Buddhis Myanmar Rayakan Festival Kyauktawgyi Ke-135

Bhagavant.com,
Mandalay, Myanmar – Umat Buddha di Myanmar merayakan Festival Stupa Kyauktawgyi Ke-135 yang diadakan di Daerah Uboaktaw, Kotapraja Aungmyaythazan, Wilayah Mandalay, pada Minggu (22/10/2023).

Buddhis Myanmar Rayakan Festival Kyauktawgyi Ke-135
Rupaka Buddha Maha Thetkya Marazain di Stupa Kyauktawgyi, Mandalay, Myanmar. Foto: wikipedia

Seperti yang dilansir Eleven Myanmar, Senin (23/10/2023), menurut U Kyaw Win, Ketua Dewan Pengawas Stupa tersebut, festival itu dimulai dari 22 Oktober hingga 1 November 2023

Stupa Kyauktawgyi artinya Stupa Rupaka Marmer Besar. Stupa ini juga dikenal karena sebagai tempat berdirinya rupaka Buddha yang terbuat dari satu balok marmer utuh berwarna putih hijau pucat.

Rupaka Buddha marmer tersebut dikenal dengan nama Maha Thetkya Marazain (Pali: Mahāsakyamārajina). Oleh karena itu stupa ini juga disebut sebagai Stupa Maha Thetkya Marazain yang artinya Stupa Petapa Sakya Agung Penakluk Mara.

Stupa Kyauktawgyi dibangun oleh Raja Mindon Min pada tahun 1847 dan berdiri di kaki Bukit Mandalay.

U Kyaw Win juga mengatakan bahwa kegiatan persembahan makanan kepada 2.567 bhikkhu dalam prosesi pindapata dari empat distrik di Wilayah Mandalay akan diadakan sekitar pukul 07.30 pada tanggal 1 November 2023.

Selama festival ini, ribuan penduduk desa Mandalay dan penduduk lokal di seluruh Myanmar akan datang ke Mandalay untuk memberi penghormatan pada rupaka Buddha marmer di Stupa Kyauktawgyi.

Perayaan tersebut melibatkan kombinasi harmonis antara kegiatan karnaval yang menarik dan upacara keagamaan tradisional. Para wisatawan dapat menemukan suvenir menarik di pasar dan merasakan pengalaman pasar otentik di dekat vihara.

Para wisatawan dapat mengunjungi karnaval dan menikmati lingkungan yang penuh kegembiraan, atau bergabung dengan penduduk setempat dalam puja dan memberikan penghormatan kepada stupa di bawah bimbingan para bhikkhu di area tersebut.

Sedangkan para pencinta budaya akan senang menyaksikan festival Buddhis kuno ini karena menampilkan kombinasi kontras antara keaktifan pasar lokal dan lingkungan damai di situs keagamaan tersebut.[Bhagavant, 23/10/23, Sum]

Rekomendasikan:
Asia TenggaraBirmaTradisi dan Budaya