Eropa » Inggris Raya » Sains

Buddhisme Tak Terguncang Saat Tuhan Tak Ada

Senin, 6 September 2010

Dhamma and SainsBhagavant.com,
London, Inggris
– Tuhan tidak menciptakan alam semesta dan “Big Bang” (Ledakan Besar – red) merupakan konsekuensi yang tak terelakan dari hukum-hukum fisika, demikian teori baru yang diajukan oleh fisikawan terkemuka asal Inggris, Profesor Stephen Hawking yang dilaporkan oleh Reuters, Kamis 2/9/2010.

“Tidak perlu melibatkan Tuhan untuk menyalakan kertas biru dan menggerakkan alam semesta,” demikian tulis Hawking dalam ringkasan bukunya yang dimuat di harian Inggris, The Times, dan juga dimuat di halaman New York Daily News.

Teori yang terdapat dalam buku terbaru Hawking berjudul “The Grand Design” ini, diakui atupun tidak, telah menggucang dan mengejutkan serta menuai reaksi keras dari banyak pihak penganut kreasionisme (kepercayaan bahwa seluruh alam semesta diciptakan oleh Tuhan) khususnya agama-agama Abrahamik, karena teori ini bertentangan dengan kepercayaan yang mereka anut selama ini.

Kepala Gereja Kristen Anglikan, Rowan Williams, tidak bisa menerima argumen Hawking bahwa alam semesta bisa tercipta tanpa campur tangan Tuhan. Menurut Williams, manusia sejak dahulu percaya bahwa Tuhan menciptakan semesta.

“Percaya kepada Tuhan bukan sekadar mengisi kekosongan dalam menjelaskan bagaimana suatu hal terkait dengan hal lain di dalam alam semesta,” kata Williams dalam majalah “Eureka” terbitan harian The Times.

Penolakan juga muncul dari pemuka agama samawi (istilah lain agama-agama Abrahamik) lain di antaranya dari Pemimpin Gereja Katolik Roma di Inggris, Rabi Lord Sacks, dan Ibrahim Mogra, seorang Imam dan Ketua Dewan Muslim Inggris. Kepada The Times, Lord Sacks menilai bahwa ilmu pengetahuan merupakan suatu penjelasan, sedangkan agama adalah menyangkut tafsiran.

Pada bulan Juli kemarin, dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Inggris, Channel 4, Profesor Hawking juga telah mengatakan bahwa ia tidak percaya akan keberadaan Tuhan “personal”.

Lalu bagaimana dengan posisi Buddhisme sebagai salah satu agama besar dunia terhadap teori baru yang diajukan oleh penemu teori “Lubang Hitam” tersebut? Apakah teori baru tersebut bertentangan dengan keyakinan yang terkadung dalam Buddhisme serta mengguncang sendi-sendi keagamaan dalam Buddhisme?

Faktanya, tidak. Hal ini bukan berdasarkan pada sanggahan-sanggahan kosong karena tidak bisa menerima argumen Hawking, tetapi karena faktanya adalah ajaran yang terkandung dalam Buddhisme tidak berakar, tidak berdasarkan, tidak berpusat pada keberadaan Tuhan Pencipta sebagai inti ajarannya.

Ajaran yang terkandung dalam Buddhisme bukanlah berasal dari wahyu Tuhan Pencipta yang diturunkan kepada para pembawa pesan Tuhan (nabi – red) untuk disebarkan kepada umat manusia, tetapi berdasarkan pada pengalaman langsung dari seorang manusia yang telah mencapai kesempurnaan/pencerahan tertinggi, Ia adalah Sang Buddha, yang pernah hidup lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Ajaran dalam Buddhisme juga tidak berpusat pada pemujaan terhadap sosok pencipta alam, tetapi pada pemahaman akan hidup dan kehidupan serta peningkatan kualitas hidup para makhluk penghuni alam semesta ini.

Fakta lainnya adalah, Buddhisme mengajarkan akan keberadaan hukum sebab-akibat yang menyatakan bahwa segala fenomena yang terbentuk dan berkondisi memiliki banyak penyebab, dan keberadaan penyebab-penyebab ini pun memiliki penyebab-penyebab lainnya lagi, demikian seterusnya. Berdasarkan pemahaman seperti ini membuat tidak ada ruang bagi munculnya Penyebab Utama (prima causa).

Tidak ada sedikit pun literatur Buddhis yang mengisyaratkan bahwa eksistensi alam semesta sebagai hasil ciptaan Tuhan. Alih-alih adanya campur tangan Tuhan terhadap eksistensi alam semesta, penolakan akan adanya campur tangan Tuhan (Pali: Issara, Sanskerta: Isvara – red) terhadap pengalaman hidup yang membahagiakan maupun yang menderita dari para makhluk dinyatakan dengan jelas oleh Sang Buddha dalam Devadaha Sutta.

“Apabila, O para bhikkhu, para makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issara-nimmanahetu), maka para Nigantha (petapa telanjang) ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan.” (Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101, Tipitaka Pali).

Jadi, karena tidak memusatkan diri pada keberadaan Tuhan, maka teori mengenai Tuhan tidak menciptakan alam semesta yang diajukan Hawking, tidak akan mengguncangkan sendi-sendi ajaran yang terkandung dalam Buddhisme.

Buku “The Grand Design” Profesor fisika yang memiliki nama panjang Stephen William Hawking, rencananya akan dipublikasikan pada Kamis 9 September 2010.[Bhagavant, 6/10/10, Sum]

Kata kunci: , , , , , , , ,
Penulis: