Gerakan Buddhis » India » Pendidikan » Seni dan Budaya

Petisi Untuk Selamatkan Bahasa Pali di India

Jumat, 14 Juni 2013

Gerakan BuddhisBhagavant.com,
New Delhi, India – Menjadi sebuah kontradiksi saat pemerintah India yang sedang gencar-gencarnya berupaya melestarikan warisan Buddhis dan mempromosikan situs-situs Buddhis di India kepada para wisatawan, namun justru baru-baru ini diberitakan bahwa pemerintah India telah mengeluarkan bahasa Pali (bahasa klasik kuno yang menjadi bahasa untuk penyebaran Buddhisme) sebagai pokok bahasan tinjauan utama dari Layanan Sipil India (IAS) yang bernaung pada Komisi Pelayanan Publik Nasional (UPSC).

Tidak dimasukkannya bahasa Pali dalam subjek tinjauan di IAS yang menangani Badan Usaha Milik Negara (BUMN) India yang di dalamnya antara lain terdapat BUMN sektor pariwisata seperti penerbangan dan perkeretaapian, akan mempersempit dan menghambat perkembangan bahasa Pali sebagai bahasa penting Buddhisme. Hal ini menjadi perhatian dan kritikan dari para umat Buddhis di seluruh dunia yang kemudian mengajukan sebuah petisi untuk menyelamatkan bahasa Pali.

Memasukkan bahasa Pali ke dalam tinjauan yang kompetitif ini di IAS merupakan salah satu alasan utama yang akan menarik banyak calon kandidat muda pegawai IAS untuk memilih terlibat dalam studi Buddhis dan bahasa Pali. Tinjauan tersebut merupakan penyelamat utama dalam pelestarian bahasa Pali dan diperhitungkan telah memainkan peranan penting dalam membendung penurunan terhadap pemelajaran Buddhisme di India sebagai tanah airnya.

Bahasa Pali dalam aksara Birma pada Manuskrip Kammavaca dari abad ke-19 M. Foto: Schøyen Collection
Bahasa Pali dalam aksara Birma pada Manuskrip Kammavaca dari abad ke-19 M. Foto: Schøyen Collection

Bahasa Pali merupakan bahasa yang mengemas ajaran Sang Buddha yang tercantum dalam Tipitaka, yang dikategorikan sebagai sebuah harta karun pengetahuan Buddhis dan pembawa penting ajaran Buddhis ke seluruh dunia. Bahasa ini sangat penting khususnya bagi umat Buddhis yang mempraktikkan tradisi Theravada seperti di Thailand, Birma (Myanmar), Sri Lanka, Kamboja, Laos, termasuk sebagian umat Buddhis di negara lain seperti di Indonesia, Malaysia, Vietnam, Nepal, Bangladesh, serta negara Barat.

Dr. Siddharth Singh, dari Departemen bahasa Pali dan Studi Buddhis Universitas Hindu Banaras, Varanasi, India, salah satu pelopor petisi penyelamatan bahasa Pali menyampaikan bahwa keputusan pemerintah India ini tidak logis, tidak bisa dibenarkan, dan mencerminkan ketidaktahuan para birokrat dan pemimpin politik India terhadap warisan negaranya sendiri.

Penghapusan bahasa Pali oleh UPSC dan tidak diakuinya sebagai sebuah bahasa klasik India menimbulkan protes keras tidak hanya dari mereka yang berhubungan dengan studi Buddhis dan bahasa Pali, tapi juga dari mereka yang belajar, menghargai, atau berhubungan dengan Indologi dan Buddhisme.

Petisi penyelamatan bahasa Pali bertujuan untuk mendesak pemerintah India agar memasukan bahasa Pali sebagai salah satu bahasa klasik India dan menarik keputusan untuk menghilangkan bahasa dan kepustakaan Pali dari Tinjauan Layanan Sipil (IAS) yang dilakukan oleh UPSC.

Bahasa Pali merupakan bahasa yang banyak digunakan dalam banyak kitab-kitab awal agama Buddha yang masih ada dan terkumpul dalam Kanon Pali atau disebut dengan Tipitaka (bedakan dengan Tripitaka). Bahasa ini diyakini sebagai bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan bahasa Magadha yang merupakan bahasa yang digunakan oleh Sang Buddha semasa hidup-Nya.

Dukungan terhadap petisi untuk menyelamatkan bahasa Pali di India dapat diakses secara dalam jaringan (online) dengan mengklik DI SINI.
[Bhagavant, 14/6/13, Sum]

Kata kunci:
Penulis: