Asia Timur » Jepang » Sains » Teknologi

Kini Ada Robot Pandita Buddhis untuk Upacara Duka di Jepang

Sabtu, 26 Agustus 2017

Bhagavant.com,
Tokyo, Jepang – Jepang terkenal dengan teknologi robotnya. Dari robot yang berfungsi sebagai pekerja pabrik, pembantu untuk manula, hingga kini sebagai pandita Buddhis untuk upacara duka.

Pepper, robot humanoid mengenakan pakaian pandita Buddhis dalam demonstrasinya pada pameran di Life Ending Industry Expo 2017 in Tokyo, Japan. Foto: Kim Kyung-Hoon/Reuters

Mengambil ide dari robot pemberkat dari Jerman, kini Pepper, robot humanoid dari perusahaan SoftBank di Jepang, dilengkapi dengan kemampuan untuk mengalunkan sutra dalam suara terkomputerisasi sambil mengetuk sebuah muyu (ikan kayu), dan digunakan sebagai alternatif pelayanan upacara duka.

Robot setinggi 1,2 meter dan berkepala putih plontos tersebut dipamerkan pada hari Rabu (23/8) di sebuah pameran industri pemakaman, Life Ending Industry Expo, di Tokyo, yang dipamerkan oleh perusahaan pembuat cetakan plastik Nissei Eco.

Menurut data Asosiasi Konsumen Jepang pada tahun 2008, dengan biaya pemakaman di Jepang sekitar sebesar 340 juta rupiah dan biaya pandita sekita 30 juta, perusahaan Nissei Eco ingin memotong biaya permasaran tersebut dengan menghadirkan Pepper yang seharga 6 juta rupiah untuk satu upacara duka.

Dengan populasi Jepang yang menua dan menyusut, banyak pandita Buddhis menerima sedikit dukungan finansial dari masyarakat mereka, ini mendorong beberapa di antaranya untuk mencari pekerjaan paruh waktu di luar tugas keagamaan mereka, kata Michio Inamura, penasihat eksekutif Nissei, yang menyarankan agar Pepper dapat masuk saat tenaga manusia tidak ada.

Pepper melafalkan sutra sambil memukul muyu. Foto: Kim Kyung-Hoon/Reuters

Penyelenggara pemakaman dapat memilih untuk mengenakan Pepper dengan jubah seorang pandita Buddha bahkan bisa menyiarkan siaran langsung upacara duka tersebut kepada mereka yang tidak dapat menghadiri pemakaman secara langsung.

Namun kehadiran Pepper sebagai pengganti pandita tidak serta-merta dapat diterima oleh semua kalangan.

Tetsugi Matsuo, seorang pandita Buddhis mengatakan, seperti yang dilansir The Guardian, Rabu (23/8/2017) bahwa ia datang ke pameran untuk melihat apakah Pepper bisa menyampaikan aspek ‘batin’ karena ia percaya bahwa ‘batin’ adalah dasar dari agama.

Robot sebagai agamawan juga digunakan di Tiongkok, salah satunya Xian’er sebuah robot menyerupai “bhiksu” kecil berjubah kuning yang sedang membawa layar sentuh dan bersuara seperti anak laki-laki, menjadi terkenal setelah penampilan perdananya di Festival Animasi Guangzhou pada 4 Oktober 2015 yang lalu di Provinsi Guangzhou, Tiongkok.

Robot perlahan merayap ke dalam sebagian besar aspek kehidupan manusia, dari menjadi pembantu, penghibur, dan pekerja. Tetapi dapatkah ia menggantikan peran manusia sebagai pandita atau bhiksu yang memerlukan aspek batin dalam pelayanannya?[Bhagavant, 26/8/17, Sum]

Kata kunci: