Asia Oseania » Asia Tenggara » Indonesia » Tokoh

Y.M. Thitaketuko Sang Sesepuh Sangha, Wafat

Selasa, 26 Juli 2011

Y.M. Thitaketuko MahatheraBhagavant.com,
Denpasar, Bali – Salah satu sesepuh berdirinya Sangha di Indonesia, Yang Mulia Thitaketuko Mahathera, telah wafat kemarin Senin 25 Juli 2011 pada pukul 05.20 WITA di Rumah Sakit Prima Medika, Denpasar, Bali. Sebelumnya, kondisi kesehatan beliau yang menurun drastis, membuatnya dirawat di rumah sakit.

Jenazah Bhante Thitaketuko disemayamkan di Vihara Buddha Sakyamuni, Jl. Gunung Agung, Denpasar, untuk memberikan kesempatan kepada para umat memberikan penghormatan terakhir.

Hari Selasa (26/7) siang ini, setelah makan siang, jenazah diberangkatkan menuju Brahma Vihara Arama, Banjar, Buleleng. Setelah itu direncanakan akan dikremasi pada Rabu (27/7) pukul. 13.00 WITA.

Wafatnya bhikkhu yang dikenal dengan nama Bhante Thita ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi umat Buddha di Indonesia, khususnya umat Buddha di Bali karena beliau adalah salah satu putera Indonesia yang menjadi bhikkhu di masa awal terbentuknya Sangha Indonesia dan merupakan putera Bali pertama yang menjadi bhikkhu.

Lahir di Banjar Tengah, Desa Gulingan, Mengwi, Badung, Bali pada tahun 1925 (?), Bhante Thitaketuko yang memiliki nama kecil I Ketut Tangkas ini hidup di keluarga yang sederhana. Kepribadian ayahnya, Pan Kompyang Sukri, yang merupakan seorang dalang yang disegani, menjadi panutan hidup baginya.

I Ketut Tangkas yang dalam masa hidupnya pernah menjadi seorang guru, pada sekitar tahun 1950-an mulai mendalami spiritual dan akhirnya memutuskan menjadi samanera setelah bertemu dengan Y.M. Bhikkhu Ashin Jinarakkhita dan menggunakan nama Jinapiya sebagai nama Buddhis.

Tanggal 3 Juni 1959 di Pura Besakih, Samanera Jinapiya ditahbiskan menjadi bhikkhu oleh Y.M. Narada Mahathera, salah satu Dhamma Duta dari Sri Lanka dan menjadi Bhikkhu Jinapiya. Dalam kehidupannya sebagai seorang bhikkhu, Bhikkhu Jinapiya telah banyak membabarkan Dhamma baik di dalam maupun di luar negeri. Dan karena peranan Bhikkhu Jinapiya, maka Ida Bagus Giri dari Banjar, Buleleng, Bali menjadi bhikkhu, yang kemudian hari dikenal dengan nama Bhikkhu Girirakkhito.

Pada tanggal 12 Februari 1976, karena hal-hal yang tidak memungkinkan, maka Bhikkhu Jinapiya terpaksa memutuskan untuk melepaskan jubahnya dan kembali menjadi umat awam kembali. Namun dengan dorongan Bhikkhu Girirakkhito, kembali beliau memasuki sangha. Pada 26 Juli 1988, beliau di-upasampada kembali di Wat Bovoranives Vihara (Wat Bowonniwet Vihara), Bangkok, Thailand, dan menjadi bhikkhu dengan nama Thitaketuko.

Perjalanan hidup Y.M. Thitaketuko Mahathera tidak lepas dari awal berdirinya sangha di Indonesia. Pada tahun 1959, dengan ditahbiskannya 3 calon bhikkhu Indonesia yang di antaranya adalah Samanera Jinapiya (sekarang menjadi Thitaketuko), sangha di Indonesia mulai lahir dengan nama Sangha Suci Indonesia.

Pada tahun 1963 Sangha Suci Indonesia kemudian berubah nama menjadi Maha Sangha Indonesia. Dan dengan adanya perbedaan pandangan, pada 12 Januari 1972, diprakarsai oleh 5 orang bhikkhu yaitu Y.M. Bhikkhu Girirakkhito (ketua), Y.M. Bhikkhu Jinapiya, Y.M. Bhikkhu Jinaratana, Y.M. Bhikkhu Sumanggalo, dan Y.M. Bhikkhu Subhato, maka terbentuklah Sangha Indonesia.

Namun, 2 tahun berselang, pada 14 Januari 1974, sangha di Indonesia kembali menjadi satu dengan nama Sangha Agung Indonesia (SAI/SAGIN) yang berdiri hingga sekarang. Bhikkhu Jinapiya Thera yang sekarang menjadi Y.M. Thitaketuko Mahathera pernah menjadi salah satu pimpinan di Sangha Agung Indonesia yang pertama sebagai Anu Nayaka I.

Seiring berjalannya waktu dimana Sangha Theravada Indonesia (STI) lahir, Bhante Thitaketuko menjadi anggota Sangha Theravada Indonesia dan berdomisili di Denpasar, Bali. Dalam keanggotaan Sangha Theravada Indonesia, beliau pernah menduduki posisi sebagai Upa Sanghanayaka (Wakil Ketua Umum) III pada tahun 1994, Thera Samagama (Dewan Sesepuh) masa bakti 2000-2005 dan dilanjutkan dengan masa bakti 2005-2010.

Sabbe Sankhara Anicca – Segala yang terbentuk dari perpaduan adalah tidak kekal. Terima kasih Bhante Thitaketuko atas jasa yang telah diberikan demi menyalanya kembali Dhamma di Indonesia. Semoga jasa yang telah engkau berikan membawa Bhante ke pencapaian tertinggi, Nibbana.[Bhagavant,26/7/11, Sum]

(?)Belum terkonfirmasi tahun kelahiran

Kata kunci: ,
Penulis: