Tradisi dan Budaya

Apa yang Diucapkan dalam Salam Buddhis? Ini Jawaban STI

Jumat, 21 Agustus 2015

Bhagavant.com,
Kalimantan Timur, Indonesia – Apa yang diucapkan seorang umat Buddha sebagai ucapan salam Buddhis kepada sesamanya atau kepada masyarakat umum saat berjumpa? Dan apa yang diucapkan sebagai bentuk ungkapan rasa empati kepada kerabat dan kenalan sesama umat Buddha yang sedang berada dalam suasana duka?

Salam buddhis namaste sotthi hotu sambil sikap anjali
“Namaste, sotthi hotu!”

Dalam dokumen Kesepakatan Sangha Theravada Indonesia (STI) Nomor: 016/STI/VI/2015 dan ditandatangani oleh Y.M. Bhikkhu Jotidhammo Mahathera sebagai Sanghanayaka (Ketua Umum) pada 19 Juni 2015 di Balikpapan, STI menyampaikan beberapa hal terkait dengan kalimat apa yang diucapkan umat Buddha sebagai salam Buddhis maupun salam umum beserta contoh penerapannya.


1. Salam Buddhis dan Salam Umum

Ditujukan kepada sesama umat Buddha, kata salam Buddhis yang digunakan adalah: “Buddhānubhāvena sotthi hotu“, berarti dengan kekuatan nilai-nilai luhur Buddha, semoga kesejahteraan ada pada Anda/-sekalian, atau dapat disingkat menjadi “Sotthi hotu“, berarti semoga kesejahteraan ada pada Anda/-sekalian.

Ditujukan kepada masyarakat umum, kata salam umum yang digunakan adalah: “Sotthi hotu“, berarti semoga kesejahteraan ada pada Anda/-sekalian.

Ditujukan kepada seseorang/orang-orang yang dituakan atau dihormat, kata salam Buddhis dan salam umum menggunakan “Namaste“, berarti penghormatan (saya/kami) kepada Anda.

Keterangan:
Secara harfiah, kata “sotthi” berarti keadaan/keberadaan baik, dari partikel kata “su” berarti baik, dan “danatthi” berarti keberadaan.


2. Istilah “Namo Buddhāya”

Istilah “Namo Buddhāya” setara dengan frase “Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”, “Namatthu Buddhasa”, “Namo Ratanattayaya”, dan beberapa lainnya.

Istilah-istilah tersebut umumnya digunakan pada waktu seseorang sedang menyampaikan uraian berciri keagamaan, berpidato, atau menyatakan ungkapan hati dengan penuh kesungguhan, misalnya: bertekad dan bersumpah.


3. Istilah “Samvegacitta”

Untuk kepentingan mengungkapkan rasa empati kepada kerabat dan kenalan sesama umat Buddha yang sedang berada dalam suasana duka, kalimat yang diucapkan adalah:

Turut ber-samvegacitta atas kewafatan mendiang Ibu/Bapak/Sudara/Saudari ……. ,
Ibunda/Ayahanda/Putri/Putra/Kakak/Adik ……………………….. ,
Sugatim vā saggam lokam uttarim vā upapajjatu.

Keterangan:
Kalimat “Sugatim vā saggam lokam uttarim vā upapajjatu”, berarti semoga mendiang terlahir di alam surga menyenangkan atau lebih dari itu.

Jika yang meninggal lebih dari 1 orang, kata ‘upapajjatu’ diubah menjadi ‘upapajjantu’.

Samvegacitta merupakan pikiran disertai hal-hal batiniah yang kuat muncul sebagai tanggapan atas kejadian menggugah hati, mengarah ke perenungan pada pengetahuan kebenaran alamiah, misalnya pada saat kejadian orang yang dicinta/dihormat meninggal dunia.

Ada sebuah kronologis, pada waktu Guru Agung Buddha Parinibbāna, para awam menangis berderai air mata, sedangkan para ariyasāvaka memasuki pemikiran yang diwarnai oleh samvega (hal-hal batiniah yang kuat).

Hal-hal batiniah (cetasika) di atas mengacu ke nilai-nilai positif, seperti: paññā (kebijaksanaan), mettā (cinta kasih), karuņā (welas asih), upekkhā (keseimbangan batin), dan lain-lain, khususnya adalah paññā dan upekkhā.


4. Istilah “Anumodana” dan “Terima Kasih”
Penggunaan kata “Anumodana” berbeda sedikit dengan kata  “Terima kasih”

Kata ‘anumodana’ berarti sikap turut bersuka cita atas perbuatan baik yang telah dilakukan seseorang. Ini berbeda sedikit dengan kata ‘terima kasih’ yang berarti sikap menghargai/senang atas barang atau jasa yang orang lain berikan kepada dirinya. Perbedaanya terletak pada penekatan di sisi perbuatan untuk makna kata anumodana, dan penekanan disisi hal-hal terkait dengan perbuatan itu yaitu berupa barang atau jasa yang diberikan untuk kata terimakasih.

Perbedaan dalam bentuk praktiknya adalah, jika ada seseorang yang melakukan kebaikan berupa memberi namun barang yang diberikan tersebut bukan ditujukan untuk diri penerima secara pribadi, atau melakukan kebaikan dalam bentuk lain, misalnya bertekad melaksanakan uposathasila atau berlatih meditasi, sikap yang kita tunjukkan kepadanya adalah turut bersuka cita atas perbuatan yang dilakukan, yaitu kita mengucapkan kata ‘anumodana’. Sedangkan, jika ada seseorang yang melakukan kebaikan, khususnya berupa memberi, dan pemberian itu ditujukan kepada diri kita secara pribadi, sikap yang kita tujukkan kepadanya adalah menghargai/senang atas barang atau jasa yang diberikan itu, yaitu kita mengucapkan kata ‘terima kasih’.

Contoh kasus:

a. Kumara mendengarkan cerita Taruna, temannya, bahwa Taruna baru saja mendanakan tanahnya kepada sebuah lembaga yatim piatu.

b. Kumara mendengarkan cerita Bhante Tissa, gurunya, bahwa beliau baru saja memberikan uraian Dhamma kepada anak-anak di sebuah lembaga yatim piatu.

c. Kumara yang menjabat sebagai bendahara sebuah vihara atau perkumpulan Buddhis menerima sumbangan dana dari Taruna untuk biaya operasional vihara atau perkumpulan itu.

Untuk kasus a, b, dan c di atas, kata yang diucapkan adalah ‘anumodanā’.

d
. Taruna menerima pemberian buku Dhamma dari Kumara.

e. Taruna, sebagai pimpinan pujabakti, bersama dengan teman-temannya menerima wejangan Dhamma dari Bhante Tissa.

f. Taruna memberi obat kepada Ibunya Kumara dengan cara menyerahkan obat itu kepada Kumara untuk diberikan kepada Ibunya. Kumara menerima obat itu.

g. Bhante Tissa menerima pemberian jubah dari Bhante Puņņa untuk dirinya. Bhante Puņņa juga memberi jubah bagi para sāmaņera murid Bhante Tissa yang diberikan melalui Bhante Tissa.

Untuk kasus d hingga g di atas, kata yang diucapkan adalah ‘terimakasih’. Untuk kasus f, Kumara mengucapkan terima kasih untuk mewakili Ibunya. Demikian pula kasus g.

h
. Bhante Tissa menerima dana tiket kereta api untuk perjalanan beliau kembali ke viharadari Taruna.

Untuk kasus h di atas, kata yang diucapkan adalah ‘anumodanā’ karena Bhante Tissa,  termasuk juga pada umumnya para bhikkhu, dalam hubungannya dengan umat lebih menitikberatkan pada sisi perbuatannya alih-alih pada barang atau jasa yang umat berikan. Walau demikian, dalam situasi yang persis sama seperti itu, para bhikkhu bisa juga mengucapkan ‘terima kasih’.

Keterangan:
Istilah ‘anumodāmi’ atau ‘sādhu, anumodāmi’ dapat pula digunakan sebagai varian istilah anumodanā.

Kata ‘anumodanā’ adalah kata benda, berarti tindak turut bersuka cita. Sedangkan, kata anumodāmi’ adalah kata kerja, berarti ‘saya turut bersuka cita’. Kata ‘sādhu’ ditambahkan sebagai pemanis dalam berbahasa, berarti ‘bagus’, atau bisa juga ‘semoga kebajikan yang telah Anda lakukan menghasilkan buah sesuai harapan’. Jika diucapkan mewakili diri sendiri dan orang lain, yaitu dalam bentuk jamak, kata di atas diubah menjadi ‘anumodāma’, atau ‘sādhu, anumodāma’.


5. Ungkapan Bahagia atas Keberhasilan

Untuk kepentingan mengungkapkan rasa bahagia atas keberhasilan yang telah dicapai, digunakan kata “abhiṭhuti ratanattayagunesu ca me katakusalesu”, berarti gembira ria saya atas nilai-nilai luhur Tiratana dan kebajikan-kebajikan yang telah saya lakukan. Penggunaan secara keseharian memungkinkan untuk disingkat “abhiṭhuti”.

Dengan adanya penjelasan dari STI mengenai salam Buddhis tersebut diharapkan umat Buddha memiliki acuan dan tidak lagi merasa bingung untuk mengungkapkan ekspresinya dalam bentuk ucapan salam baik kepada sesama Buddhis maupun kepada masyarakat umum.[Bhagavant, 21/8/15, Sum]

Kata kunci: