India » Psikologi

Buddhisme Sembuhkan Gaya Hidup Galau

Kamis, 12 Januari 2012

MeditasiBhagavant.com,
New Delhi, India – Sebagai agama yang di dalam ajarannya lebih menitikberatkan pada permasalahan pikiran atau batin, Buddhisme terbukti dapat mengatasi dan menyembuhkan gaya hidup galau yang dialami masyarakat dunia, khususnya di era modern saat ini.

Galau atau yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti kacau tidak keruan yang berkaitan dengan pikiran, merupakan keadaan atau kondisi pikiran yang kacau, simpang-siur tidak menentu. Kondisi ini timbul karena tidak mampunya seseorang mengendalikan dan mengatur bentuk-bentuk pikiran yang silih berganti muncul yang dipicu oleh permasalahan yang dihadapinya. Kondisi pikiran yang kacau ini pun akhirnya diikuti dengan munculnya kondisi perasaan yang tidak menentu. Bahkan, dalam kondisi yang parah akan sampai mengakibatkan stres dan depresi.

Pada dasarnya pikiran galau atau kegalauan telah ada sejak keberadaan manusia itu sendiri, namun di era modern dan globalisasi saat ini, permasalahan manusia kian bertambah dan melingkupi setiap segi kehidupannya, sehingga dengan demikian manusia sering terjebak dalam kegalauan. Bahkan tanpa disadarinya menjadikan kegalauan sebagai gaya hidup karena ia mengalaminya terus-menerus dan berdampak pada penampilan serta perilaku kesehariannya.

Salah satu dari sejuta penyebab dari kegalauan adalah permasalahan mengenai hubungan asmara yang kerap kali terjadi pada mereka yang menjalin hubungan tersebut. Pikiran yang sangat galau terhadap kondisi hubungan yang tidak sesuai harapan dapat berakhir dengan stress dan depresi yang berujung pada ketergesaan untuk mengakhiri hidup.

Kehidupan Gagan Kaur seorang wanita berusia 29 tahun, hancur berantakan saat hubungannya selama 14 tahun berakhir dua tahun lalu. Ia ditemukan oleh seorang bhiksu dalam keadaan tenggelam di sebuah klinik pribadi di ibukota setelah gagal melakukan bunuh diri.

Setahun kemudian Gagan telah mengontrol kehidupannya setelah melakukan pelatihan meditasi Vipassanā secara ketat. Kini ia bagian dari komunitas Buddhis dari Jepang yang menghadiri retret setiap akhir minggu di bagian selatan Delhi. “Sebagian besar anggota adalah para profesional,” kata Gagan mengisakan kepada IANS (29/11/11).

Kisah lain terjadi pada diri Priyanka Khera (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswi manajemen bisnis berusia 24 tahun yang berjuang mengatasi stresnya karena hubungan asmaranya yang kusut dan keterasingannya dari tanah airnya Jammu dan Kashmir. Ia berjuang dengan melakukan meditasi Buddhis dan pelantunan mantra.

“Tahun ini saya putus dengan kekasih saya yang tinggal bersama saya selama setahun di Chandigarh. Selain itu, saya memiliki masa kecil yang bermasalah sejak kedua orang tua saya pindah dari Srinagar ketika saya hampir berusia satu tahun. Saya tersiksa dengan mimpi-mimpi buruk – dan berpisah jauh dari kedua orang tua saya lebih dari beberapa tahun. Saat itu, saya ingin kembali ke Srinagar. Saya benci kota ini…,” kata Priyanka yang kini tinggal dengan teman-temannya di timur Delhi, kepada IANS. Psikiaternya adalah seorang penasihat Buddhis di lingkungannya yang mengajarkannya ‘pentingnya keseimbangan batin’ untuk menenangkan badai yang ada dalam dirinya.

Buddhisme yang lahir di India pada sekitar abad ke-5 Sebelum Masehi dan menyebar ke seluruh dunia, kini pada abad ke-21, ajarannya telah semakin banyak digunakan sebagai sebuah penyembuhan oleh para ahli terapi di India dan seluruh dunia untuk mengatasi gaya hidup yang berkaitan dengan permasalahan psikologis seperti keterasingan, kegelisahan dan stres.

Dan dalam dekade terakhir, Buddhisme telah menjadi sebuah pilihan spiritual dan gaya hidup yang sesuai bagi puluhan ribu kaum muda di kota-kota untuk mengatasi stres di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, tempat kerja dan di antara usia-usia sebaya.

Buddhisme juga telah digunakan sebagai intervensi untuk merehabilitasi para kriminal. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Washington di penjara-penjara India menunjukkan bahwa meditasi Vipassanā secara efektif dapat mengurangi gejala-gejala psikopatologis dan agresif di kalangan narapidana.

Doktor Maurits G.T. Kwee, seorang psikolog klinis dan profesor kehormatan dari Universitas Flores di Buenos Aires, Argentina mengatakan kepada IANS, “Buddhisme menjadi sebuah sains penyembuhan saat anda meletakkan semua istilah-istilah keagamaannya dan menempatkannya dengan istilah-istilah psikologis – seperti ‘kesalahan’ untuk ‘perbuatan buruk’ dan ‘tidak sehat’ untuk ‘jahat’. Kita tidak memerlukan begitu banyak agama untuk berbelas kasih kepada satu dengan yang lain … tidak perlu suatu peninggian kepada tuhan lain.”

Maurits yang juga seorang editor dari sebuah antologi (kumpulan karya tulis – ed) baru berjudul “New Horizons in Buddhist Psychology” (Cakrawala Baru dalam Psikologi Buddhis) yang dipublikasikan oleh Tao Institute, mengatakan bahwa ia membantu dirinya sendiri dengan terapi kesedihan saat isterinya meninggal dunia tahun lalu karena menderita kanker paru-paru.

“Saya juga mencoba terapi kesedihan bersama dengan para klien saya,” kata doktor yang saat itu sedang berkunjung di India untuk menghadiri Kongregasi Buddhis Global 2011 yang telah dilaksanakan pada 27-30 November 2011 yang lalu. Lebih dari 900 cendekiawan, pemimpin dan praktisi Buddhis dari 32 negara berembuk mengenai peranan ajaran Buddha Gotama pada pertemuan tersebut.

Maurits juga menjelaskan mengenai adanya sebuah prinsip dalam Buddhisme tradisi Mahayana yaitu ‘Upaya-kausalya’ – sebuah konsep yang berarti menerapkan upaya atau usaha yang terampil atau mahir.

“Seseorang dapat menyesuaikan Buddhisme agar sesuai dengan kebutuhan seorang pendengar dan kehidupan seorang. Ajaran-ajaran Buddhis mengenai belas kasih, berbagi kebahagiaan, hubungan yang seimbang, pandangan yang seimbang, dan keseimbangan batin dapat digunakan untuk mengatasi stres psikologi. Saya mencoba menggabungkan Buddhisme dengan ilmu terapi perilaku emotif rasional untuk para pasien saya,” kata Maurits.

Doktor Krishna Mohan, pendiri Layanan Kesehatan Mental Psychguru yang berada di Hyderabad, menggunakan Buddhisme untuk konsultasi stres para eksekutif perusahaan.

“Saya membantu mereka mengatasi kecemburuan, ego, dan permusuhan di tempat kerja dan mengajarkan mereka untuk berkerja sama sebagai sebuah tim. Saya mengutip ajaran-ajaran Buddha,” kata Mohan.

“Dunia Barat membumikan seluruh kebijaksanaan Buddhis untuk mempersempit teknik-teknik meditasi. Untuk mengatasi permasalahan mental, Buddhisme harus menggunakan sudut pandang holistik kehidupan dan dunia ini. Seorang penyembuh harus menjadi seorang teman dan memiliki perhatian yang tulus untuk orang lain – dan harus dapat berhubungan dengan orang lain dengan kasih,” jelas Mohan.

Terbuktinya ajaran Buddha (Buddha Dharma) yang dapat membantu mengatasi persoalan psikologi termasuk gaya hidup galau, maka tidaklah berlebihan jika seorang guru meditasi Vipassanā terkemuka, S. N. Goenka, mendeskripsikan Buddha Dharma sebagai “sains murni mengenai pikiran dan materi”.

Sedangkan menurut Dalai Lama yang secara berkala menghadiri konferensi Institusi Pikiran dan Kehidupan (Mind and Life Institute) menyatakan bahwa, “tradisi penyelidikan Buddhis pada dasarnya telah mengarah pada pemahaman terhadap pikiran manusia dan berbagai fungsinya.”

“Tujuan kita dalam mencari jalan mengubah pikiran dan emosi kita adalah untuk menemukan sebuah cara hidup yang lebih bijak dan memuaskan,” jelas Dalai Lama dalam status Twitter-nya (2/1/12).

Akhir-akhir ini, para psikolog klinis, pakar teori dan peneliti dunia Barat telah memasukkan praktik-praktik Buddhis ke dalam psikoterapi yang diformalkan secara luas seperti halnya yang terungkap dalam majalah sains: American Scientist Volume 92, Number 1 January-February 2004 dengan judul: Increasing use of Buddhist Practices in Psychotherapy (Peningkatan Penggunaan Praktik-praktik Buddhis dalam Psikoterapi). Praktik meditasi kesadaran penuh /perhatian penuh (Pali: sati, Inggris: mindfulness) telah secara jelas dimasukkan ke dalam sebuah jenis perawatan psikologis.

Dengan demikian, saat seseorang sedang mengalami pikiran galau, gaya hidup yang galau atau permasalahan psikologi atau mental lainnya, Buddhisme dapat menjadi solusi untuk mengatasinya.[Bhagavant, 12/1/12, Sum]

Kata kunci: , ,
Penulis: