Indonesia » Seremonial

Pelantunan Tipitaka Massal di Borobudur

Minggu, 26 Juli 2015

Bhagavant.com,
Jawa Tengah, Indonesia – Teks-teks Tipitaka bergema saat para bhikkhu, samanera, dan upasaka-upasika serta umat Buddha awam lainnya dari berbagai daerah melantunkannya di Taman Lumbini, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada Sabtu (25/9/2015).

Pelantunan Tipitaka di Candi Borobudur pada hari ke-2, Minggu (26/7/2015).
Pelantunan Tipitaka di Candi Borobudur pada hari ke-2, Minggu (26/7/2015). Foto: FB Indonesia Tipitaka Chanting

Acara pelantunan teks-teks Tipitaka yang diselengarakan dalam rangka memperingati Hari Asadha Puja atau Asalha Puja 2559 EB / 2015 tersebut, dilaksanakan mulai Sabtu pukul 08.00 WIB hingga Minggu (26/7) malam, dan pembukaannya ditandai dengan pemukulan gong oleh Sutarso S.Ag., MM., Pembimbing Masyarakat Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah.

Sejumlah bhikkhu senior dari Sangha Theravāda Indonesia (STI) nampak menyalakan lilin dan dupa di altar besar dengan aneka hiasan yang didirikan di bawah tenda di Taman Lumbini, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, mengawali prosesi pelantunan teks-teks Tipitaka secara massal tersebut.

Seperti yang dilansir Antara, Sabtu (25/7/2015), Sutarso menyambut gembira pelantunan Kitab Tipitaka dan perayaan Asadha di Borobudur karena hal itu salah satu cara umat mempertahankan Dhamma yang telah dipelajari secara teoritis.

Pada saat jeda sesi pertama pelantunan Tipitaka tersebut, ia mengatakan bahwa setelah mempelajari Dhamma, umat melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Setelah belajar teori dan melaksanakan, harapannya umat akan merasakan hasilnya, antara lain berupa keberkahan, panjang usia, dan paras bahagia,” katanya.

Ketua Panitia Pelaksana Pusat Indonesia Tipitaka Chanting dan Puja bakti Agung Asalha 2559/2015 Romo Pandita Ir. Arya Candra mengatakan bahwa puncak perayaan pada Minggu (26/7) di Candi Borobudur, dihadiri sekitar 5.000 umat dari Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan provinsi lainnya, dengan sekitar 150 bhikkhu dari dalam negeri dan belasan lainnya berasal dari beberapa negara.

Rangkaian puncak kegiatan yang mengangkat tema: “Melestarikan Dharma demi Kesejahteraan Bangsa” tersebut, antara lain berupa prosesi Maha Puja Asalha, penyalaan lilin dan dupa, meditasi, penyampaian pesan Asadha, pemercikan air suci, serta pradaksina di Candi Borobudur.

“Perayaan ini memberikan semangat spiritual bagi umat Buddha untuk lebih menghayati ajaran Guru Agung Buddha Gautama, sehingga umat lebih bersemangat menempuh jalan hidup yang benar menuju kebahagiaan, sehingga umat dapat memberikan sumbangan nilai-nilai dan perilaku hidup yang humanis bagi masyarakat,” kata Romo Arya.

Romo Arya juga menambahkan bahwa dengan melestarikan Dhamma melalui tutur kata maupun perilaku individu dan sosial bermasyarakat, maka umat Buddha turut berperan nyata dalam peningkatan kesejahteraan bangsa menuju cita-cita keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia.

Tipitaka merupakan kanon atau kitab suci Agama Buddha yang berisi Ajaran Buddha yang telah dibabarkan oleh Buddha Gotama lebih dari 2600 tahun yang lampau. Kanon Tipitaka yang ditulis dalam bahasa Pali tersebut berisi semua aturan kehidupan kebhikkhuan, filsafat agama dan khotbah-khotbah Buddha Gotama termasuk khotbah pertama-Nya setelah mencapai Pencerahan Sempurna yaitu Dhammacakkappavattana Sutta atau Khotbah Pemutaran Roda Dhamma.[Bhagavant, Antara, 26/7/15, Sum]

Kata kunci:
Penulis: