Korea Selatan

Perilaku Buruk Pendetanya, Komunitas Protestan Korea Minta Maaf

Selasa, 26 Maret 2013

Buddhisme di Korea SelatanBhagavant.com,
Seoul, Korea Selatan – Sebuah surat resmi permintaan maaf dikirimkan oleh Komunitas Protestan Korea kepada kepala Vihara Donghwa (Donghwasa), Y.M. Bhiksu Sungman, atas perilaku buruk pendeta Gereja Protestan Korea, Seong, yang mengencingi altar di sebuah aulanya, merusak buku puja bakti dan melakukan vandalism dengan menulis kata kasar di lukisan dinding dengan spidol permanen.

Seperti yang dilaporkan oleh BTN, Senin (25/3), komunitas Protestan Korea secara resmi meminta maaf atas tindakan buruk mereka dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi kesalahan mereka.

Vihara Donghwa telah berulangkali meminta sebuah permintaan maaf resmi sejak terjadinya peristiwa buruk yang terjadi pada tahun lalu, saat Pendeta Seong tertangkap kamera pengawas telah melakukan aksi tidak terpujinya. Namun, Pendeta Seong maupun pihak gerejanya tidak memberi komentar dan menolak untuk memberikan permintaan maaf singkat kepada komunitas Buddhis ataupun Vihara Donghwa.

Ketua Dewan Nasional Gereja-Gereja Korea (NCCK), Pendeta Yong-ju Kim dan Ketua Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah Korea, Kil-hak Choi, telah mengadakan sebuah pertemuan dengan Y.M. Bhiksu Sungman di Vihara Donghwa dan secara langsung meminta maaf atas perilaku anggota mereka, Pendeta Seong, atas tindakan buruknya.

Aula Sanshin di Vihara Donghwa, Daegu, Korea Selatan. Foto: donghwasa.net
Aula Sanshin di Vihara Donghwa, Daegu, Korea Selatan. Foto: donghwasa.net

Selama pertemuan tersebut, Choi mengatakan, ”Kami sangat menyesal tindakan yang disebabkan oleh komunitas kami kepada komunitas Buddhis dan Vihara Donghwa, dan kami akan mendidik dan mengawasi komunitas kami agar tindakan seperti ini tidak terjadi lagi.”

Pendeta Seong melakukan aksi buruknya tersebut pada 20 Agustus 2012. Menurut Daum Media, Senin (3/9/12) narasumber Vihara Donghwasa mengatakan bahwa Pendeta Seong memasuki halaman vihara pada sekitar pukul 5 sore denga mengabaikan rambu-rambu yang menunjukkan bahwa halaman parkir terebut hanya untuk para pekerja vihara. Ia memarkirkan mobilnya di paling depan.

Seong melihat-lihat vihara tersebut selama 30 menit, memelototi rupaka Buddha dan merobek buku-buku puja bakti. Saat itu, para bhiksu dan pengunjung sedang melakukan puja bakti di dalam bangunan tersebut.

Kemudian Seong pindah ke aula Sanshin (aula Dewa Gunung) dan menggunakan spidol permanen untuk menulis penghinaan pada foto dan lukisan-lukisan dinding di sana. Ia kemudian mengencingi mangkuk dan pembakar dupa yang ada di altar di sebelah aula tersebut.

Pihak kepolisan telah menangkap Seong 10 hari setelah pihak vihara membuat pengaduan.

Dalam pengakuannya kepada polisi, Seong menyatakan bahwa ia adalah pendeta dari Gereja Protestan Korea dan merusak teks-teks Buddhis karena menurutnya penuh dengan kata-kata palsu. Ia juga menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi setelah ia bertengkar di rumah saudara perempuannya di Daegu dan kemudian mengendarai mobil ke vihara yang berada di wilayah Yeongnam tersebut dan melampiaskan kemarahannya.

Pihak kepolisian mengatakan bahwa Seong melakukan kejahatan tersebut tanpa rencana dan merupakan hasil dari kebenciannya terhadap Buddhisme.

Dalam beberapa tahun terakhir, vihara-vihara di Korea Selatan sering mendapatkan tindakan vandalisme yang dilakukan oleh oknum-oknum umat Kristen Protestan.[Bhagavant, 26/3/13, Sum]

Kata kunci: , ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN: