Arkeologi » Asia Oseania » Seni dan Budaya » Tiongkok

Tiongkok Berupaya Lestarikan Gua-Gua Buddhis di Xinjiang

Sabtu, 14 November 2015

Bhagavant.com,
Xinjiang, Tiongkok – Gua-gua Buddhis dan vihara yang menjadi saksi bisu keberadaan Jalur Sutra kuno di wilayah Xinjiang, Tiongkok, terancam punah karena kondisinya yang buruk.

Gua-gua Kizil, peninggalan Buddhis di Xinjiang, Tiongkok.
Gua-gua Kizil, peninggalan Buddhis di Xinjiang, Tiongkok. Foto: wikipedia.org

Sebagai contoh, Gua-gua Kizil di Xinjiang merupakan kompleks gua Buddhis utama yang terawal di Tiongkok. Meskipun telah ditemukan di abad terakhir ini, sebagian besar gua-gua Buddhis tersebut tetap tertutup untuk umum.

Hanya para pemimpin tinggi Tiongkok yang diperbolehkan untuk masuk karena lingkungan gua yang rentan, tetapi wisatawan dapat mengunjungi sekitar delapan dari 230 vihara gua yang terkenal lainnya di daerah tersebut, meskipun pengambilan gambar fotografi dilarang.

Kebanyakan dari gua-gua tersebut dalam kondisi yang buruk. Seperti yang dilansir Channel News Asia, bulan lalu pada Selasa (3/10/2015), menurut warga setempat, populasi Muslim yang tinggal di daerah tersebut, dan yang terakhir Pengawal Merah (Hóng Wèibīng) dari Revolusi Kebudayaan Tiongkok, bertanggung jawab atas banyaknya kehancuran pada interior gua, sementara pada awal abad ke-20 para arkeolog Jerman mengangkat sepotongan besar mural (lukisan dinding) dari gua-gua tersebut (kini ditempatkan di Museum Seni Asia di Dahlem, Berlin).

Lebih dari 32 juta dolar AS telah dihabiskan dalam lebih dari satu dekade terakhir untuk merestorasi gua-gua itu.

“Akademi kami berfokus terutama pada perlindungan pencegahan, karena hanya ada beberapa jenis bahan kimia di dunia yang bisa kita gunakan untuk melindungi situs-situs tersebut,” kata Xu Yongming, Presiden Akademi Kucha Xinjiang. “Tapi saya pikir kelestarian jangka panjang mural-mural ini akan terancam.”

Sebuah mural di Gua Kizil, Baicheng, Xinjiang, Tiongkok.
Sebuah mural di Gua Kizil, Baicheng, Xinjiang, Tiongkok. Foto: CNA/Jeremy Koh

Sun Lianqiang, salah satu seniman yang merestorasi mural-mural tersebut menghabiskan hingga delapan jam sehari untuk memperbaiki karya seni tersebut dalam kondisi terhimpit bebatuan gua.

“Lukisan-lukisan ini berusia beberapa ribu tahun, dan saya merasa bertanggung jawab, dan saya takut melakukan sesuatu yang salah, sehingga setiap langkah tindakan ada tekanan yang besar,” kata Sun.

Beberapa lukisan tersebut selesai dibuat pada awal abad ke-3, yang membuat mereka berusia lebih dari 2.000 tahun, sehingga selain melestarikan karya seni di sini, para pihak berwenang juga mengambil gambar dari karya seni ini untuk membentuk sebuah penyimpanan dalam jaringan (online).

“Tujuan utamanya adalah tetap untuk merekam semua informasi,” kata Xu. “Sejak 2005, kami telah melakukan berbagai hal seperti tur virtual, pemodelan gua dan virtual, sehingga saat gua-gua tersebut rusak, kami dapat merekonstruksinya berdasarkan penyimpanan online kami.”

Para pihak yang berwenang berharap bahwa upaya ini akan membantu memulihkan gua-gua tersebut sedekat mungkin dengan masa kejayaan mereka. Sehingga memberikan kesempatan banyak orang untuk melihat dan mengagumi salah satu warisan yang tersisa dari Jalan Sutra kuno tersebut.

Banyaknya gua-gua Buddhis termasuk vihara gua di Xinjiang menandakan pada masa lampau masyarakat setempat termasuk etnis Uighur banyak yang menganut Agama Buddha khususnya pada masa Kerajaan Qocho (856-1335) dan sebelum terjadi invasi dan Islamisasi oleh Muslim etnis Turk Karluks di Xinjiang.[Bhagavant, 14/11/2015, Sum]

Kata kunci:
Penulis: