Jepang » Kesenian

Menyebarkan Ajaran Buddha dengan Ukiran Penghapus

Kamis, 27 Juni 2013

Buddhisme di JepangBhagavant.com,
Prefektur Niigata, Jepang – Bagi beberapa Buddhis mungkin mencetak buku-buku Dharma merupakan cara untuk ikut menyebarkan ajaran Buddha. Namun lain lagi dengan seorang pandita di Jepang yang memanfaatkan karet penghapus untuk memperkenalkan Buddhisme.

Dengan pemotong di tangan kanannya dan penghapus persegi berukuran 4 cm dengan lapisan kertas pola ditangan kirinya, Kosjun Asada memulai mengukir.

Menggerakan pisau bolak-balik dengan gerakan kecil di seluruh penghapus, ia menciptakan sebuah stempel karet dengan gambar Buddha tersenyum hanya dalam waktu lima menit.

Asada, seorang pandita dari tradisi Buddhis Shingon di Vihara Gokurakuji di Ojia telah melakukan perjalanan di seluruh Jepang, mengadakan sebuah lokakarya Buddhisme menggabungkan seni ukir stempel penghapus dengan sebuah ceramah. Ia berharap sesi ini menarik bagi mereka yang asing dengan Buddhisme.

Pandita Kojun Asada membuat stempel penghapus. Foto: The Asahi Shimbun
Pandita Kojun Asada membuat stempel penghapus. Foto: The Asahi Shimbun

Bahkan sebelum ia menggunakan penghapus, Asada telah menggunakan benda lain yang ia gunakan sebagai kanvas.

”Saya akan mengukit gambar Buddha pada permukaan pensil saat mempelajari sutra, ” katanya seperti yang dilansir The Asahi Shimbun, Rabu (19/6).

Pertama kali Asada mempelajari ukiran penghapus pada tujuh tahun yang lalu, ketika ia sedang mempersiapkan untuk sebuah acara pembuatan tas ramah lingkungan untuk sebuah pasar gratis yang yang akan di adakan di lapangan viharanya. Ia datang dengan gagasan membuat penghapus untuk sebuah dekorasi dengan bantuan istrinya yang mengajarkan kepadanya bagaimana membuatnya.

Ia membeli pengahapus cukup besar dan mulai mengukir, dan menyukainya. Asada mengasah keahliannya dengan membaca buku panduan cara oleh Tomoko Tsukui, seorang seniwati stempel penghapus dari Atami, Shizuoka, Jepang.

Ia mulai mengajar mengukir stempel penghapus di acara-acara lokal dan membuat stempel atas permintaan para peserta.

Pada akhir Januari 2012, saat ia menjadi seorang relawan untuk memberikan bahan batuan dan menghancurkan rumah-rumah yang terkena bencana di Watari, Prefektur Miyagi, yang hancur karena gempa bumi besar di timur Jepang pada tahun 2011, ia memiliki waktu untuk membuat stempel penghapus untuk para korban selamat.

Stempel-stempel penghapus tersebut membantu par akorban selamat membuka pikirna mereka dan melepaskan perasaan mereka, dan mereka mulai bicara mengenai bencana 11 Maret 2011.

”Apa yang kami buat adalah sedikit perbincangan kecil, tapi kisah-kisah mereka berasal dari lubuk terdalam, sesuatu yang tidak dapat saya dengar jika saya bertanya :’Apakah Anda memiliki permasalahan atau kekhawatiran?’” kata Asada. Ia mengatakan bahwa ia yakin mengukir penghapus dapat berhubungan dengan orang-orang.

Saat ia bertemu dengan Tsukui musim panas lalu, ia mengusulkan agar mereka bergabung mengadakan sebuah lokakarya mengenai ukiran peghapusnya dan kotbahnya, yang disetujui oleh seniwati tersebut.

Mereka membentuk pasangan yang diberi nama ”Shogyo Mujos” (Segala sesuatu bersifat sementara and tidak kekal), berasal dari istilah Buddhis.

Kelas pertama diadakan di Asakusa Tokyo dan distrik Kamiyacho pada bulan Desember, diikuti dengan sesi di Kyoto, Osaka dan Hyogo, di bulan Maret. Dengan kapasitas tempat duduk untuk 30 orang, setiap acara itu hampir penuh orang dihadiri oleh orang, kebanyakan yang hadir adalah wanita berusia sekitar 20 hingga 30 tahun.

Pada setiap sesi, para peserta mengukir sebuah gambar Buddha yang didesain oleh Tsukui.

Setelah kelas oleh Tsukui selesai, Asada mulai melakukan pembicaraan mengenai ajaran Buddha dengan istilah yang tenang dan sederhana.

”Bahkan jika Anda menggunakan contoh yang sama, karya anda akan sedikit berbeda satu dengan yang lainnya,” katanya. ”Tidak ada pekerjaan yang unggul atau lebih rendah. Pekerjaan semua orang adalah sama.”

Salah seorang peserta mengatakan bahwa ia merasa tenang saat mengukir sehingga seolah-olah ia sedang menyalin sutra.

Peserta lainnya lagi menambahkan bahwa ia berhadap dapat memiliki banyak waktu untuk mendengarkan ceramah tersebut.

Asada sendiri berharap pada upaya barunya ini dengan mengatakan bahwa ukiran penghapus dapat memainkan peran di dalam menarik lebih banyak masyarakat untuk mengunjungi vihara.[Bhagavant, TAS, 27/6/13, Sum]

Kata kunci:
Penulis: