Ini Arti 3 Jari pada Mudra di Rupaka Buddha

Bhagavant.com,
New Delhi, India – Tiga (3) jari ke atas pada salah satu mudra pada sebuah rupaka Buddha memiliki arti tersendiri di antara sejumlah sikap tangan yang ditampilkan.

Ini Arti 3 Jari pada Mudra Rupaka Buddha
Mudra vitarka, telapak tangan kanan menghadap ke depan dengan diangkat dan dengan mengangkat 3 (tiga) jarinya yaitu jari kelingking, jari manis dan jari tengah, sementara ujung jari telunjuk dan ibu jari saling melekat

Pernahkah Anda melihat rupaka Buddha dengan telapak tangan kanan menghadap ke depan dengan diangkat dan dengan mengangkat 3 (tiga) jarinya yaitu jari kelingking, jari manis dan jari tengah, sementara ujung jari telunjuk dan ibu jari saling melekat?

Mudra (Skt:mudrā; Pali: muddā) atau sikap tangan dengan posisi seperti itu disebut sebagai mudra vitarka (Pali: vitakka). Pada awalnya mudra vitarka pada rupaka Buddha dibuat untuk tangan kanan, belakangan gestur tersebut sering digambarkan dengan kedua tangan. Mudra vitarka dapat diterapkan pada rupaka Buddha yang dalam posisi duduk atau pun berdiri.

Kata “vitarka” (baca: witarka) sendiri secara harfiah bisa berarti: pemikiran, menyampaikan pemikiran, atau memberikan keterangan. Vitarka bisa merujuk pada aktivitas mental yang terwujud baik dalam kesadaran normal maupun pada tahap pertama konsentrasi atau kemanunggalan pikiran (Skr: dhyāna; Pali: jhāna). Mudra ini juga dikenal sebagai mudra “vyākhyāna” yang berarti penjelasan.

Dalam sutta, kata vittaka (vitarka) sering digunakan dalam pengertian yang lebih longgar yaitu pikiran, tetapi dalam Abhidhamma kata ini digunakan dalam pengertian teknis yang tepat yang berarti faktor mental yang muncul saat samadhi (bermeditasi) yang meningkatkan atau mengarahkan pikiran terhadap suatu objek.

Kata “vitarka” sering ditampilkan dengan kata “vicara” (Skt, Pali: vicāra; baca: wicara) yang secara harfiah bisa berarti: untuk bergerak, menjelajah, memperoleh pengetahuan. Dalam Abhidhamma, vicara juga disebut merupakan salah satu faktor mental yang muncul saat bermeditasi yang berperan menyelidiki apa yang menjadi fokus pikiran.

Jadi ikonografi berdasarkan pemahaman di atas, mudra vitarka pada rupaka Buddha menyimbolkan Sri Buddha dalam kondisi menyampaikan pemikiran atau memberikan keterangan, pengajaran atau penjelasan-Nya kepada mereka yang ada di hadapan-Nya.

Mudra vitarka merupakan sikap tangan yang umum dalam rupaka-rupaka Buddha asal Kerajaan Dwarawati abad ke-7 hingga abad ke-11 di wilayah yang sekarang menjadi Thailand Tengah. Terkadang mudra ini juga menggantikan mudra dharmachakrapravartana (Pali: dhammacakkapavatana – pemutaran roda Dhamma) dengan sikap tangan kanan yang sama namun ujung jari telunjuk dan ibu jari yang saling melekat disentuhkan pada jari tengah tangan kiri.

Ukiran batu adegan dari kehidupan Sri Buddha. Seni Dvaravati abad ke 7-11 M. Sri Buddha duduk dengan yang disebut sebagai gaya ‘Eropa’ dengan mudra vitarka. Karya seni ini berada di Museum Nasional Phra Pathom Chedi (Nakhon Pathom), Thailand. Ukiran aslinya ditemukan di Vihara (Wat) Sai, Nakhon Pathom.

Mudra vitarka juga terdapat pada rupaka Buddha yang ada di Candi Borobudur. Rupaka Buddha dengan mudra vitarka dengan posisi duduk tersebut berada di relung di pagar langkan baris kelima (teratas) pada bagian rupadhatu di semua sisi.

Rupaka Buddha di Candi Borobudur menampilkan mudra vitarka. Foto: wikipedia

Rupaka Buddha dengan mudra vitarka dapat diartikan bahwa sebagai Guru, Sri Buddha mengajarkan sesuatu berdasarkan alasan dan pengetahuan yang dapat diselidiki sendiri oleh para siswa-Nya.[Bhagavant, 11/2/24, Sum]

Rekomendasikan:
Seni dan Budaya