Singapura

Vesak, Vihara Singapura Ajak Umat Lebih Sayangi Hewan

Rabu, 14 Mei 2014

Bhagavant.com,
Singapura – Pada hari Vesak atau Waisak, beberapa umat Buddha Singapura sering berpikir bahwa menyerahkan hewan peliharaan mereka kepada sebuah viara adalah suatu bentuk membebaskan atau pelepasan kehidupan (fàngshēng). Namun Vihara Kong Meng San Phor Kark (Guāngmíng Shān Pǔjué Chán Sì), Singapura, menekankan bahwa hal tersebut merupakan konsep pemikiran yang salah.

Momen Vesak untuk lebih menyayangi semua hewan.
Momen Vesak untuk lebih menyayangi semua hewan. Foto: Wib Middleton – learningfromdogs.com

Beberapa vihara di Singapura pada hari-hari besar Buddhis terutama Hari Vesak sering mendapat permintaan dari umat untuk mengambil peliharaan mereka untuk ditinggalkan di sana. Salah satu vihara adalah Vihara Kong Meng San Phor Kark. Karena vihara tersebut bukanlah tempat yang cocok untuk memelihara hewan peliharaan, maka pihak vihara mengambil 30 ekor anjing yang ditinggalkan ke tempat penampungan di Pasir Ris untuk diadopsi.

Pada Hari Vesak ini, vihara mengambil kesempatan untuk mengajak umat untuk berbuat baik kepada para hewan.

Para relawan melakukan penyuluhan bahwa membantu semua makhluk untuk bebas dari penderitaan adalah salah satu prinsip inti Buddhisme. Namun, selain melepaskan hewan ke alam liar, melindungi kehidupan mereka adalah cara lain yang dapat dilakukan oleh orang-orang.

Relawan juga membantu untuk mengumpulkan dana bagi hewan-hewan yang ditinggalkan pada Hari Vesak.

Tahun 2014 ini adalah tahun kedua bagi Vihara Kong Meng San Phor Kark melaksanakan kegiatan tersebut pada Hari Vesak.

Tahun lalu, vihara menggalang beberapa ribu dolar untuk hewan peliharaan yang ditinggalkan di sembilan vihara.
Beberapa umat berpikir bahwa menyerahkan hewan peliharaan mereka ke vihara adalah suatu bentuk membebaskan kehidupan. Tapi pihak vihara menekankan bahwa hal tersebut adalah konsep pemikiran yang salah.

Y. M. Bhiksu Chuan Guan, penasihat dari Divisi Penyebaran Dharma di Vihara Kong Meng San Phor Kark, mengatakan, “Melepaskan hidup ini berbeda dari pemilik yang membuang hewan peliharaan mereka. Fàngshēng adalah praktik keagamaan yang berasal dari cinta kasih dan belas kasih. Fokusnya sebenarnya adalah untuk memberikan hewan-hewan yang akan untuk mati, sebuah kesempatan untuk hidup, dan untuk menerapkan praktik-praktik yang tepat yang benar-benar membantu mereka.” Demikian seperti yang dilansir Channel News Asia, Rabu (13/5/2014).

Banyak umat Buddha yang memiliki tujuan mulia dengan berusaha membebaskan makhluk hidup dari penderitaan dengan cara melakukan fàngshēng. Namun tidak jarang, tindakan mereka justru menambah penderitaan makhkuk-makhluk tersebut karena tidak memperdulikan faktor-faktor lainnya seperti cara dan tempat yang sesuai untuk melakukan fàngshēng.[Bhagavant, 14/5/14, Sum]

Kata kunci:
Penulis: