Inggris Raya » Meditasi

Novak Djokovic Kerap Bermeditasi di Vihara Saat Wimbledon

Rabu, 8 Juli 2015

Bhagavant.com,
London, Inggris Raya – Petenis pria No.1 dunia, Novak Djokovic, mengunjungi vihara di London untuk melakukan meditasi agar tetap fokus saat kejuaraan tenis Wimbledon yang berlangsung pada 29 Juni – 12 Juli 2015.

Novak Djokovi
Novak Djokovic (2007). Foto: wikipedia.org

Tak lama setelah melangkah dari Lapangan Utama, Jumat (3/7/2015), di mana ia mencatat kemenangan dua set langsung, Novak Djokovic ditanya mengenai apa yang telintas dalam pikirannya ketika ia bermain. Ia menceritakan jawabannya.

“Saya mencoba untuk menempatkan diri saya hanya pada momen kekinian, tidak melawan menentang pemikiran-pemikiran dan tekanan dan kegairahan, tapi hanya mengenali mereka dan menyadari pemikiran-pemikiran saat ini tetapi juga mencoba untuk menjaga kendali diri dan tenang,” kata Djokovic seperti yang dilansir The Independent, Minggu (5/7/2015). “Saya mencoba untuk hanya berada pada momen tersebut dan menikmati.”

Djokovic sering dianggap sebagai salah satu dari pemain terkuat olahraga dalam hal ketangguhan mental. Ini merupakan teknik yang telah ia disempurnakan melalui meditasi, dan saat ia berada di Wimbledon ia menggunakan sebuah vihara di dekatnya sebagai tempat bernaung.

Vihara Buddhapadipa (Wat Buddhapadipa) merupakan sebuah vihara berarsitektur Thailand di jalan pinggiran kota yang rimbun, hanya sekitar lima menit berkendara dari All England Club. Novak Djokovic yang telah menggunakan situs seluas empat hektar tersebut untuk melakukan meditasi selama beberapa tahun belakangan ini, merupakan pengunjung yang paling terkenal di vihara tersebut.

Gedung Uposatha di Vihara Buddhapadipa, Wimbledon, London, Inggris Raya.
Gedung Uposatha di Vihara Buddhapadipa, Wimbledon, London, Inggris Raya. Foto: panoramio – amenini70

“Kami sekarang sudah mengenalnya selama beberapa waktu,” kata Y.M. Phramaha Bhatsakorn Piyobhaso, salah satu dari tujuh bhikkhu yang saat itu menetap di vihara tersebut. “Novak datang ke sini sendiri. Ia hanya berjalan masuk dan menyapa orang-orang di sini dan melanjutkan untuk bermeditasi sendiri.”

Para staf vihara yang telah berada di vihara sejak tahun 1976, mengenali pemain asal Serbia tersebut tapi mereka mencoba untuk tidak mengganggunya ketika ia datang untuk bermeditasi, biasanya ia datang pagi-pagi saat tempat tersebut tenang. Ia menghormati yang ada di sekitarnya tapi tidak berbicara dengan para bhikkhu.

“Terkadang ia meminta staf kami untuk membuka bangunan utama untuknya, sehingga ia bisa masuk ke dalam dan duduk diam untuk sementara di sana,” kata Bhikkhu Piyobhaso. “Saya pikir dia belajar bagaimana untuk bermeditasi sendiri. Ia berjalan di sekitar vihara dan menghabiskan satu atau dua jam sendiri. Ia hanya datang ke vihara untuk menikmati alam, ketenangan dan lingkungan yang indah.”

Vihara Buddhapadipa yang terletak di Jalan Calonne 14, Wimbledon, London, dan tidak jauh dari All England Club, berada di lingkungan yang cukup asri. Di sana terdapat sebuah jalan teduh terjalin di antara pohon-pohon dan melintasi beberapa jembatan kayu lengkung sebelum akhirnya naik ke area yang lebih tinggi, dan terdapat tangga putih menuju gedung Uposatha yang berwarna putih dengan atap berwarna merah dan emas. Hal-hal ini menjadi salah satu alasan mengapa petenis pria No. 1 dunia tersebut memilih untuk mengunjungi vihara itu.

Dalam gedung Uposatha, pada dinding-dindingnya terdapat mural yang menceritakan kisah hidup Buddha Gotama. Pada altar tampak tiga rupaka Buddha, pertama rupaka Buddha dari perunggu hitam sebagai rupaka utama, rupaka Buddha berwarna emas dan rupaka reprika Buddha Zamrud yang ada di Bangkok, Thailand.

Jembatan kayu lengkung di Vihara Buddhapadipa.
Jembatan kayu lengkung di Vihara Buddhapadipa. Foto: panoramio – amenini70

Serangkaian papan-papan kayu petunjuk diukir dengan tulisan mengenai ajaran Buddha disusun di sepanjang jalan. “Walaupun seseorang dapat menaklukkan ribuan musuh dalam ribuan kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri,” bunyi salah satu papan petunjuk yang berisi ayat Dhammapada 103.

Pemain tenis profesional sering mengatakan cara terbaik untuk bermain adalah angka demi angka, alih-alih mengkhawatirkan tentang set yang baru saja hilang dan mengkhawatirkan banyaknya set. Menurut Bhikkhu Piyobhaso, meditasi membantu untuk hal tersebut karena meditasi memfokuskan pikiran pada pemecahan “masalah di depan Anda”.

“Saya pikir meditasi membantunya untuk mengembangkan konsentrasi: untuk menjaga fokus, terutama ketika bermain tenis,” kata Bhikkhu Piyobhaso mengenai Djokovic. “Hanya berfokus pada masa ini (kekinian): itulah manfaat dari meditasi.”

Dalam beberapa penelitian, meditasi terbukti memiliki manfaat seperti meningkatkan jangka waktu perhatian atau berfokus lebih baik untuk waktu yang lama dalam sebuah tugas yang mengharuskan untuk membedakan perbedaan-perbedaan kecil di antara sesuatu yang seseorang lihat. Meditasi perhatian penuh atau kesadaran penuh, dalam sebuah penelitian, dapat mengobati penyakit dalam hal mengurangi peradangan.

Namun, satu hal yang sering dilupakan oleh banyak orang yang ingin memetik “buah manis” dari meditasi jenis apapun yaitu dukungan dari praktik kemoralan. Tanpa latihan praktik kemoralan, dapat mengurangi manfaat meditasi bahkan cenderung mengganggu praktik meditasi itu sendiri.[Bhagavant, 8/7/15, Sum]

Kata kunci:
Penulis: