Kesenian » Teknologi » Tiongkok

Printer 3D Lestarikan Warisan Budaya Buddhis Tiongkok

Selasa, 27 Mei 2014

Bhagavant.com,
Beijing, Tiongkok – Teknologi muktahir pencetak tiga dimensi atau printer 3D saat ini menjadi tren dan meluas di dunia. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk bidang industri desain, tetapi juga digunakan dalam bidang pelestarian benda-benda kuno warisan budaya, seperti yang dilakukan oleh tim dari Akademi Warisan Budaya Tiongkok (Zhōngguó wénhuà yíchǎn yán jiù yuàn) di Beijing, Tiongkok.

Rupaka Avalokitesvara Bertangan Seribu (Qiānshǒu Guānyīn) di Pahatan Batu Dazu, Chongqing, Sichuan, Tiongkok.
Rupaka Avalokitesvara Bertangan Seribu (Qiānshǒu Guānyīn) di Pahatan Batu Dazu, Chongqing, Sichuan, Tiongkok.

Untuk melestarikan warisan budaya Buddhis yang tak ternilai dan yang telah termakan zaman selama beberapa abad, baru-baru ini tim Akademi Warisan Budaya Tiongkok melakukan restorasi dengan bantuan model replika rupaka Avalokitesvara Bertangan Seribu (Sahasra-bhuja Avalokitesvara, Qiānshǒu Guānyīn) pada Pahatan Batu Dazu (Dàzú Shíkè) di Chongqing, Sichuan, dengan menggunakan teknologi printer 3D.

Rupaka Avalokitesvara Bertangan Seribu merupakan bagian dari Pahatan Batu Dazu yang berasal dari masa Dinasti Song Selatan (1127–1279). Keseluruhan rupaka Buddhis yang dipahat dari batu termasuk empat pengiringnya tersebut berukuran tinggi 7,7 meter dan lebar 12,5 meter. Rupaka tersebut dipahat di sebuah tebing setinggi 15-30 meter.

Pemindaian rupaka Qiānshǒu Guānyīn untuk proses printer 3D.
Pemindaian rupaka Qiānshǒu Guānyīn untuk proses printer 3D.

Di Museum Pahatan Batu Dazu di wilayah barat daya Tiongkok, teknologi printer 3D telah berhasil membuat sebuah model replika berskala 1:3 yang cukup presisi (tepat) dari rupaka Avalokitesvara bertangan seribu tersebut. Ini merupakan pertama kalinya bagi Tiongkok menggunakan teknologi 3D untuk pelestarian artefak-artefak batu yang besar.

Keberhasilan ini memberikan peningkatan yang besar dalam proyek restorasi yang telah dimulai pada tahun 2011.

“Kami menggunakan teknologi 3D karena memberikan lebih presisi dan terintegritas untuk pekerjaan kami. Rupaka itu dipindai dengan laser, dan kami menghasilkan sebuah replika yang hampir sempurna dari aslinya,” kata Zhan Changfa, Kepala Akademi Warisan Budaya Tiongkok, seperti yang dilansir CNTV, Rabu (21/5/2014).

Replika berskala 1:3 dari Qiānshǒu Guānyīn hasil printer 3D.
Replika berskala 1:3 dari Qiānshǒu Guānyīn hasil printer 3D. Foto: Video CNTV/CCTV

Sejak diciptakannya 800 tahun yang lalu, erosi telah secara perlahan-lahan menggerogoti rupaka bodhisattva bertangan seribu tersebut. Upaya renovasi yang terakhir terjadi pada 100 tahun yang lalu pada masa Dinasti Qing, ketika sejumlah besar kertas emas melekat pada permukaan rupaka tersebut.

Karena kondisinya yang rumit dan tak ternilai, memperbaiki rupaka tersebut memerlukan perhatian dan kesabaran. Opini masyarakat mengenai kekhawatiran hasil akhirnya yang berbeda dari yang dicapai oleh pencipta asilnya, menambahkan tekanan pada upaya restorasi tersebut. Tapi pihak yang bertanggung jawab bersikeras bahwa dengan teknologi baru, rupaka tersebut akan dikembalikan ke keindahan aslinya.

”Museum Istana Taipei memiliki lukisan bodhisattva bertangan seribu. Banyak ciri-cirinya menyerupai dengan apa yang kita miliki di sini, jadi ini adalah referensi besar bagi kami saat kami melaksanakan renovasi dan restorasi,” kata Zhan.

Masker dikenakan pada wajah rupaka tersebut untuk mempertegas kesatuan struktural dan membuka jalan bagi perbaikan di masa mendatang.

Pelekatan masker para rupaka Qiānshǒu Guānyīn sebagai salah satu proses pelestarian.
Pelekatan masker para rupaka Qiānshǒu Guānyīn sebagai salah satu proses pelestarian. Foto: cntv.cn

“Kami menyuntikkan bahan kimia khusus ke rupaka tersebut untuk membuatnya lebih solid, tetapi membutuhkan waktu baginya untuk masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dari batu tersebut. Kami juga harus mengulangi proses tersebut 7 sampai 8 kali,” kata Chen Huili, Wakil Kepala Akademi Warisan Budaya Tiongkok.

Hampir setengah dari 830 tangan dan 272 benda suci yang dibawa rupaka tersebut rusak secara signifikan. Pemindai X-ray juga membantu menentukan berapa banyak perbaikan yang diperlukan pada ratusan jari yang rusak.

Memulihkan kertas emas yang menyelubungi rupaka tersebut akan menjadi langkah terakhir dari proses restorasi tersebut. Hal tersebut juga akan menjadi yang paling sulit, karena sikap dari 830 tangan dan lengan semuanya berbeda. Tapi museum tersebut telah selesai memperbaiki lebih dari 200 tangan, dan berharap untuk menghadirkan rupaka tersebut kembali sepenuhnya kepada pengunjung pada tahun 2015.

Teknologi printer 3D sendiri bekerja dengan proses mencetak secara berlapis untuk membentuk benda padat dengan perspektif 3D yang dapat dipegang dan memiliki volume. Hal ini memungkinkan seseorang menduplikasi benda-benda yang ada atau pun menciptakan benda yang belum ada ke dalam bentuk yang nyata, termasuk merestorasi benda-benda peninggalan bersejarah.

Dan tidak menutup kemungkinan, teknologi printer 3D ini dapat digunakan untuk melestarikan candi-candi di Indonesia seperti Borobudur.[Bhagavant, 27/5/14, Sum]

Kata kunci:
Penulis: