Birma

Pertemuan Dewan Sangha Myanmar dengan Paus Fransiskus

Jumat, 1 Desember 2017

Bhagavant.com,
Yangon, Myanmar – Dalam kunjungannya ke Myanmar, pimpinan tertinggi Gereja Katolik, Paus Fransiskus, melakukan pertemuan dengan para Sayadaw (para bhikkhu senior) dari Dewan Sangha Maha Nayaka (Dewan Pimpinan Tinggi Sangha) Myanmar, pada Rabu (29/11/2017).

Pertemuan antara Dewan Sangha Myanmar dengan Paus Fransiskus, di Aula Wizaya Minghala Dhamma di Stupa Kaba Aye, Yangon, Rabu (29/11/2017).
Pertemuan antara Dewan Sangha Myanmar dengan Paus Fransiskus, di Aula Wizaya Minghala Dhamma di Stupa Kaba Aye, Yangon, Rabu (29/11/2017). Foto: Hla Moe

Dalam pertemuan yang diselenggarakan di Aula Wizaya Mingala Dhamma di Stupa Sri Mingala Kaba Aye, Yangon tersebut, hadir para Sayadaw bersama dengan Ketua Dewan Sangha Maha Nayaka, Y.M. Dr. Bhaddanta Kumarabhivamsa (Sayadaw Bhamo).

Para Sayadaw dan Paus Fransiskus saling bertukar cendera mata dan memberikan kata sambutan satu sama yang lain.

Y.M. Dr. Bhaddanta Kumarabhivamsa, dalam pertemuan tersebut mengatakan bahwa para anggota dari keyakinan yang berbeda sangat butuh membangun saling pengertian, rasa hormat dan kepercayaan di antara mereka sendiri untuk mendapatkan masyarakat manusia yang damai, aman dan makmur.

“Kita harus melatih mengendalikan dan menahan diri untuk tidak mencampuri permasalahan keyakinan lain dan bekerja sama dalam membangun jembatan untuk perdamaian dunia,” kata Y.M. Bhaddanta Dr. Kumarabhivamsa, seperti yang dilansir Myanmar News Agency, Kamis (30/11/2017).

Y.M. Dr. Bhaddanta Kumarabhivamsa mengatakan Myanmar mengakui posisi khusus Agama Buddha sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar warga negaranya dan juga mengakui Agama Kristiani, Islam, Hindu, Animisme sebagai agama yang ada di negara tersebut, dan membantu agama-agama ini dengan maksimal.

“Tidak ada keraguan bahwa prinsip dasar setiap agama berdasarkan pada cinta dan kebaikan. Dengan saling berbagi cinta kasih, masing-masing rumah tangga, masyarakat, warga negara dan negara dapat hidup berdampingan secara damai. Dengan melakukan koeksistensi damai antar negara, perdamaian global dapat dicapai dengan pasti,” kata Y.M. Dr. Bhaddanta Kumarabhivamsa.

“Di dunia sekarang ini, sangat disesalkan jika kita melihat “terorisme dan ekstremisme” atas nama kepercayaan agama. Kami tidak menerima bahwa terorisme dan ekstremisme muncul karena keyakinan agama tertentu, karena semua ajaran agama hanya menginstruksikan untuk kesejahteraan umat manusia,” kata Y.M. Dr. Bhaddanta Kumarabhivamsa.

“Kami sangat percaya bahwa terorisme dan ekstremisme muncul karena hanya salah tafsir dalam ajaran asli agama masing-masing, karena beberapa pengikut agama mengenalkan beberapa perubahan terhadap ajaran asli yang didominasi oleh keinginan salah, kebencian, ketakutan dan delusi mereka – empat arah jalan yang salah (agati),” lanjutnya.

Y.M. Dr. Bhaddanta Kumarabhivamsa juga mengatakan bahwa semua pihak harus mengkritik segala jenis ucapan kebencian, propaganda palsu, konflik dan perang dengan dalih agama dan dengan keras mengecam orang-orang yang mendukung kegiatan tersebut.

Sedangkan Paus Fransiskus mengatakan pertemuan ini memperkuat dan menyegarkan persahabatan, rasa hormat dan cinta yang telah ada sebelumnya antara umat Buddhis dan umat Kristen Katolik.

Ia juga mengatakan bahwa pertemuan ini adalah kesempatan untuk memastikan bahwa mereka semua yang ada dalam pertemuan tersebut bertanggung jawab atas keadilan dalam kemanusiaan, perdamaian dan penghormatan terhadap martabat manusia.

“Mari kita pinjamkan tangan kita kepada umat Kristen Katolik atau Buddhis yang berusaha untuk meningkatkan kompatibilitas dan kasih sayang di antara masyarakat umat manusia,” katanya.

Dalam sambutannya, Paus Fransiskus berterima kasih atas pertemuan tersebut.

“Saya ingin mengulang lagi ucapan terima kasih saya karena saya diundang untuk bertemu para Sayadaw”, katanya. “Saya berdoa semoga berkah datang kepada Anda semua dalam bentuk kedamaian dan kebahagiaan.”[Bhagavant, 1/12/17, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: