Asia Oseania » Tradisi dan Budaya

Basah-basahan hingga Panjat Pinang Sambut Sankranti 2018

Minggu, 15 April 2018

Bhagavant.com,
Bangkok, Thailand – Tahun Baru Sankranti 2018 disambut dan dirayakan umat Buddhis dengan berbagai kegiatan, dari “perang air” hingga panjat pinang.

Gajah pun ikut
Gajah pun ikut “perang air” dalam perayaan Tahun Baru Sankranti (Thailand: Songkran).

Perayaan Tahun Baru Sankranti (Sanskerta: Saṃkrānti; Thailand, Laos: Songkran; Myanmar: Thingyan; Kamboja: Choul Chnam Thmey; Tamil: Puthandu; Sinhala: Aluth Avurudda) dirayakan pada 13 hingga 17 April 2018.

Tahun Baru Sankranti adalah tahun baru tradisional masyarakat Asia Selatan, dan Tenggara. Tahun Baru ini diambil berdasarkan kalender atau penanggalan suryacandra (lunisolar) yang ditandai dengan pergerakan matahari yang singgah di rasi bintang Aries. Kalender suryacandra ini banyak digunakan oleh negara-negara Asia Tenggara dan Selatan dengan berbagai versi dan nama.

Dalam menyambut Tahun Baru umat Buddhis melakukan puja bakti di vihara-vihara, mempersembahkan dana kepada para bhikkhu, tradisi penuangan air ke tangan orang yang lebih tua, juga melakukan tradisi membersihkan rupaka Buddha dengan menyiramkan atau memercikkan air wangi.

Selain kegiatan keagamaan, umat Buddhis dan masyarakat lainnya bergabung melakukan Festival Air hingga panjat pinang.

Warga Buddhis di Asia Tenggara seperti Thailand, Myanmar, Kamboja, dan Laos, melakukan Festival Air yaitu sebuah festival tradisi penyiraman air kepada orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Asal mula tradisi penyiraman air ini adalah dari upaya mendinginkan tubuh dengan air agar kembali segar dari udara panas. Tahun baru Sankranti sendiri memang jatuh pada hari-hari terpanas di Asia Tanggara. Selain itu juga berasal dari tradisi bersih-bersih pada Tahun Baru.

Tradisi ini kemudian berkembang dengan disisipkan kepercayaan yang mempercayai bahwa dengan melakukan penyiraman air kepada orang lain maka akan memberikan keberuntungan. Dan keberadaan Agama Buddha kemudian memberikan makna-makna religius dari air yang dipergunakan sebagai simbol kemurnian dan kedamaian.

Karenanya pada perayaan Tahun Baru ini, umat Buddhis juga menyiramkan air atau memandikan rupaka Buddha, menuangkan atau menyiramkan ke tangan orang tua dan para bhikkhu sebagai penghormatan.

Kemudian tradisi ini menjadi tradisi “perang air” di jalan-jalan. Festival Air Tahun Baru Songkran di Thailand menjadi salah satu tujuan wisata dari negara tersebut. Saat itulah masyarakat bersama para turis saling basah-basahan melakukan “perang air”.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Perayaan Tahun Baru Sankranti 2018 di Asia Selatan tidak diisi dengan “perang air”.

Panjat pinang seperti ini juga bagian dari lomba di Sri Lanka menyambut Tahun Baru Aluth Avurudda (Sankranti 2018). Foto: Lanka Excursions Holidays

Umat Buddhis dan masyarakat lainnya di Asia Selatan, melakukan berbagai festival permainan dari menerbangkan layang-layang hingga panjat pinang.

Di Sri Lanka, mereka mengadakan “Bakmaha Ulela”, yaitu festival permainan tradisional menyambut Tahun Baru Aluth Avurudda.

Berbagai permainan tradisional dan kompetisi diadakan, termasuk bermain raban (rabana), tarik tambang, perkelahian bantal, hingga panjat pinang. Pemilihan “Avurudu Kumari” (Putri Tahun Baru) dan “Avurudu Kumaraya” (Pangeran Tahun Baru) juga diadakan, dan banyak lagi.[Bhagavant, 15/4/18, Sum]

Kata kunci:
Penulis: