Seremonial » Tokoh

Jasad Ajahn Maha Boowa Dikremasi Esok

Jumat, 4 Maret 2011

Ajahn Maha Boowa (1913-2011)Bhagavant.com,
Udon Thani, Thailand – Setelah sebulan Yang Mulia Ajahn Maha Boowa Nannasampanno wafat pada Minggu pagi (30/1), dalam usia 97 tahun, jasad beliau akan dikremasi esok hari, 5 Maret 2011.

Untuk mempersiapkan upacara kremasi jasad Ajahn Maha Boowa atau semasa hidupnya dikenal juga dengan Luang Ta Maha Bua, Vihara Pa Ban Tat (Wat Pa Baan Taad) membangun dapur dadakan sebanyak 1.500 buah untuk melayani lebih dari 2.500 bhikkhu yang akan berdiam di sana dan juga ribuan pelayat yang datang silih berganti setiap hari tanpa henti.

Selain itu, persiapan ruang untuk menampung ribuan kendaraan yang menuju vihara dan penempatan untuk konsumsi makanan berupa beras dan sayur-sayuran juga menjadi bagian dari kesibukan di Vihara Pa Ban Tat dalam mempersiapkan upacara kremasi jasad Luang Ta Maha Bua. Demikian laporan Bangkok Post.

Banyaknya pelayat yang berkunjung membuat tantangan sendiri bagi pihak vihara dalam hal lalu lintas dan logistik. Meskipun vihara telah memperluas area parkir sampai 2 juta meter persegi, namun kekhawatiran terhadap masalah lalu lintas masih ada.

Pihak vihara sendiri telah menyampaikan kepada para juru masak dan sukarelawan yang berada di sekitar vihara untuk menstok segera makanan, air dan es serta apapun yang mereka perlukan untuk dimasak sebelum esok hari, karena pada hari Sabtu esok mereka tidak akan bisa menggunakan kendaraan di sekitar vihara.

Stok bahan makanan segar bisa bertahan selama dua hari namun akan menjadi masalah jika tidak dapat mendapatkan es untuk digunakan, demikian kata Yaowaluck Padungkitniran, seorang juru masak wanita di dapur umum Sri Thai Mai.

Juru masak wanita lainnya, yang telah memasak sekitar 200 kilogram beras per hari berencana untuk melipatgandakan jumlah yang ia masak pada esok hari. Karena dapurnya terletak dekat dengan pintu masuk parkir maka ia merasa tidak akan terlalu bermasalah untuk berhilir-mudik.

Di vihara, sekitar 50 orang petugas polisi dari Kamp Senee Ronayut telah berlatih untuk prosesi kremasi. Untuk upacara tersebut, 12 orang pembawa kain selubung peti jenazah akan membawa peti jenazah dari vihara menuju krematorium terbuka (luar ruangan), di bawah naungan sebuah payung besar yang sekarang dalam tahap penyelesaian. Bunga-bunga putih akan menghiasi upacara kremasi tersebut.

Organisasi media di Udon Thani bersama-sama membangun pusat pemberitaan sementara khusus untuk acara tersebut. Stasiun-stasiun radio bersaluran 99.0, 88.0 dan 92.75 akan melakukan penyiaran pada esok hari sampai Minggu. Siaran akan berlangsung dari pukul 5.00 sampai tengah malam dan akan memberikan informasi mengenai upacara tersebut, lalu lintas, dan suasana umum.

Pihak vihara sendiri telah menerima sumbangan sebesar 267 juta baht dan 45 kilogram emas untuk kepentingan upacara kremasi Luang Ta.

Phra Khru Athakitnanthakhun, kepala Vihara Pa Doi Lap Nga, mengatakan bahwa para bhikkhu yang berkumpul di Vihara Pa Ban Tat akan mengadakan upacara Pha Pa (pendanaan jubah bhikkhu) atas nama Luang Ta Maha Bua.

Besok Yang Mulia Putri Chulabhorn akan ikut serta dalam upacara pindapatta dan puja bakti pagi di vihara tersebut. Jalannya prosesi upacara kremasi yang rencananya akan dilaksanakan pada Sabtu, pukul 13.00 waktu setempat, akan dipimpin langsung oleh Yang Mulia Ratu Sirikit (Somdet Phra Nang Chao Sirikit Phra Borommarachininat).

Selanjutnya seperti yang disepakati oleh konferensi para bhikkhu senior, abu hasil kremasi jasad Luang Ta Maha Bua akan dibagi menjadi dua bagian.

Satu bagian akan disimpan di sebuah stupa yang akan dibangun dikemudian hari, sedangkan bagian yang lain akan di bagikan ke vihara-vihara para siswanya di seluruh negeri tersebut.

Pertemuan yang diketuai oleh Luang Phor Inthawai Santusasko, kepala Vihara Pa Nakham Noi di Udon Thani, kemarin sepakat bahwa tiga orang bhikkhu senior, yaitu Luang Pu Chansi Chantatheepo, Phra Ajahn Boonpeng Khemathirato dan Phra Ajahn Thawat, akan mengambil bagian dalam upacara pengumpulan abu, yang kemudian akan ditempatkan di sebuah peti dengan delapan kunci.

“Ketika buah-buahan masak, mereka mungkin akan jatuh di pagi hari. Seperti itu pula halnya suatu makhluk, sekali dilahirkan, bisa mati kapan pun juga.” (Salla Sutta, Sutta Nipata 3.8, Tipitaka).[Sum]

Kata kunci: ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN: