Jepang » Perdamaian » Tokoh

Untuk Perdamaian Bhikkhu Sri Lanka Terjemahkan Manga Jepang

Kamis, 2 Juli 2015

Bhagavant.com,
Chiba, Jepang – Seorang bhikkhu duta dhamma dari Sri Lanka di Jepang mempromosikan perdamaian dengan menerjemahkan sebuah manga (komik asal Jepang) mengenai kisah yang menggambarkan peristiwa setelah bom atom Hiroshima, ke dalam bahasa Sinhala.

Manga “Hadashi no Gen” (Barefoot Gen) di Indonesia diterjemahkan dengan judul
Manga “Hadashi no Gen” (Barefoot Gen) di Indonesia diterjemahkan dengan judul “Gen Si Kaki Ayam”, karya Keiji Nakazawa. Foto: japantimes.co.jp

Y.M. Bhikkhu Thalangalle Somasiri (55), yang merasa tergerak setelah membaca mangaHadashi no Gen” (Barefoot Gen; Gen Si Kaki Ayam), merilis volume 1 dan 2 komik tersebut di Sri Lanka pada musim semi ini setelah menerjemahkannya ke dalam bahasa Sinhala, salah satu bahasa yang secara luas digunakan di negara itu.

Bhikkhu Somasiri adalah kepala vihara dari Maha Vihara Sama (Sama Maha Viharaya) yang dikenal sebagai “Heiwa dera” (vihara perdamaian) dalam bahasa Jepang, di pinggiran kota Kolombo.

Ia mengunjungi Jepang beberapa kali dalam setahun dan berpartisipasi dalam sosialisasi duta dhamma kepada rekan-rekannya di Vihara Lanka (Lanka-ji) di Katori, Prefektur Chiba, yang terletak dekat dengan Bandar Udara Internasional Narita.

Pada musim panas yang lalu, Yoko Matsubayashi, seorang viharawati berusia 76 tahun, yang tinggal di Yokohama memperkenalkan serial Hadashi no Gen kepadanya.

Bhikkhu Somasiri segera menyelesaikan membaca manga karya Keiji Nakazawa (1939-2012) tersebut, yang mengisahkan mengenai pengalaman pribadi penulis yang digambarkan melalui tokoh protagonis, Gen, sebagai korban dari bom atom Hiroshima pada 6 Agustus 1945.

Y.M. Bhikkhu Thalangalle Somasiri menerjemahkan manga “Hadashi no Gen” (Barefoot Gen; Gen Si Kaki Ayam) ke dalam bahasa Sinhala.
Y.M. Bhikkhu Thalangalle Somasiri menerjemahkan manga “Hadashi no Gen” (Barefoot Gen; Gen Si Kaki Ayam) ke dalam bahasa Sinhala. Foto: Ko Iwaki – The Asahi Shimbun

“Sikap Gen yang berusaha keras dalam hidupnya mengajarkan kita pentingnya perdamaian dan keberanian,” kata Bhikkhu Somasiri, seperti yang dilansir The Asahi Shimbun, Senin (29/6/2015).

Tergerak oleh serial manga tersebut, Bhikkhu Somasiri kembali mengunjungi Atomic Bomb Dome dan Museum Monumen Perdamaian Hiroshima di Hiroshima pada musim gugur lalu. Pengalaman tersebut menguatkan tekadnya untuk menerjemahkan serial tersebut agar dapat tersedia di Sri Lanka.

Untuk melakukannya, Bhikkhu Somasiri bangun dua jam lebih awal dari biasanya di pagi hari dan bekerja menerjemahkan manga tersebut sampai pukul 5 pagi saat ia melantuntkan paritta sebagai puja bakti harian. Bhikkhu Somasiri mengatakan ia meminta Matsubayashi untuk mengartikan kata-kata yang diungkapkan dalam dialek Hiroshima dan bahasa gaul Jepang di manga tersebut melalui Internet.

Pada akhir Maret, Bhikkhu Somasiri mengumumkan publikasi pertama dari “Hadashi no Gen” edisi Sinhala di Vihara Lanka (Lanka-ji). Dan ia berencana untuk menerbitkan kesepuluh serial tersebut di Sri Lanka dalam waktu lima tahun.

Bhikkhu Somasiri juga berencana untuk menerjemahkan “Nagasaki no Kane” (The Bells of Nagasaki; Bel Nagasaki) karya Takashi Nagai (1908-1951), seorang dokter, tentang pengalamannya sebagai korban dari bom atom yang dijatuhkan di Nagasaki pada 9 Agustus 1945.

“Ini adalah tugas bagi seorang agamawan, seperti saya sendiri, berharap untuk perdamaian,” kata Bhikkhu Somasiri.

Pada usia 12, Bhikkhu Somasiri memasuki kebhikkhuan. Ia datang ke Jepang untuk pertama kalinya pada tahun 1988 untuk belajar di Universitas Taisho di Tokyo. Ia telah menerbitkan buku-buku teks Jepang dan buku-buku tentang kisah-kisah kuno Jepang di Sri Lanka.[Bhagavant, 2/7/15, Sum]

Kata kunci:
Penulis: