Amerika Serikat » Pendidikan » Tokoh

Bhikkhu Sri Lanka Lulus Diploma di Mt. SAC

Sabtu, 22 Juni 2013

Buddhisme di Amerika SerikatBhagavant.com,
California, Amerika Serikat – Kehidupan seorang bhikkhu tidak hanya berkutat di kehidupan vihara semata, setidaknya ini yang tergambarkan dalam kehidupan seorang bhikkhu asal Sri Lanka yang berhasil mendapat gela diplomanya di Amerika Serikat.

Tidak bermaksud untuk berbeda, tapi Bhikkhu Bowala Rakkitha tampil menonjol di antara teman-teman mahasiswanya di Mt. San Antonio College (Mt. SAC), California, Amerika Serikat. Ia mengenakan pakaian yang berbeda, perilakunya tidak biasa, dan ia berbicara dengan logat yang khas.

Saat Bhikkhu asal Sri Lanka tersebut berjalan di perayaan wisuda Mt. SAC ke-67 pada minggu lalu, dianggap sebelumnya menjadi sebuah perjalanan yang tidak mungkin baginya.

”Saya tidak pernah berpikir saya akan datang ke Amerika Serikat dan saya tidak pernah berpikir akan hadir disebuah universitas di sini,” kata bhikkhu yang berusia 37 tahun yang menerima gelar diploma dalam bidang psikologi dan seni bebas serta akan pindah ke UCLA pada musim gugur mendatang. Seperti yang dilaporkan oleh SGV Tribune, Selasa (18/6).

Selama sebagai mahasiswa di Mt. SAC, Bhikkhu Rakkitha telah menimbulkan sejumlah keingintahuan ataupun pusat perhatian. Pertanyaan pertama biasaya berhubungan dengan perbedaan yang paling kentara.

Bhikkhu Bowala Rakkitha dari Sri Lanka, Lulus Diploma dari Mt. SAC. Foto: courtesy of Mt. SAC
Bhikkhu Bowala Rakkitha dari Sri Lanka, Lulus Diploma dari Mt. SAC. Foto: courtesy of Mt. SAC

”Semua orang ingin tahu mengapa saya berpakaian seperti ini,” katanya sambil menempuk bagian bawah jubah merahnya yang merupakan pakaian sehari-harinya dan sebagai sebuah simbol sumpahnya yang ia buat untuk hidup sederhana sebagai seorang bhikkhu. Kemudian ada rekan-rekannya yang semakin penasaran.

”Saya juga sering memiliki beberapa kelompok mahasiswa yang ingin mewawancarai saya mengenai Buddhisme dan mengenai mengejar pembelajaran duniawi,” katanya. ”Meskipun saya merasa bahwa bahasa Inggris saya mungkin tidak terlalu bagus, saya membagikan pengalaman saya kepada orang lain dan saya membiarkan mereka mengetahui bahwa saya belajar bersama mereka.”

Perjalanan Bhikkhu Rakkitha dimulai di Sri Lanka di mana ia dibesarkan saat negara tersebut dilanda sebuah perang sipil. Ia memutuskan untuk menjadi seorang bhikkhu pada usia 14 tahun untuk membantu orang-orang di komunitasnya.

Dan karena kebanyakan sekolah tutup karena perang tersebut, vihara menjadi salah satu tempat untuk mendapatkan sebuah pendidikan. Ia melanjutkan untuk mendapatkan dua gelar sarjana di Sri Lanka.

Ia datang ke Amerika Serikat pada tahun 2005 untuk membantu seorang rekan bhikkhunya di Landarama Siri Lankarama Meditation Center di La Puente, di tempat tinggalnya sekarang. Ia mengajar sekolah yang setara dengan Sekolah Minggu dan membantu dalam sebuah program rehabilitasi obat-obatan dan alkohol.

”Saat saya tumbuh dewasa di Sri Lanka, saya benar-benar tidak bisa membayangkan datang ke Amerika Serikat,” katanya. ”Ini tidak bisa terpikirkan.”

Setelah di sini, Bhikkhu Rakkitha bekerja di Vihara La Puente. Ia mendaftar ke Mt. SAC pada tahun 2009 untuk mempelajari bahasa Inggris setelah para anggota vihara mendorongnya untuk mendaftarkan diri.

”Para umat di vihara kami selalu berbicara mengenai Mt. SAC dan setelah beberapa tahun di sini, saya pikir saya lebih baik belajar bahasa Inggris.”

Tetapi sumpah untuk menjalani kehidupan religius dan meninggalkan masyarakat materialisme tidak selalu cocok dengan dunia barunya.

”Tidak mudah untuk menjadi seorang bhikkhu. Anda perlu membuat banyak pengorbanan dan banyak melepaskan,” katanya.

Sebagai contoh, peraturan keviharaan yang memperbolehkan sarapan dan makan sebelum siang tapi tidak memperbolehkan untuk makan setelah siang hari hingga esok pagi, bisa menjadi masalah bagi seorang mahasiswa yang mengmbil kelas dari siang sampai sore. Kemudian ada pertentangan dengan gawai (gadget) zaman modern yang membuat menjadi seorang bhikkhu di suatu dunia material menjadi susah. Belajar mengemudi adalah sebuah rintangan utama.

”Saya tidak memiliki keterikatan dengan kenyamanan seperti penyejuk udara, atau komputer atau telepon selular. Saya bisa melepaskan mereka setiap saat,” katanya. ”Sebaliknya hal tersebut membantu saya dalam bekerja. Memiliki sebuah komputer sangat membantu bagi pekerjaan vihara serta pekerjaan sekolah.”

Ia mengatakan Buddhisme menyadari bahwa perubahan itu tidak bisa dihindari dan fleksibel dalam beberapa hal.

”Saya merasa seolah-oleh harus secara rutin memberikan alasan tujuan pendidikan saya pada diri sendiri dan orang lain,” katanya.

Sementara banyak siswa secara alami mungkin berpikir mengenai pendidikan mereka dan mendapatkan ijazah untuk keuntungan finansial di masa depan, Bhikkhu Rakkitha memikirkan hal tersebut secara jauh berbeda. Ia memberikan alasan pengejarannya terhadap pendidikan dalam rangka bagaimana pendidikan tersebut dapat membantu orang lain.

”Saya akan menggunakan pengetahuan yang telah saya dapatkan di sini untuk membantu pekerjaan saya di masyarakat sebagai seorang bhikkhu.”

Saat ia pindah ke UCLA pada musim gugur ini, Bhikkhu Rakkitha berencana untuk mengejar gelar sarjana di bidang studi agama dan untuk mengajar. Ia telah memiliki gelar sarjana dalam bidang kebudayaan Buddhis dari Universitas Peradeniya di Sri Lanka dan sebuah gelar diploma nasional dalam bidang mengajar dari Sekolah Pendidikan Nasional Sariputta (Sariputta National College of Education).

”Saya merasa adalah diperlukan untuk mengembangkan sebuah pendidikan agama yang menjangkau lebih luas, khususnya yang tinggal di suatu negara yang beragam.”

Dengan demikian, saat Bhikkhu Rakkitha lulus bersama dengan kelas 2013 di Mt. SAC pada 14 Juni lalu, ia telah menyelesaikan satu perjalanannya dan menjadi satu langkah lebih dekat dengan tujuannya.[Bhagavant, 22/6/13, Sum]

Kata kunci:
Penulis: