Asia Tenggara » Birma

Stupa Tenggelam Saat Banjir Besar di Myanmar, Hukuman atau Hal Biasa?

Rabu, 26 Juli 2017

Bhagavant.com,
Magway, Myanmar – Anicca (ketidakkekalan). Sebuah stupa (pagoda) di tepi Sungai Irrawaddy harus mengalah dengan kekuatan alam setelah banjir melanda daerah tersebut.

Stupa atau Pagoda tenggelam setelah air sungai meluap karena banjir besar, pada Kamis (20/7/2017). Foto: Tangkapan gambar Youtube
Stupa atau Pagoda tenggelam setelah air sungai meluap karena banjir besar, pada Kamis (20/7/2017). Foto: Tangkapan gambar Youtube

Stupa Thiri Yadana Pyilone Chantha di tepi Sungai Irrawaddy, dekat kotapraja Pakokku, Wilayah Magway, Myanmar, pada Kamis (20/7/2017) secara perlahan-lahan namun pasti tenggelam ke dalam sungai yang meluap karena hujan yang lebat.

Tenggelamnya stupa tersebut diperlihatkan dalam sebuah video yang direkam oleh kepala vihara Y.M. Bhikkhu Pyinnya Linkkara.

“Stupa ini dibangun pada tahun 2009, saat itu stupa tersebut berada jauh dari sungai,” kata Y.M. Bhikkhu Pyinnya Linkkara seperti yang dilansir The Indian Express dari AFP, Senin (24/7/2017).

Erosi atau pengikisan tanah yang terus-menerus terjadi disebabkan oleh arus sungai menjadi penyebab lemahnya pondasi stupa sehingga menyebabkannya tenggelam.

“Dari tahun ke tahun, sungai telah mengikis tanah dan sekarang stupa tersebut telah jatuh ke sungai,” jelas Y.M. Bhikkhu Pyinnya Linkkara.

Y.M. Bhikkhu Pyinnya Linkkara juga mengatakan banjir biasa terjadi di daerah tersebut selama musim hujan yang berlangsung dari bulan Mei sampai Oktober, namun banjir tahun ini telah menyebabkan erosi yang signifikan.

Menurut pemerintah Myanmar, sedikitnya dua orang telah meninggal dan lebih dari 90.000 orang telah mengungsi akibat banjir di Myanmar tengah dan selatan pada bulan Juli. Sebagian besar berada di wilayah Magway, di mana stupa tersebut tenggelam, dan lebih dari 60.000 orang terpaksa mengungsi karena meningkatnya debit air.

Bagi umat Buddha yang memahami ajaran Buddha, peristiwa ini adalah hal yang biasa sebagai proses alam berupa ketidakkekalan (anicca) bukan suatu hukuman atau kutukan siapa pun. Sama halnya peristiwa kekeringan di Aceh saat ini, wabah kolera di Yaman yang sedang berlangsung, atau banjir di Bangladesh, Pakistan, dan Inggris pada bulan ini.

Ketidakkekalan (anicca) adalah hal yang tidak bisa dihindari termasuk oleh rumah ibadah dari kepercayaan mana pun. Banyak contoh tempat ibadah yang hancur karena bencana alam.

Anggapan bahwa peristiwa tersebut adalah hukuman dari pihak tertentu, adalah gambaran dari miskinnya pengetahuan seseorang akan cara bekerjanya hukum alam. Dan umat Buddha tidak menganut anggapan keliru seperti itu.

Myanmar sendiri sangat rawan bencana alam, dan digolongkan sebagai negara “paling berisiko” di Asia oleh Model Risiko PBB, rentan terhadap angin topan, banjir, suhu ekstrim, gempa bumi, dan tanah longsor.

Departemen Meteorologi dan Hidrologi Myanmar yang telah memperingatkan bahwa akan lebih banyak hujan terjadi dalam minggu depan, mendesak warga untuk melakukan tindakan pencegahan yang diperlukan.

“Hujan deras datang di Myanmar Tengah dan daerah pesisir dalam beberapa hari ke depan. Myanmar Tengah akan mendapatkan hujan karena awan datang dari timur,” kata U Kyaw Lwin Oo, direktur departemen tersebut.[Bhagavant, 26/7/17, Sum]

Kata kunci: ,