Thailand

Nenek Jiaw, Buddhis Terakhir di Desa Konflik Thailand

Minggu, 13 Oktober 2013

Bhagavant.com,
Bangkok, Thailand – Seorang nenek menjadi Buddhis terakhir yang tinggal di sebuah desa mayoritas berpenduduk Muslim di Thailand yang menjadi daerah konflik karena pemberontakan Muslim.Jiaw Pongthawil, nenek berusia 81 tahun, yang menolak meninggalkan rumahnya karena tidak memiliki tempat lain untuk pergi, kini harus dijaga oleh para prajurit demi keselamatannya yang terancam.

Nenek Jiaw Pongthawil (81) dengan penjagaan tentara menjadi Buddhis terakhir di desa Baan Ga Doh, Narathiwat, Thailand. Foto: AFP
Nenek Jiaw Pongthawil (81) dengan penjagaan tentara menjadi Buddhis terakhir di desa Baan Ga Doh, Narathiwat, Thailand. Foto: AFP

Sejak terjadi pemberontakan di pedalaman Thailand Selatan yang berpenduduk mayoritas Muslim sejak tahun 2004, Nenek Jiaw telah melihat para tetangga Buddhisnya meninggalkan desa Baan Ga Doh, sebuah desa terpencil di sebuah ”zona merah” keamanan di Provinsi Narathiwat yang berbatasan dengan Malaysia. Ia kini menjadi satu-satunya Buddhis di antara 1.200 warga Muslim Melayu.

”Saya takut. Saya sudah sering kali diserang…tapi saya tidak punya tempat lain untuk pergi. Inilah rumah saya. Ini tanah saya,” kata Nenek Jiaw dengang suara yang goyah, seperti yang dilansir oleh South China Morning Post dari AFP, Selasa (8/10/13).

Hal ini merupakan sebuah pergeseran demografis (kependudukan) yang terjadi di seluruh bagian selatan Provinsi Pattani, Yala dan Narathiwat, di mana lebih dari 5.700 orang telah tewas karena pemberontakan membara menentang pemerintah Bangkok.

Diperkirakan setengah dari 400.000 Buddhis Thailand di kawasan tersebut telah mengungsi dalam konflik kurun waktu sembilan tahun , mereka merasa letih oleh serangan yang hampir setiap hari terjadi terhadap perwakilan pemerintah dan yang dianggap sebagai pendukung pemerintah termasuk Muslim lainnya.

Penurunan jumlah di antara penduduk lokal sekitar 1,8 juta orang tersebut mungkin akan membentuk sebuah pembicaraan damai sementara dengan para pemberontak, demikian menurut para pakar yang mengatakan bahwa Buddhis Thailand yang cemas mendesak Bangkok untuk mengamankan masa depan mereka.

Rumah Nenek Jiaw telah diserang sebanyak tiga kali dalam beberapa tahun terakhir meskipun sepasukan tentara telah dikerahkan di dalam kompleks rumahnya. Dalam serangan terakhir pada bulan Juli, sebuah granat rakitan dilemparkan dari jalan tapi gagal untuk meledak setelah menabrak jaring pengaman setinggi 10 meter.

Nenek Jiaw merupakan seorang ibu dari enam anak dan telah menjanda pada tahun 2007, tinggal seorang diri di sebuah rumah peristirahatan yang luas yang dihiasi dengan barang antik berdebu dan gambar lapuk raja Thailand. Para tentara penjaganya yang bertugas di kantong-kantong pasir yang telah digali mengatakan bahwa Nenek Jiaw adalah seorang sesepuh Thailand yang pemberani yang membuat mereka bersedia membelanya dengan nyawa mereka.

Pasukan keamanan di wilayah yang dilanda kekerasan sering ditugaskan untuk menjaga warga dari kedua agama yang dianggap menjadi sasaran oleh militan yang seharusnya berurusan dengan pemerintah. Pasukan keamanan dengan tim pasukan mengapit para bhikkhu saat mereka berkeliling menerima dana makanan dan para guru saat mereka pergi dan pulang dari seklolah.

Namun sementara Nenek Jiaw sangat berterima kasih atas perlindungan pasukan keamanan, ia merasa sedih karena sebagian besar tetangga Muslimnya tidak lagi mengunjunginya. ”Kami dulu hidup bersama… kami saling membantu. Tapi sekarang mereka (Muslim) ingin kami semua pergi. Buddhis dan Muslim hidup terpisah,” katanya.

Pusat pemerintahan perbatasan provinsi bagian selatan, yang mengendalikan wilayah yang bergolak mengatakan bahwa tidak ada eksodus warga Thailand, namun angka menunjukkan gambaran yang berbeda.

Survei terakhir tahun 2010 menemukan bahwa 288.000 Buddhis yang tinggal di tiga provinsi tersebut, 20 persen lebih sedikit dari sebelum konflik pada tahun 2000.

Para akademisi mengatakan jumlahnya terus merosot sejak tahun 2010 seiring dengan meningkatnya kekerasan.[Bhagavant, 13/10/13, Sum]

Kata kunci:
Penulis: