha.

Itulah inti sari ajaran Agama Buddha yang perlu diingat, direnungan dan dipraktikkan oleh segenap umat Buddhis karena akan membawa pada pembebasan diri dari dukkha (keluh kesah/penderitaan).[Bhagavant, 8/2/20, Sum]

Kata kunci:
Penulis:
REKOMENDASIKAN: