Birma

Klarifikasi Para Bhikkhu Birma Terkait Konflik Komunal

Senin, 17 Juni 2013

Buddhisme di BirmaBhagavant.com,
Rangoon, Birma – Lebih dari 200 bhikkhu di Birma (Myanmar) mengambil bagian dalam acara yang berlangsung selama 2 hari untuk menyampaikan dan menyebarkan askpek-aspek damai dalam ajaran agama Buddha di tengah kritikan komunitas internasional mengenai peran agama Buddha dalam konflik komunal yang sedang berlangsung.

Acara yang berlangsung di Vihara Cekainda Rama, kotapraja Hmawbi, Rangoon (Yangon) juga dihadiri oleh beberapa bhikkhu terkemuka yang menekankan sifat damai agama Buddha.

Tujuan dari kegiatan acara tersebut adalah untuk membuat jelas kedamaian dalam agama Buddha yang telah disalahpahami oleh komunitas internasional karena situasi baru-baru ini di Birma.

Ketua Komite Sangha Maha Nayaka Negara, Sayadaw Vhaddanta Panna Vansa dari Malaysia, dan 227 bhikkhu mengatakan acara tersebut. Seperti yang dilaporkan oleh Eleven Myanmar, Sabtu (15/6).

Mereka memberikan sebuah pernyataan yang mencakup 7 topik utama, yang terdiri dari:
1. Menyelesaikan krisis melalui ajaran Buddha
2. Sektor Hukum
3. Kehidupan damai bagi semua warga negara
4. Sektor Pendidikan
5. Sektor berita dan Informasi
6. Koordinasi dan negosiasi berbagai organiasi
7. Program konseling

Pernyataan para bhikkhu tersebut mendorong untuk hidup berdampingan secara damai di dalam negara tersebut, menghormati Undang-Undang Kewarganegaraan tahun 1982 yang mendukung hidup bersama secara damai di Birma.

Kepada media, para bhikkhu yang diwakili oleh Y. M. Bhikkhu Ashin Dhammapiya, Y. M. Bhikkhu Ashin Cekainda, and Y. M. Bhikkhu Ashin Daewunabiwuntha, menghimbau untuk tidak menggunakan simbol-simbol keagamaan seperti angka ’969’ (simbol yang diambil dari jumlah sifat-sifat masing-masing Tiratna dalam ’Anussati’) secara tidak pantas.

Beberapa oknum menggunakan angka ’969’ untuk mengonter kelompok kepercayaan lain yang terlebih dulu menggunakan angka ’786’ sebagai tanda eksklusif kelompok mereka.

”Mengapa kami melaksanakan acara ini karena agama Buddha telah dipandang sebagai agama yang paling damai di dunia, sebelum bentrokan terjadi. Agama Buddha secara disengaja dicela dengan alasan yang berbagai macam. Kami akan terus mencari jalan yang damai untuk memberi tahu bahwa agama Buddha adalah sebuah agama damai,” kata Y. M. Bhikkhu Ashin Cekainda.

Berkaitan dengan isu adanya oknum bhikkhu yang melakukan tindak kekerasan, Y. M. Bhikkhu Ashin Dhammapiya mengatakan, ”Kita harus memastikan apakah para bhikkhu yang terlibat dalam kekerasan tersebut adalah bhikkhu palsu atau asli.”

”Ini harus diselidiki dan harus ada aturan hukum untuk menghentikan kekerasan tersebut,” katanya kepada media, Kamis (13/6).

Hal ini dapat dipahami dengan adanya fakta bahwa jubah bhikkhu rawan disalahgunakan untuk kejahatan dengan tujuan-tujuan tertentu. Dan penentuan seseorang adalah bhikkhu atau bukan tidak dapat dinilai hanya dari pakaian yang ia gunakan atau kepalanya yang tidak berambut yang terlihat pada foto atau video.

Dalam kegitan tersebut, para peserta juga mengkritisi peran media yang telah menyajikan pemberitaan yang berasal dari pandangan bias mengenai peran agama Buddha dalam konflik komunal tersebut.

”Kami hanya meminta Anda untuk menulis berita dengan informasi yang benar,” kata Y. M. Bhikkhu Ashin Dhammapiya.

“Ada banyak media yang melaporkan secara etis. Tapi ada beberapa yang mendapat dukungan dari beberapa jenis organisasi,” katanya. “Kami merasa bahwa itu tidak berimbang.”

Konflik komunal di Birma (Myanmar) menjadi topik hangat dan mendapat sorotan internasional. Untuk itu, sangat memungkinkan keberadaan media ’nakal’ yang membahas permasalahan ini dengan cara mereka sendiri yang bertujuan untuk menarik konsumen sehingga dapat meningkatkan oplah mereka.[Bhagavant, 17/6/13, Sum]

Kata kunci:
Penulis: