Seremonial » Tradisi dan Budaya

Bagaimana Cara Menolong Leluhur Saat Hari Ullambana

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Bagaimana cara menolong leluhur di alam hantu kelaparan saat Hari Ullambana? Berikut caranya berdasarkan ajaran Buddha.

Bagaimana Cara Menolong Leluhur Saat Hari Ullambana

Setiap bulan 7 (Cit Gwee) penanggalan lunar (Imlek) yang biasanya jatuh di bulan Agustus, sebagian masyarakat etnis Tionghoa dan peranakannya di dunia merayakan festival “Bulan Hantu” atau Zhong Yuan Jie (中元節) yang sedikit banyak diselimuti dengan kisah-kisah horor dan suram.

Pada bulan yang sama, sebagian umat Buddha khusus yang mempraktikkan tradisi Mahayana, memperingati Hari Ullambana (Yú lán pén; 盂蘭盆) pada tanggal 15 penanggalan Imlek, yaitu hari untuk mengenang dan membantu para mendiang leluhur yang terlahir di alam hantu pengembara (Pali: peta; Skt: preta) sebagai bentuk bakti.

Meskipun jatuh di bulan yang sama pada penanggalan Imlek, dan terkait dengan alam hantu, namun sejarah dan praktik antara festival “Bulan Hantu” atau Zhong Yuan Jie dengan Hari Ullambana (Yú lán pén; 盂蘭盆) cukup berbeda.

Sejarah Hari Ullambana sendiri muncul berdasarkan pada kepustakaan Agama Buddha tradisi Mahayana yaitu Sutra Ullambana (佛说盂兰盆经 – Fú Shuō Yú Lán Pén Jīng).

Sutra tersebut berisi mengenai Yang Arya Maudgalyāyana (Pali: Moggallāna), salah satu Siswa Utama Sri Buddha yang ingin menolong mendiang ibunya yang terlahir di alam hantu pengembara.

Dan dalam praktik merayakan Hari Ullambana umat Buddha tidak membakar uang-uang kertas yang diharapkan menjadi uang asli yang dapat digunakan oleh para leluhur untuk membeli makanan dan pakaian sehingga membantu mereka menghilangkan kelaparan dan kemiskinan mereka di alam hantu pengembara.

Lalu bagaimana cara menolong leluhur saat Hari Ullambana?

Sebelum mengetahui bagaimana caranya menolong para mendiang leluhur, perlu diketahui bahwa tidak semua mendiang leluhur dapat dibantu, hanya mendiang leluhur yang dilahirkan di alam hantu pengembara yang dapat menerima pertolongan. Hal ini dikarenakan mereka yang telahir kembali di alam hantu pengembara yang masih berada dekat dengan kehidupan manusia karena kemelekatannya yang kuat pada berbagai hal yang ada pada kehidupan sebelumnya.

Berdasarkan teks-teks Buddhis, ciri-ciri dari makhluk yang telahir di alam hantu pengembara adalah berwujud dan berwajah buruk, suram, dan memiliki kebiasaan yang selalu merasa tidak puas (lapar), oleh karena itu disebut dengan hantu kelaparan. Untuk memuaskan rasa laparnya mereka terpaksa hidup dengan memakan kotoran dan limbah yang ada banyak di sekitar mereka. Tetapi tetap tidak dapat memuaskan mereka.

Cara menolong leluhur saat Hari Ullambana

Dalam Sutra Ullambana, Y.A. Maudgalyāyana, dalam meditasinya, melihat mendiang ibunya yang terlahir kembali sebagai hantu kelaparan dan beliau ingin menolongnya. Bahkan dengan kekuatan batinnya yang tinggi untuk menciptakan makanan, Y.A. Maudgalyāyana tetap tidak bisa menolong mendiang ibunya untuk terbebas dari rasa lapar dan mengakhiri penderitaannya di alam hantu pengembara. Makanan yang beliau ciptakan akan selalu berubah menjadi bara api saat hendak memasuki mulut mendiang ibunya.

Dengan demikian, menggunakan cara-cara seperti menyediakan makanan dan minuman di pojok-pojok area atau pun altar, bahkan membakar uang-uang kertas palsu, juga tidak bisa menolong mendiang leluhur untuk lepas dari penderitaannya.

Berdasarkan nasihat Sri Buddha, Y.A. Maudgalyāyana akhirnya dapat membantu ibunya dengan cara memberikan persembahan dana kepada Sangha (komunitas para bhiksu/bhikkhu) pada tanggal 15 di bulan 7 yang kini dikenal sebagai Hari Ullambana.

Hari yang dianjurkan oleh Sri Buddha untuk melakukan persembahan dana kepada Sangha tidak hanya sekadar mengambil hari, tetapi hari itu diambil karena merupakan hari berkumpulnya Sangha setelah mereka menunaikan masa Varsa (Pali: Vassa), yaitu retret musim penghujan selama 3 bulan untuk memurnikan diri. Hari saat berkumpulnya Sangha setelah mereka menunaikan masa Varsa disebut sebagai Hari Pravarana (Pali: Pavarana).

Perlu dicatat bahwa Hari Pravarana pada tanggal 15 di bulan 7 penanggalan Imlek adalah Hari Pravarana bagi para bhiksu dalam tradisi Mahayana yang telah mengonversi tanggal 15 di bulan 7 penanggalan India kuno menjadi penanggalan Tionghoa.

Seorang umat Buddha dapat menolong leluhur mereka yang telahir di alam hantu kelaparan dengan cara mempersembahkan dana kepada para anggota Sangha yang telah memurnikan diri, dan para anggota Sangha membacakan teks perlindungan dan sutra untuk para mendiang leluhur.

Dalam teks-teks kitab suci, memberi dana kepada mereka yang telah berlatih memurnikan diri, memiliki nilai kebajikan dan dampak yang tinggi. Begitu juga dengan para bhiksu/bhikkhu yang telah memurnikan diri memiliki nilai kebajikan dan dampak yang tinggi.

Perpaduan dari kedua kekuatan ini – kebajikan umat dan para bhiksu/bhikkhu yang dilimpahkan dapat membantu para mendiang leluhur di alam hantu pengembara atau hantu kelaparan dalam mengurangi penderitaan mereka.

Praktik menolong para mendiang leluhur dengan melakukan persembahan dana kepada Sangha juga terdapat dalam tradisi Buddhis Theravada yang dikenal dengan praktik pelimpahan jasa (Pali: pattidāna; Skt: pariṇāmanā).

Pada dasarnya praktik pelimpahan jasa untuk para leluhur dapat dilakukan kapan saja, namun pelimbahan jasa dengan memberikan persembahan kepada Sangha saat setelah para anggotanya berlatih diri memiliki nilai yang lebih tinggi pada hari-hari biasanya.

Dan setelah mempersembahkan dana kepada Sangha, umat dianjurkan untuk memfokuskan pikirannya dan seraya berharap semoga dengan jasa kebajikan yang telah dilakukan dapat terlimpahkan kepada para makhluk (leluhur) yang berhubungan dengan karma dengan dirinya.[Bhagavant, 26/8/23, Sum]

Rekomendasikan:

Kategori: Seremonial,Tradisi dan Budaya
Kata kunci:
Penulis:
REKOMENDASIKAN BERITA INI: