Thailand

Upacara Kematian Buddhis untuk Hewan Peliharaan Lagi Populer di Bangkok

Jumat, 8 Desember 2017

Bhagavant.com,
Bangkok, Thailand – Menyayangi hewan peliharaan bagi seseorang kadang tidak sebatas memberikan apa yang terbaik saat ia masih hidup tetapi juga saat kesayangannya tersebut mati.

Upacara kematian Buddhis untuk hewan peliharaan sedang populer di Bangkok, Thailand.
Upacara kematian Buddhis untuk hewan peliharaan sedang populer di Bangkok, Thailand. Foto: AFP

Memberikan penghormatan terakhir kepada hewan peliharaan yang mati dengan mengadakan upacara kematian Buddhis kini sedang populer di Bangkok, Thailand.

Banyak pemilik hewan peliharaan di Bangkok percaya bahwa kremasi yang lengkap disertai dengan upacara kematian Buddhis yang dipimpin oleh seorang bhikkhu dapat meningkatkan kemungkinan hewan peliharaan kesayangan mereka terlahir kembali sebagai makhluk yang lebih tinggi di kehidupan mereka selanjutnya.

Salah satunya Pimrachaya Worakijmanotham, pemilik seekor anjing jenis Shih Tzu bernama Dollar mengadakan upacara kematian dan kremasi untuk kematian peliharaannya tersebut.

“Ini adalah saat terakhir saya bisa bersamanya … jadi saya ingin Dollar menerima hal-hal yang baik,” kata Pimrachaya, seperti yang dilansir AFP Minggu (3/12/2017).

Dalam keyakinan Buddhis, jasa kebajikan yang dihasilkan dalam setiap kehidupan makhluk hidup akhirnya dapat mengarah pada pencapaian Nibbana (Skt: Nirvana).

Meskipun hewan peliharaan dalam kehidupannya tidak mempunyai banyak kesempatan untuk melakukan jasa kebajikan selain dibantu oleh pemilik mereka, Pimrachaya berusaha memberikan yang terbaik bagi Dollar.

“Dalam kehidupan ini, (Dollar) tidak bisa pergi ke vihara untuk membuat jasa kebajikan bagi dirinya sendiri. Inilah satu-satunya yang bisa kami lakukan untuknya,” kata Pimrachaya menjelaskan.

Setidaknya ada tiga vihara di Thailand yang memberikan pelayanan harian upacara kematian hewan, termasuk sebuah upacara Buddhis yang dipimpin oleh seorang bhikkhu, kremasi dan penyebaran abu di sungai untuk menandakan kembalinya sisa jasmani ke alam.

Populernya pelayanan kremasi hewan juga mencerminkan adanya penyusutan ruang publik untuk tanah pemakaman di ibu kota Thailand tersebut.

“Sebelumnya, kami menguburkannya di taman resmi atau halaman belakang, tapi sekarang (tanah pemakaman untuk hewan) jarang ditemukan di Bangkok,” kata Bhikkhu Phrakru Samu Jumpol, seorang bhikkhu dari Vihara Krathum Suea Pla yang kini telah bermitra dengan sebuah perusahaan duka dan sekarang memiliki ruang upacara dan kremasi.

Menurut bhikkhu tersebut, upacara kematian Buddhis untuk hewan peliharaan telah membawa orang-orang lebih dekat dengan Agama.

“Beberapa orang mungkin tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk datang ke vihara. Ketika hewan peliharaan mereka mati, mereka datang ke sini,” kata Bhikkhu Phrakru, menambahkan bahwa saat upacara kematian tersebut pemilik hewan peliharaan diajarkan pelajaran Buddhis bahwa segala sesuatu bersifat sementara.

Sejauh ini, kerja sama bisnis antara Vihara Krathum Suea Pla dengan sebuah perusahaan duka belum menghadapi kritik.

Keuangan vihara-vihara di Thailand mendapat sorotan dalam beberapa tahun terakhir karena beberapa di antaranya diguncang oleh serangkaian skandal keuangan dan tuduhan korupsi.

Pemerintah junta militer Thailand memeriksa keuangan vihara-vihara di seluruh Thailand dalam upayanya memperbaiki citra Agama Buddha yang telah terdampak skandal tersebut.

Bagi pecinta hewan peliharaan, pelayanan ini memberikan pertolongan spiritual pada saat yang sangat menyedihkan dan memberikan harapan untuk sebuah kemungkinan reuni di kehidupan mendatang.

Seperti halnya yang disampaikan Tipaporn Ounsiri, wanita pemilik Siberian husky bernama Maprang yang telah tiada.

“Jika kehidupan berikutnya ada, kembalilah dan jadilah putri saya, jangan terlahir sebagai hewan peliharaan lagi,” katanya dengan mata berkaca-kaca di akhir sebuah upacara untuk menyebarkan abu jasad hewan kesayangannya bulan November lalu.[Bhagavant, 8/12/17, Sum]

Kata kunci:
Penulis: