Afrika » Afrika Selatan » Sosial

Sentra Buddhis Asuh Anak Yatim Afrika Pelajari Filsafat Buddhis Hingga Kung Fu

Senin, 30 Oktober 2017

Bhagavant.com,
Mbabane, Swaziland – Sebuah sentra Buddhis asal Taiwan mengasuh ribuan anak yatim dan yang rentan akan aksi kekerasan dari sejumlah negara di Afrika Selatan.

Anak-anak dari sentra Buddhis Amitofo Care Centre dalam pertukaran budaya di Taiwan tahun 2016.
Anak-anak dari sentra Buddhis Amitofo Care Centre dalam pertukaran budaya di Taiwan tahun 2016. Foto: amitofocc.com

Amitofo Care Centre (ACC), didirikan oleh Y.M. Hui Li asal Taiwan setelah mengunjungi benua Afrika pada tahun 1992. Saat itu Master Hui Li terkejut dengan keberadaan anak-anak yang ditinggal mati orang tua mereka karena HIV/Aids. Kemudian ia memutuskan untuk mencurahkan seluruh waktu dan energinya untuk mendirikan panti asuhan, sekolah dan klinik bagi mereka.

Langkah pertamanya adalah membangun Vihara Nan Hua; vihara tradisi Mahayana pertama di Afrika Selatan dan juga yang terbesar di belahan bumi selatan.

Kemudian ia mendirikan panti asuhan pertama di Afrika, Amitofo Care Centre di Malawi, dan mulai membesarkan, mendidik dan memberikan perawatan medis kepada mereka yang membutuhkan serta menghidupkan kembali budaya Afrika.

Anak-anak tersebut dibawa ke pusat belajar dengan kurikulum setempat setiap pagi hari, sementara setiap sore hari mereka mempelajari filsafat Buddhis, bahasa Mandarin dan kung fu.

Anak-anak akan tinggal dan belajar di sentra Buddhis tersebut sampai mereka mencapai usia 18 tahun, saat mereka dapat mengajukan permohonan untuk masuk ke universitas atau pelatihan kejuruan lainnya.

Anak-anak asuhan Amitofo Care Center di Malawi berlatih kung fu.
Anak-anak asuhan Amitofo Care Centre di Malawi berlatih kung fu. Foto: BBC

Sebanyak 26 siswa dari setra di Malawi kini sedang belajar di universitas di Taiwan. Dengan jumlah yang hampir sama belajar di sentra yang berada di Lesotho dan Swaziland, yang telah berjalan selama lima dan enam tahun berturut-turut. Tahun 2015, ACC mendirikan cabang baru di Namibia.

Sebanyak 70 persen dari pendanaan ACC berasal dari para pendonor pribadi yang berasal dari Taiwan dan Hong Kong. Warga Malaysia dan Singapura juga berkontribusi di dalamnya. ACC tidak memiliki hubungan dengan pemerintah mana pun, dan bergantung pada tanah yang disumbangkan agar sentra tersebut berdiri dan berjalan.

Dalam menjalankan fungsinya sebagai rumah penampungan, ACC melakukan proses ketat bersama dengan anak-anak tersebut, badan-badan nasional negara setempat, dan komunitas lokal untuk mengadopsi secara legal mereka-mereka yang masuk dalam sentra tersebut.

Tujuan dari ACC sendiri adalah membangun para anak yatim tersebut dengan watak mental, fisik, dan spiritual yang sehat.

Master Hui Li ditahbiskan menjadi bhiksu pada 1974 oleh Y.M. Hsing Yun, pendiri Fo Guang Shan.[Bhagavant, 30/10/17, Sum]

Penulis: