Meditasi » Sains

Meditasi Membantu Ambil Keputusan Bijak

Sabtu, 23 April 2011

MeditasiANI,
Toronto, Kanada – Sebuah penelitian terbaru menyarankan bahwa pelatihan meditasi perhatian penuh (berkesadaran penuh) secara berkesinambungan dapat mempengaruhi daerah tertentu pada pengambilan keputusan dalam diri manusia, dimana mereka dapat membuat keputusan yang rasional.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Ulrich Kirk, seorang asisten-profesor bersama dengan Laboratorium Pencitraan Neuro/Saraf Manusia (Human Neuroimaging Laboratory), Dr. Read Montague, profesor fisika di Virginia Tech, serta Jonathan Downar, seorang asisten-profesor bersama dengan Klinik Psikiatri Saraf (Neuropsychiatry Clinic) dan Pusat Adiksi dan Kesehatan Mental (Centre for Addiction and Mental Health) di Universitas Toronto, Kanada.

Penelitian mereka menunjukkan bahwa para meditator Buddhis menggunakan beberapa daerah berbeda pada otak dibanding dengan orang lain saat dihadapkan dengan pilihan yang tidak baik, sehingga mereka dapat membuat keputusan yang rasional dari pada yang emosional.

Para meditator telah melatih otak mereka untuk berfungsi secara berbeda dan membuat pilihan yang lebih baik dalam situasi-situasi tertentu.

Dengan menggunakan teknik-teknik komputasional dan pencitraan saraf, Dr. Read Montague meneliti neurobiologi pada kognisi sosial dan pengambilan keputusan pada manusia.

Ia dan mahasiswanya merekrut 26 orang meditator Buddhis dan 40 perserta kontrol untuk membandingkan dan melihat proses otak mereka menggunakan MRI fungsional (fMRI) saat para peserta memainkan “permainan ultimatum”, yaitu pemain pertama mengajukan penawaran bagaimana cara untuk membagi sejumlah uang dan pemain kedua dapat menerima atau menolak pengajuan tersebut.

Para peneliti berhipotesis bahwa “keberhasilan pengaturan reaksi emosional negatif akan mengarah pada meningkatnya nilai penerimaan terhadap penawaran yang tidak baik” oleh para meditator. Hasil perilaku para peserta dikonfirmasikan pada hipotesis tersebut.

Namun hasil pencitraan saraf menunjukkan bahwa para meditator Buddhis tersebut melibatkan bagian tertentu pada otak , yang berbeda dari perkiraan sebelumnya.

“Pada para meditator, insula anterior menunjukkan tidak adanya pergerakan yang signifikan terhadap penawaran yang tidak baik, dan tidak ada hubungan yang signifikan antara aktivitas insula anterior dan penolakan tawaran. Oleh karena itu para meditator mampu untuk melepaskan respons emosional negatif terhadap penawaran yang tidak baik, mungkin dengan memperhatikan keadaan tubuh internal (interosepsi) tercermin dari aktivitas dalam insula posterior,” jelas para peneliti tersebut.

Penelitian tersebut dipublikasikan di Frontiers in Decision Neuroscience, edisi bulan April 2011.[ANI, 21/4/11, tr:Sum]

Kata kunci: , ,
Penulis: