Asia Oseania » Asia Timur » Jepang » Kesenian » Seni dan Budaya

Vihara Chuson Jadi Warisan Dunia UNESCO

Jumat, 22 Juli 2011

Seni dan Budaya BuddhisBhagavant.com,
Iwate, Jepang – Akhir bulan Juni lalu, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan Vihara Chūson (Chūson-ji), salah satu situs Buddhis bersejarah yang terletak di Hiraizumi, Prefektur Iwate, Jepang , sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO (26/6).

Vihara Chūson, yang mewakili tradisi Mahayana aliran Tiantai (Tendai) Sukhavati (Tanah Suci) ini, merupakan salah satu situs dari 6 situs Hiraizumi yang berasal dari abad ke-11 sampai abad ke-12, yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia.

Vihara Chūson terletak di hutan cedar di puncak bukit yang bernama Kanzan, dan sering disebut dengan Kanzan Chūson-ji. Saat wilayah lain di Prefektur Iwate terguncang gempa bumi besar dan disusul oleh tsunami pada 11 Maret 2011, Vihara Chūson mengalami kerusakan namun luput dari zona tsunami.

Chūson-ji di masa modern
Chūson-ji di masa modern. Sbr Foto: chusonji.or.jp

Menurut catatan vihara, Vihara Chūson dibangun pada tahun 850 oleh Ennin (Jikaku Daishi), seorang bhiksu yang berasal dari Vihara Enryaku (Enryaku-ji) dan kepala pimpinan ketiga dari aliran Tendai. Ennin juga dikenal dengan catatan autobiografi perjalanan dan studinya mengenai Buddhisme di benua Asia bagian timur, yang dianggap bagi beberapa kalangan sebagai salah satu catatan perjalanan terbesar di dunia.

Dibangun di awal abad ke-12 oleh penguasa Ōshū Fujiwara pertama, Kiyohira, dimulai dengan konstruksi masif aula-aula kompleks vihara dan pagoda. Menurut Azuma Kagami (sejarah resmi keshogunan Kamakura), di sana terdapat lebih dari 40 aula dan pagoda, serta lebih dari 300 hunian untuk para bhiksu. Demikian yang diungkap oleh laman situs resmi Vihara Chūson (chusonji.or.jp).

Kiyohira bermaksud agar Vihara Chūson dapat menenangkan “jiwa-jiwa” mereka yang telah meninggal, baik teman maupun musuh, yang tewas dalam konflik yang pahit yang mendominasi di Tohoku pada pertengahan akhir abad kesebelas. Lebih jauh ia berharap untuk menciptakan sebuah negara yang damai berdasarkan prinsip-prinsip Buddhisme.

Dalam iklar pengabdiannya bagi Vihara Chūson, yang dikenal dengan Ganmon, Kiyohira menulis bahwa semua pengelana, tanpa memandang statusnya, akan disambut dengan penuh kasih sayang oleh para Buddha dan tanpa kecuali akan menerima berkah dari mereka. Kebajikan Vihara Chūson akan dibagikan secara merata dan universal kepada semua yang menginginkannya.

Konjikidō, miniatur aula emas Amida
Konjikidō, miniatur aula emas Amida. Sbr Foto: chusonji.or.jp

Putra Kiyohira, Motohira, mewarisi visi ini dan mendirikan vihara besarnya sendiri, yaitu Vihara Mōtsū (Mōtsū-ji), yang diselesaikan oleh putranya, Hidehira. Pada gilirannya, Hidehira membangun Vihara Muryōkōin. Vihara ini dekat dengan Yanagi no Gosho yang nampaknya pernah menjadi kompleks pemerintahan beragam departemen sebagai tempat mengelola daerah kekuasaan mereka.

Keberuntungan Vihara Chūson berubah drastis pada periode setelah Kamakura. Pada tahun 1337 api membakar banyak aula-aula vihara, pagoda dan harta benda. Namun, lebih dari 3.000 Harta dan Properti Budaya Penting Nasional dapat diselamatkan, di antaranya yang penting adalah Konjikidō, miniatur aula emas Amida (Amitabha) yang terbuat dari kayu yang dilapisi lembaran emas. Pentingnya harta-harta Vihara Chūson adalah karena mereka membentuk sebuah koleksi terpadu dari berbagai macam keahlian, termasuk karya memernis, perkayuan, perlogaman, dan kaligrafi yang semuanya mewakili puncak dari seni Buddhis periode Heian di bagian timur Jepang.

Lima situs Hiraizumi lainnya yang menjadi Warisan Dunia selain Chūson-ji antara lain, Mōtsū-ji (Vihara Mōtsū), Kanjizaiō-in (Taman Lapang Kanjizaiō), Muryōkō-in (Taman Lapang Muryōkō), Gunung Kinkeizan, dan Yanagi no Gosho.[Bhagavant, 22/7/11, Sum]

Kata kunci: , ,
Penulis: