Arkeologi » Bangladesh

Artefak Buddhis Kuno Ditemukan di Naogaon, Bangladesh

Selasa, 2 Juli 2013

Seni dan Budaya BuddhisBhagavant.com,
Rajshahi, Bangladesh – Empat belas rupaka (patung) perunggu Buddha Gautama dan beberapa artefak lainnya, termasuk struktur bangunan batu bata kuno dengan sebuah bentuk perbungaan lotus, baru-baru ini telah ditemukan saat penggalian di situs arkeologi Jagaddal Buddha Bihar (Vihara Buddha Jagaddala) di bagian distrik (upazila) Dhamurhat, sekitar 65 kilometer dari kota distrik Naogaon.

Meskipun banyak Buddha Bihar (vihara) yang telah ditemukan di negara tersebut semuanya berbentuk persegi atau geometri, hanya vihara ini yang berbentuk seperti perbungaan lotus, kata para arkeolog.

Salah satu anggota dari tim penggalian dan penjaga Museum Arkeologi Buddha Bihar Paharpur, Mahbub Ul Alam, mengatakan bahwa beberapa rupaka langka Buddha Gautama telah ditemukan, termasuk batu bata , granit, dan struktur batu hitam kuno serta empat ruang vihara telah ditemukan di sebuah penggalian di Jagaddal Bihar baru-baru ini, seperti yang dilaporkan oleh The Daily Star Bangladesh, Rabu (26/6).

Beberapa artefak dari penggalian di jagaddala Buddha Bihar di Naogaon, Bangladesh. Foto: Mukul Hossain
Beberapa artefak dari penggalian di jagaddala Buddha Bihar di Naogaon, Bangladesh. Foto: Mukul Hossain

“Mereka juga telah menemukan batu-batu berharga, potongan batu ornamen, anak tangga batu bata dan pot tanah liat rusak,” katanya. ”Struktur tersebut dibangun pada abad ke-10 atau ke-11 semasa dinasti Pala.”

”Warga setempat sebelumnya memiliki keraguan mengenai keaslian Jagaddal Bihar tersebut. Setelah digali beberapa artefak langka dan struktur kuno, seperti perbungaan lotus, sekarang kami yakin bahwa ini adalah Jagaddal Bihar yang asli,” katanya. Arkeologi tersebut lebih jauh menambahkan, ”Ini adalah sebuah penemuan yang langka bagi negara kami.”

Para arkeologi mengatakan, Departemen Arkeologi memulai sebuah penggalian arkeologi Jagaddal, salah satu kota tua di negara tersebut, dari 1 Desember 2012, bertujuan untuk mengetahui sejarah dari situs arkeologi tersebut. Penggalian dilanjutkan hingga Februari tahun ini.

Sebelumnya, Departemen Arkeologi telah menggali Jagaddal Bihar pada tahun fiskal 1996-1997 dan 1997-1998. Pada waktu itu, mereka menemukan beberapa artefak ornamen langka dari situs arkeologi tersebut, demikian kata mereka.

Jagaddala Mahavihara merupakan sebuah vihara yang didirikan oleh raja-raja terakhir dari dinasti Pala, kemungkinan Rampala (1077-1120), kemungkinan besar berada di sebuah situs dekat desa Jagaddal sekarang ini di Upazila Dhamurhat di barat laut Bangladesh dekat perbatasan dengan India, dekat Paharpur.

Sedikit yang diketahui mengenai Jagaddala dibandingkan dengan mahavihara lainnya dari era tersebut. Untuk bertahun-tahun, situs tersebut belum bisa dipastikan. Arkeolog AKM Zakaria telah memeriksa lima kemungkinan lokasi, semuanya dikenal dengan nama Jagddal atau Jagadal, di wilayah Rajshahi-Malda yaitu Panchagarh, upazila Haripur di Thakurgaon, upazila Bochaganj di Dinajpur, upazila Dhamoirhat di Naogaon, Bamongola Malda di India. Dari kesemua itu, hanya di Jagddal di wilayah Naogaon yang ada reruntuhan kuno yang signifikan. Penggalian dalam naungan UNESCO selama dekade terakhir telah memberikan membentuk situs tersebut sebagai sebuah vihara.

Sejumlah besar vihara didirikan di Benggala dan Magadha semasa 4 abad pemerintahan Pala di timur laut India (756-1174 Era Umum/Masehi). Dharmapala (781-821) dikatakan mendirikan sendiri 50 vihara, termasuk Vikramashila, universitas terkemuka pada era tersebut. Jagaddala didirikan menjelang akhir dinasti Pala, kemungkinan besar oleh Ramapala (1077-1120). Berdasarkan sumber-sumber Tibet, lima mahavihara besar yang berdiri yaitu Vikramshila, Nalanda, Somapura, Odantapura dan Jagaddala. Kelima vihara tersebut membentuk sebuah jaringan di bawah pengawasan negara.

Jagaddala mengkhususkan diri dalam Buddhisme Vajrayana. Sejumlah teks-teks yang kemudian muncul di dalam kitab-kitab Kangyur dan Tengyur diketahui telah disusun dan disalin di Jagaddala. Sangat mungkin bahwa antologi (kumpulan karya tulis pilihan) paling awal dari bait atau syair Sanskerta, Subhasitaratnakosa, telah disusun oleh Vidyakara di Jagaddala menjelang akhir abad ke-11 atau awal abad ke-12.

Sakyasribhadra, seorang cendekiawan Kashmir yang merupakan kepala vihara terakhir Mahavihara Nalanda dan yang berperan penting dalam menyebarkan Buddhisme ke Tibet dikatakan mengungsi ke Tibet pada tahun 1204 dari Jagaddala ketika serangan Muslim semakin dekat. Sejarawan Sukumar Dutt untuk sementara menempatkan penanggalan kehancuran Jagaddala pada tahun 1209; dan nampaknya bagaimanapun Jagaddala menjadi mahavihara terakhir yang diserbu.

Pada tahun 1999, Jagaddala diajukan sebagai situs percobaan untuk dimasukkan ke dalam daftar situs-situs Warisan Dunia UNESCO. UNESCO melaporkan bahwa penggalian tersebut telah mengungkapkan adanya sebuah gundukan tanah yang luas, 105 meter x 85 meter, yang merupakan peninggalan arkeologi dari sebuah vihara. Temuan tersebut termasuk plakat terakota, batu bata ornamen, paku, sebuah batangan emas dan tiga buah rupaka batu para dewa.[Bhagavant, TDSB, 2/7/13, Sum]

Kata kunci:
Penulis:
REKOMENDASIKAN: