Malaysia

Buddha Bar Sabah Malaysia Ganti Nama, Pemilik Minta Maaf

Rabu, 3 Juli 2013

Buddhisme di MalaysiaBhagavant.com,
Sabah, Malaysia – Sebuah bar dengan nama ”Buddha Bar” yang baru-baru ini beroperasi di Sabah, Malaysia, akhirnya mengganti namanya yang kontroversial tersebut setelah Young Buddhist Association of Malaysia (YBAM) mendesak Balai Kota untuk mencabut izin operasi tempat hiburan tersebut.

Penggunaan kata ”Buddha” yang disandingkan dengan kata ”bar” sebagai tempat hiburan yang menjual minuman keras dianggap oleh asosiasi pemuda Buddhis Malaysia tersebut sebagai sesuatu yang tidak pantas.

Seperti yang dilaporkan Borneo Post, Kamis (20/6), Ethan Chung (Chung Chee Vun), pemilik tempat hiburan tersebut, memutuskan mengganti nama tempat tersebut menjadi “Peacock Garden” pada Senin, 17 Juni 2013 dan meminta maaf atas nama yang kontroversi yang ia pilih.

”Saya memilih untuk menghormati perintah Balai Kota dan memilih ’Peacock Garden’ sebagai nama baru untuk tempat usaha kami, berharap hal itu akan membangun kembali harmoni damai dikalangan masyarakat dimana kami berkerja sama,” kata Chung yang juga menjelaskan bahwa terdapat kegiatan amal dalam bisnisnya tersebut dengan cara menyumbangkan 10 persen keuntungan dari hari Rabu untuk anak-anak penyandang cacat dan yatim piatu.

”Kami juga menyediakan empat posisi pekerjaan bagi para penyandang cacat dan empat posisi untuk pekerjaan paruh waktu di akhir pekan, khususnya untuk mahasiswa.”

“Ini adalah beberapa hal yang kami lakukan di ‘Buddha Bar’ dan akan terus dilakukan setelah kami membuka kembali berdirinya sebagai Peacock Garden,” kata Chung.

Kepala Humas Asosiasi Tionghoa Malaysia (MCA), Heng Seai Kie, menyatakan bahwa penggunaan kata ‘Buddha’ pada tempat hiburan tersebut merupakan sebuah penghinaan bagi komunitas Buddhis di Malaysia.

“Dengan menempatkan ‘Buddha’ pada nama bar tersebut, mereka telah menempatkan Buddha di samping zat-zat yang tidak sehat, alkohol, menghubungkan keduanya sebagai hal yang sama. Meminum alkohol bukan hanya sebuah pelanggaran atas Lima Sila Buddhisme, itu juga bertentangan dengan budaya Buddhis berusia dua ribu tahun,” kata Heng Seai Kie yang juga mantan Wakil Menteri Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat Malaysia tersebut.

Kritikan terhadap ”Buddha Bar” tersebut juga dilontarkan oleh Fo Guang Shan Malaysia, salah satu cabang organisasi terbesar dari Taiwan, yang mendesak pemilik bar tersebut untuk menutup usaha tersebut atau menggantinya menjadi restoran vegetarian.

Dalam pernyataannya organiasi tersebut mengatakan, ”Di Malaysia, masyarakat umum bahkan tidak berani untuk menggunakan tokoh sejarah Malaysia atau pahlawan nasional sebagai nama bar, apalagi Buddha? Buddhisme besar telah ada selama 2.500 tahun. Ada lebih dari tiga ratus juta pengikut di seluruh dunia, termasuk empat juta di Malaysia.”

”Inilah mengapa membuka sebuah ’Buddha Bar’ tidak dapat diterima. Grup Hotel Buddha Bar yang berasal dari Perancis (oleh George V Eatertainment Group) seharusnya tidak mempertimbangkan membuka sebuah hotel di mana pun di Malaysia. Itu tidak akan berhasil, karena pemerintah Malaysia menempatkan pentingnya agama dan ajarannya, serta Buddhis tentunya akan memprotes menentangnya.” Seperti yang dikutip dari The Daily Chilli, Rabu (26/6).

Kontroversi ”Buddha Bar” ini tidak hanya terjadi di Malaysia, tapi juga pernah terjadi di Indonesia pada tahun 2009 hingga 2010 yang lalu, saat sebagian umat Buddha Indonesia yang diwakili oleh Forum Anti Buddha Bar menuntut dipengadilan atas penggantian nama “Buddha Bar” yang beroperasi di Jakarta Pusat.[Bhagavant, BP, TDC, 3/7/13, Sum]

Kata kunci:
Penulis:
REKOMENDASIKAN: