Afrika » Afrika Timur » Tokoh » Uganda

Perjalanan Dhamma Untuk Uganda

Jumat, 20 Agustus 2010

The Star,
Entebbe, Uganda – Seorang pemuda Uganda yang telah meninggalkan Afrika untuk melanjutkan studinya di India, kembali ke rumahnya sebagai seorang bhikkhu pertama di tanah airnya.

Bhante Buddharakkhita

Bulan Juni 1990, Steven Kaboggoza, waktu itu berusia 24 tahun, meninggalkan Uganda untuk studi di sebuah universitas di India. Keluarga dan kerabatnya mengharapkannya kembali sebagai “seorang pengusaha kaya yang membawa sebuah tas kantor”.

Setelah tujuh tahun perjalanan, Kaboggoza kembali ke rumah sebagai seorang yogi Buddhis dengan kepala dicukur dan membawa sebuah ransel. Keluarganya merasa heran dengan kopor anehnya: perlengkapan menyelam dan buku-buku mengenai Buddhisme.

“Di Uganda, tidak ada vihara bahkan tidak ada seorang guru agama Buddha dan tentu saja tidak ada laut untuk diselami,” demikian tulis Kaboggoza yang sekarang bernama Buddharakkhita, di dalam buku pertamanya, Planting Dhamma Seeds: The Emergence Of Buddhism In Africa (Menanam Benih-Benih Dhamma: Munculnya Buddhisme di Afrika – ed).

Kopor aneh Bhante Buddharakkhita memiliki hubungan dengan pengalaman perubahan hidupnya. (Istilah Bhante berarti Yang Mulia, dan digunakan pada saat mengacu pada seorang bhikkhu.)

Buku-buku keagamaan menceritakan perjalanan spiritualnya setelah ia berteman dengan dua orang bhikkhu muda asal Thailand yang studi di universitas tersebut. Kaboggoza mulai melakukan perjalanan untuk bertemu dengan Dalai Lama setelah ia terinspirasi dengan ceramah Dharmanya.

Pada tahun 1994, setelah mengikuti sebuah retret meditasi selama 12 hari di Dharamsala, India, yang ternyata menjadi perjalanan penemuan dirinya, Kaboggoza meninggalkan jalur akademis untuk spiritual, Ia bergabung dengan rekan-rekan spiritual di New Delhi untuk mendengarkan ceramah, praktik meditasi dan membaca buku-buku Dharma.

Bhante Buddharakkhita

Setelah setahun, Kaboggoza meninggalkan India untuk berziarah ke Nepal dan Tibet, dan akhirnya mendarat di Thailand selatan, di sebuah pulau Koh Tao yang indah. Untuk mencari nafkah, ia menjadi seorang instruktur selam. Ia memiliki waktu yang menyenangkan, namun kemudian menjadi kecewa dengan hidup dan kembali ke Afrika. Setelah sekembalinya ia pada tahun 1997, para kerabatnya mengetahui mengenai agama barunya. Mereka menasihatkan ia untuk membakar buku-buku Buddhisme-nya dan kembali ke-Kristen-an, tetapi ia bergeming.

Ia bersyukur bahwa ia melakukannya sebelum tsunami menerjang pada tahun 2004 dimana banyak orang yang tewas di tempat dimana ia gunakan untuk menyelam.

Dengan berlalunya waktu, Kaboggoza bertambah gelisah. “Saya kesepian tanpa rekan-rekan spiritual saya dan meninggalkan Uganda untuk mencari Kebenaran yang lebih dalam,” ia menulis dalam bukunya.

Ia menghabiskan satu tahun di Afrika Selatan berpergian dan bermeditasi sebelum berangkat ke Amerika Serikat.

Pada tahun 1999, Kaboggoza menghadiri retret tiga bulan di Insight Meditation Society (IMS) di Barre, Massachusetts, di Amerika Serikat, dan kemudian tinggal untuk bergabung dengan staf lembaga itu sampai tahun 2000.

Pada tahun 2001, ia pergi ke Tathagata Meditation Centre (TMC) di San Jose, California, dimana ia menjalani pelatihan meditasi secara intensif dan pelatihan keviharaan yang mengarah pada upasampada (penahbisan) sebagai seorang bhikkhu Theravada pada tahun 2002. Ia menggunakan nama, Buddharakkhita.

Pada Oktober 2004, Buddharakkhita pergi berziarah ke India, Nepal, dan Birma. Di Sri Lanka, tuan rumahnya, Dhammaruwan, seorang anak yang luar biasa dan seorang umat Buddha, menawarkannya pilihan dari dua buah rupang Buddha untuk dibawa kembali ke Uganda.

Ia memutuskan memilih rupang yang lebih besar sesuai namanya, Buddharakkhita, yang berarti “pelindung Buddha”.

Buddharakkhita tidak mengantisipasi bahwa membawa rupang tersebut dapat menimbulkan begitu banyak rasa ingin tahu dari yang ada di sekitarnya – di Mumbai, India (saat singgah lima jam), di dalam pesawatdan di imigrasi Kenya. Ia merasa lelah dengan pertanyaan tanpa akhir mengenai rupang tersebut. Saat ia menemukan bahwa rupang itu patah dari alasnya karena penanganan biasa, ia ingin lebih melindunginya secara menyeluruh. Ia membungkusnya di dalam jubah bhikkhu.

Di bandar udara, petugas imigrasi bertanya: “Mengapa anda membawa patung ini? Bukalah! Dapatkah saya melihatnya? Anda membawa sesuatu di dalamnya? Mungkin narkoba?”

Saat Buddharakkhita menjelaskan, “Ini hanyalah sebuah patung Buddha,” ia pun pergi.

Sementara di Kenya di mana ia beristirahat sebelum melanjutkan ke Uganda, ia menyimpan rupang yang terbungkus itu di dalam sebuah tas.

Ketika ia kembali ke rumah, ibunya merasa senang melihatnya dan meneteskan air mata bahagia.

Karena etiket seorang bhikkhu, Buddharakkhita tinggal di sebuah hotel terdekat (tidak di rumah ibunya). Tetapi pakaian dan perilaku yang aneh menarik banyak perhatian.

Ia menulis dalam bukunya mengenai bagaimana ia menakutkan bagi dua orang anak yang berlari menjauhinya dan bergumam: “Orang ini akan memakan kita!”

“Beberapa warga Uganda berpikir saya adalah seorang penyembuh tradisional (atau dukun) saat mereka melihat saya dengan tas bhikkhu saya dan bertanya apakah yang saya jual,” katanya.

Saat ia membawa sebuah kipas besar dari Birma (Myanmar), beberapa orang berpikir itu adalah sebuah perisai untuk melindungi tubuh, dan yang lainnya bertanya-tanya apakah dirinya adalah seorang pengawal kerajaan.

Keluarga Buddharakkhita datang untuk menerima keyakinan barunya. Dalam satu bulan menginjakkan kaki di tanah airnya, lima anggota dari keluarganya menjadi Buddhis. Mereka adalah ibu, adik perempuan dan saudara ipar lelakinya.

Ibunya adalah yang pertama beralihkeyakinan setelah ia melihat bagaimana umat Buddha lainnya – empat orang warga Thailand yang menjalankan sebuah restoran di Uganda dan seorang warga Sri lanka pemilik pabrik – memperlakukan anaknya dengan penghormatan yang begitu dalam.

Saat ia meninggalkan Uganda, jumlah umat mulai bertambah.

Ia berhubungan dalam sebuah wawancara lewat e-mail dari Swedia: “Beberapa minggu sebelum Saya pergi ke Amerika Serikat, tiga keponakan perempuan saya dan satu keponakan lelaki menjadi Buddhis.”

Setelah setahun di Amerika Serikat, ia terbang kembali ke Afrika untuk kedua kalinya dan menyadari bahwa orang-orang masih memandangnya dengan aneh.

Mangkuk bhikkhu Afrika ini menjadi sebuah sumber investigasi tetap saat ia pergi berkeliling menerima dana.

“Beberapa orang mengira saya membawa sebuah tambur Afrika, sebuah jembe kecil.” Seorang teman, seorang penjaga gerbang di Universitas Nairobi mengira bakuli (mangkuk dana) tersebut menyerupai sebuah pot dan menandakan bahwa ia akan melakukan perjalanan panjang.

Bahkan, “mangkuk makanan” nya ini telah salah dianggap sebagai sebuah bola kaki dan sebuah bom!

Seorang wanita yang berada di antara sekelompok wanita yang menunggu untuk panen biji kopi di sebuah perkebunan kopi terdekat berhenti dan menyapanya. Wanita lainnya mengerutkan kening dan mengatakan kepadanya: “Saya takut dengan bom yang anda bawa. Apakah itu benar-benar sebuah bom?”

Buddharakkhita merupakan seorang anggota resmi dari World Buddhist Summit, Jepang (Konferensi Tingkat Tinggi Buddhis Sedunia, di Jepang).

Saat bhikkhu karismatik ini untuk pertama kali mengaitkan kisah lucunya di Konferensi Buddhis Ke-5 yang diadakan di Kobe, Jepang, pada tahun 2008, ia membuat tertawa 300 orang di aula konferensi.

“Setiap kali orang-orang melihat saya dengan mangkuk dana saya, mereka ingin membelinya. Kadangkala mereka berpikir saya adalah seorang dukun setempat yang mencoba untuk menjual obat-obatan kepada mereka.”

Namun setelah beberapa saat, penduduk setempat mulai memberikan ia dana.

Baginya menerima dana adalah sebuah pengalaman merendahkan hati.

“Saya tidak pernah tahu bagaimana hal-hal tersebut menjadi berubah. Saya menjadi pusat perhatian di Uganda. Orang-orang selalu menatap saat saya berjalan di jalan dengan kepala yang dicukur dan dengan jubah saya.”

Hari-hari ini, Buddharakkhita berdomisili di Bhavana Society, West Virginia, di Amerika Serikat.

Dua kali setahun, ia akan kembali dari luar negeri untuk bertemu rekan-rekan Buddhisnya di Uganda.

“Kunjungan saya berkisar antara tiga sampai empat bulan. Saya berharap untuk tinggal lebih lama untuk membangun dukungan setempat di Uganda,” tulis Bhante Buddharakkhita, yang merupakan presiden World Buddhist Sangha Youth, Cabang Uganda.

Di Uganda, ia terlibat dalam pengajaran Dhamma di Uganda Buddhist Centre, dan Grup Meditasi dan Yoga Kampala.

Ia juga mengajar di retret-retret di seluruh dunia, khususnya di Brasil dan Amerika Serikat.

“Tahun ini, saya memilih menghabiskan vassa (retret musim hujan) dan pekerjaan mengajar saya di Swedia,” kata Bhante Buddharakkhita, yang juga merupakan seorang Kepala Spiritual Flowering Lotus Meditation Centre di Magnolia, Mississippi, dan sebagai dewan penasihat Global Buddhist Relief (GBF), keduanya berada di Amerika Serikat.

Untuk info lebih lanjut, silahkan akses ugandabuddhistcenter.org .[Majorie Chiew, trans: Sum]

Kata kunci: , , ,
Penulis:

REKOMENDASIKAN: