Eropa

Banyak Narapidana Beralih Memeluk Agama Buddha di Penjara Skotlandia

Kamis, 2 November 2017

Bhagavant.com,
Edinburgh, Skotlandia – Banyaknya para narapidana yang beralih memeluk Agama Buddha menjadikan agama ini sebagai salah satu agama yang berkembang pesat di penjara-penjara di Skotlandia.

Ilustrasi. Banyak narapidana beralih memeluk Agama Buddha di penjara Skotlandia
Ilustrasi. Penjara

Seperti yang dilansir Daily Record bulan lalu (9/10/2017), jumlahnya menunjukkan lebih dari 20 orang mengaku mempraktikkan Agama Buddha di penjara-penjara Skotlandia.

Permintaan atas Kebebasan Informasi telah mengungkapkan dalam tiga tahun terakhir 22 narapidana mendaftarkan keyakinan mereka sebagai penganut Agama Buddha.

Para kepala penjara tidak dapat mengatakan di mana dan berapa banyak para narapidana ini memeluk Agama Buddha sebelum 2014 – tapi angka tersebut diyakini mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun-tahun sebelumnya.

Berita tersebut muncul saat Agama Buddha dinyatakan sebagai agama dengan pertumbuhan tercepat di penjara-penjara Inggris, dengan angka meningkat delapan kali lipat dalam 10 tahun.

Seorang narasumber mengatakan, “Sungguh mengejutkan melihat begitu banyak napi yang menyatakan keyakinan mereka kepada agama damai tentang karma dan cinta.”

“Di waktu lalu, para napi mengatakan bahwa mereka adalah umat Yahudi atau Muslim untuk mendapatkan makanan yang lebih baik tapi sulit untuk melihat apa yang ada di balik lonjakan popularitas Agama Buddha secara tiba-tiba.”

Yang menariknya, hampir semua narapidana di Inggris yang menjadi Buddhis pernah melakukan kejahatan berat seperti kekerasan dan kejahatan seksual.

Sebagian besar dari para narapidana memeluk Agama Buddha setelah dipenjara, dan memilih agama ini karena ajarannya yang menekankan pada meditasi yang membantu mengatasi masa-masa pengurungan mereka.

Berkembangnya Agama Buddha di penjara-penjara di Skotlandia maupun di Inggris Raya, nampaknya tidak terlepas dari peran organisasi Buddhis yang peduli terhadap kondisi para tahanan.

Sebelumnya, mendiang Lord Avebury (Eric Lubbock), penyokong organisasi kekapelanan penjara Buddhis Angulimala, pernah mengatakan, “Saya pikir Agama Buddha memungkinkan orang untuk menyesuaikan diri dengan situasi mereka”

“Agama Buddha membuat orang menjauh dari gagasan ambisi material, dan lagi pula jika orang dipenjara mereka juga tidak bisa mencapai tujuan itu (ambisi material).”

Karena bersifat pribadi, hingga kini sulit untuk bisa meastikan motif pribadi sebenarnya dari para narapidana tersebut dalam memeluk Agama Buddha.[Bhagavant, 2/11/17, Sum]

Kata kunci:
Penulis: