Birma

Buddhis Perlu Sikapi Bijak Tulisan Majalah TIME

Buddhisme di BirmaBhagavant.com,
Rangoon, Birma – Baru-baru ini Buddhis Birma (Myanmar) pada khususnya dan dunia pada umumnya dikejutkan dengan sampul pada majalah TIME edisi 1 Juli 2013 dan isinya memuat artikel berjudul ”When Buddhists Go Bad” yang ditulis oleh Hannah Beech.

Sampul majalah TIME edisi mendatang tersebut bergambar seorang bhikkhu nasionalis, U Wirathu dengan tulisan “The Face of Buddhist Terror” di depannya. Sampul majalah TIME ini hanya untuk beredar di kawasan di luar Amerika Serikat. Sedangkan untuk Amerika Serikat, sampulnya bergambar orang mengecat dinding dan terdapat tulisan ”How Service Can Save Us“, namun dengan tetap memuat penggalan judul artikel ”Buddhist Terror”.

Meskipun majalah TIME edisi Juli tersebut hanya baru beredar dalam versi abonemen (subscription) secara darling, namun sudah menuai banyak kritikan dan kecaman dari berbagai pihak.

Tidak Berimbang

Secara garis besar artikel berjudul ”When Buddhists Go Bad” yang ditulis oleh Hannah Beech adalah lebih banyak mengenai konflik komunal di Birma yang dikaitkan dengan peran Bhikkhu U Wirathu yang anggap berbicara keras mengenai nasionalis yang dituduh oleh sebagian besar media massa melakukan ceramah kebencian. Artikel tersebut juga menggabungkan konflik-konflik komunal lainnya di luar Birma yang kebetulan melibatkan sekelompok Buddhis.

Banyak pihak yang menyampaikan kritikan terhadap TIME bukan berkaitan dengan foto pada sampul majalah TIME atau membela Bhikkhu U Wirathu tetapi mengkritik artikel Hanna Beech yang dinilai tidak berimbang dalam menampilkan fakta dan tanpa memahami situasi yang ada. Tapi tentu saja ada pihak lain dengan alasan tertentu mendukung artikel tersebut.

Ketidakberimbangan artikelnya tersebut terletak pada tidak diikutsertakannya penjelasan penyebab awal dari konflik-konflik yang terjadi, seperti pemerkosaan seorang wanita etnis Rakhine oleh oknum etnis Bengali (Rohingya) yang memicu konflik komunal di Rakhine.

Beech yang pernah mewawancarai Presiden Thein Sein dan pejabat tinggi Birma lainnya tersebut hanya menyebutkan satu penyebab konflik di Meikhtila yaitu dibunuhnya seorang bhikkhu oleh sekelompok oknum Muslim pada akhir Maret 2013, ia tidak menyebutkan adanya penyebab lain yaitu pemukulan sepasang warga oleh seorang oknum Muslim pemilik toko emas. Dan lagi-lagi ia tidak mewawancarai secara berimbang kedua belah pihak korban. Sehingga dapat menggiring persepsi publik bahwa hanya satu pihak yang merugi dalam konflik-konflik tersebut, namun faktanya tidak demikian.

Isi artikel tersebut kemudian menjadi bertolak belakang dengan judulnya “When Buddhists Go Bad” atau judul sampulnya “The Face of Buddhist Terror” saat di akhir artikel Beech justru membahas para Buddhis termasuk para bhikkhu di Thailand Selatan yang menjadi korban para pemberontak di Thailand Selatan.

Ketidakberimbangan penyajian fakta hingga biasnya pemahaman dan penggunaan istilah antara Buddhisme sebagai ajaran agama dengan Buddhis sebagai pemeluk agama serta oknum pemeluk agama, oleh Hannah Beech dalam artikelnya tersebut membentuk sebuah persepsi bahwa Buddhisme adalah keras dan Buddhis Birma adalah penyebab konflik komunal di Birma (Myanmar) maupun tempat lain, dan membuat pesan penting yang mungkin ingin diungkapkan olehnya menjadi kabur.

Salah Komunikasi?

Bhikkhu U Wirathu yang wajahnya menjadi sampul majalah TIME dan disebut dalam artikel tersebut memberikan tanggapannya dalam wawancara dengan Daily Eleven, yang dilansir Eleven Myanmar Jumat (21/6), Bhikkhu U Wirathu mengatakan bahwa ia sangat terkejut disebut sebagai teroris. Ia juga menjelaskan mengenai perbandingan dirinya dengan Osama bin Laden yang diterjemahkan oleh banyak media internasional (termasuk artikel Hannah Beech) sebagai pengakuan diri sendiri bahwa ia sama dengan Bin Laden.

”Yang ingin saya katakan adalah tentang membandingkan saya dengan Bin Laden dari Myanmar. Tangan bin Laden berlumuran darah. Tangan saya benar-benar bebas dari kotoran. Perumpamaan mereka seperti menyebut singa dengan menunjuk ke rubah. Itu adalah perbandingan yang sangat kasar. Apa yang kami lakukan sekarang adalah untuk tindakan pencegahan. Tidak bermaksud untuk menyerang. Intrusi Amerika ke Irak adalah untuk keamanan nasional. Kami memberlakukan hukum untuk perlindungan bangsa dan ras kami. Apakah ini berarti bahwa kami adalah ekstremis? Kami memberikan khotbah untuk mencintai dan menghargai agama dan orang-orang kami sendiri. Apakah melakukan hal tersebut berarti kami teroris? Saya memiliki berkas video mengenai wawancara dengan saya untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang mencurigakan sedang terjadi. Sekarang saya berencana untuk memposting video wawancara dengan majalah TIME ke internet. Mereka tidak bertanya apa yang telah mereka lakukan maupun jawaban saya. Foto yang mereka gunakan membuat saya tampak buruk,” katanya.

Diwawancarai oleh Myanmar Times, Senin (24/6) bhikkhu tersebut juga memberikan tanggapannya dengan mempertanyakan mengapa majalah TIME tidak memberikan sebutan Presiden Amerika Serikat Barack Obama sebagai teroris untuk kampanyenya menentang ekstremis Muslim di Timur Tengah.

”Mengapa mereka mengatakan Wirathu adalah seorang teroris? Apa yang saya lakukan, ucapkan dan tulis adalah untuk demi keamanan nasional, sama seperti Obama lakukan,” katanya kepada Myanmar Times.

Ia mengatakan bahwa ia tidak berencana untuk membuat tanggapan apapun untuk majalah TIME dan juga menjelaskan bahwa ia tidak memiliki dukungan apapun dari pemerintah, partai politik, ataupun Sangha (komunitas para bhikkhu) atas apa yang ia lakukan.

Tanggapan Bhikkhu U Wirathu ini mengindikasikan adanya perbedaan pemahaman dan kesalahan komunikasi antara dunia internasional yang diprakarsai oleh media massa dengan bhikkhu tersebut mengenai istilah ”anti-Muslim” dengan ”anti-ekstremis Muslim”.

Dan pernyataan Bhikkhu U Wirathu yang menjelaskan bahwa ia tidak memiliki dukungan dari Sangha mempertegas bahwa ia melakukan apa yang ia lakukan berdasarkan keinginan pribadi.

Pesan yang Tersembunyi

Meskipun lebih banyak terkaburkan oleh ketidakberimbangan penyajian fakta hingga biasnya penggunaan istilah, artikel TIME tersebut juga menyertakan pesan tersembunyi yang hanya bisa dilihat dengan ketenangan pikiran.

Pada akhir artikel, Beech secara “naïf” mengangkat sebuah nilai moral yang ia anggap sebagai sebuah bentuk “semangat pengampunan” atau “semangat memaafkan” melalui sebuah kisah seorang mantan bhikkhu di Thailand.

Ia menceritakan kisah seorang bhikkhu di Thailand, Watcharapong Suttha dari Vihara Lak Muang, yang pada tahun 2011 terkena ledakan bom saat sedang menjalankan rutinitasnya berkeliling menerima dana makanan. Sekarang ia telah lepas jubah dan masih mengalami traumatik. Setengah badan bagian bawahnya tertutup oleh luka. Tapi ia tidak menyalahkan pelakunya.

“Islam adalah agama damai, seperti Buddhisme, seperti semua agama,” katanya. “Jika kita menyalahkan Muslim, mereka akan menyalahkan kita. Maka kekerasan ini tidak akan pernah berakhir,” demikian kata mantan bhikkhu tersebut.

Terlihat jelas secara keseluruhan dalam artikel tersebut Beech berusaha membandingkan reaksi dari beberapa Buddhis terutama bhikkhu terhadap permasalahan yang hampir sama, meskipun tidak jelas apakah Beech memahami perbedaan antara ’memaafkan’ dengan ’pasrah terhadap suatu kondisi’.

Bagaimana Seharusnya Buddhis Bersikap?

Sampul pada majalah TIME dan artikelnya tersebut menimbulkan beragam reaksi seperti protes boiktot majalah TIME hingga mengajukan petisi di avaaz.org yang hingga berita ini diturunkan mencapai 60 ribu lebih penandatangan  sejak diajukan seminggu yang lalu.

Para penandatangan petisi tersebut berasal dari bebagai negara seperti Thailand, Birma, Sri lanka, Malaysia, Singapura, Indonesia, Kamboja, Jepang, Korea Selatan, India, China, Eropa, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Denmark, Swiss, Brazil, Swedia, dan sebagainya.

Meskipun manusiawi, tapi gejolak batin berupa kemarahan tidak akan pernah menjadi solusi terbaik. Ia cenderung memperkeruh suatu permasalahan. Dan tidak ada cara lain untuk mengetahui apakah artikel Hannah Beech tersebut mengandung kesalahan, bias dan melanggar kode etik wartawan, selain membaca artikel tersebut dengan ketenangan pikiran dan kebijaksanaan.

Daripada menunjukkan aksi-aksi kekerasan, umat Buddhis perlu menunjukkan bahwa apa yang ditudingkan itu tidak mewakili seluruh Buddhis dan tidak mewakili ajaran Buddha yang benar-benar penuh kedamaian. Jika sebaliknya maka orang-orang khususnya para oportunis (pencari keuntungan pribadi dari kesempatan) akan memanfaatkan gejolak batin negatif tersebut untuk kembali memojokkan umat Buddha.

Cara yang bisa dikatakan elegan dan bijak adalah dengan mengajukan hak jawab, debat atau diskusi terhadap apa yang ditulis oleh majalah TIME dengan menunjukkan fakta-fakta yang sebenarnya.

Seorang juru bicara majalah TIME pada Selasa (25/6), kepada Myanmar Times mengatakan bahwa TIME mempersilahkan adanya perdebatan dan diskusi mengenai masalah ini.

Umat Buddhis perlu menunjukkan apa yang disebut dengan agama damai itu sehingga dunia bisa membedakan mana yang agama yang menghasilkan beradaban yang damai sesungguhnya dan mana yang hanya klaim semata.

Sang Buddha sendiri telah mengajarkan agar siswa-siswa-Nya tidak perlu marah jika ada yang menghina-Nya, Dhamma atau Sangha sehingga tidak menjadi rintangan bagi diri sendiri untuk melihat kebenaran.

”Jika orang lain menghina-Ku, Dhamma, atau Sangha, maka kalian harus menjelaskan apa yang tidak benar sebagai tidak benar, dengan mengatakan: “Itu tidak benar, itu salah, itu bukan jalan kami, itu tidak ada pada kami.”Brahmajala Sutta (Majjhima Nikaya 1).

Selain itu umat Buddhis juga perlu berwaspada diri mengenai bahaya-bahaya besar yang justru datang dari dalam diri komunitas Buddhis bukan dari luar. Seperti yang disampaikan oleh Sang Buddha pada 2.600 tahun yang lalu dalam Anagata-bhayani Sutta (Anguttara Nikaya 5. 77-80) mengenai keberadaan bhikkhu-bhikkhu yang tidak lagi berpegang kepada Dhamma dan yang tidak berkembang dalam perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.[Bhagavant, 26/6/13, Sum]

Kata kunci:
Penulis:
REKOMENDASIKAN