Afghanistan » Arkeologi » Asia Oseania » Asia Selatan » Seni dan Budaya

Arkeolog Afghanistan Temukan Situs Buddhis

Jumat, 20 Agustus 2010

Seni dan Kebudayaan BuddhisReuters,
Kabul, Afghanistan – Para arkeolog di Afganistan, di mana Taliban Islamis sedang berperang dengan pemerintah yang didukung oleh Barat, menemukan sebuah situs Buddhis di wilayah selatan Kabul, demikian kata seorang pejabat pada Selasa (17/8).

“Ada sebuah candi, stupa, ruangan indah, rupang-rupang besar dan kecil, dua dengan ukuran panjang tujuh dan sembilan meter, berwarna-warni dihiasi dengan emas dan beberapa koin,” kata Mohammad Nader Rasouli, Kepala Departemen Arkeologi Afghanistan.

“Beberapa dari barang peninggalan berasal dari abad kelima (Masehi). Kami telah menemukan tanda-tanda bahwa ada benda-benda yang mungkin berasal dari era sebelum Kristus atau prasejarah,” katanya.
“Kami membutuhkan bantuan asing untuk mempertahankan ini dan keahlian mereka untuk membantu kami dengan penggalian lebih lanjut.”

Lokasi penggalian sepanjang lebih dari 12 km (7,5 mil) di wilayah Provinsi Aynak Logar di selatan Kabul, di mana China menambang bijih tembaga sebagai bagian dari investasi multi-miliar dolar di negara Asia Tengah.

Rasouli mengatakan pekerjaan pertambangan tersebut tidak merusak situs tersebut – yang terkenal tapi tidak diteliti secara mendetail – tapi para penyelundup berhasil menjarah dan menghancurkan beberapa peninggalan sebelum pekerjaan penggalian pemerintah dimulai tahun lalu.

Pemerintah dan pasukan asing memerangi pemberontakan yang dipimpin oleh gerakan radikal Taliban yang menghancurkan patung Buddha di Bamiyan selama mengontrol lima tahun di negara pegunungan 1996 sampai 2001, yang memandang monument-monumen tersebut sebagai sebuah bentuk penghinaan terhadap Islam.

Banyak barang-barang antik dan situs bersejarah yang hancur atau dijarah selama dekade perang saudara dan intervensi asing.

Sekarang hampir seluruhnya Muslim, Afghanistan telah melihat era-era dalam sejarah panjangnya ketika agama lain, seperti Hinduisme, Buddhisme, dan Zoroastrianisme, dipraktikkan secara luas.

Rasouli mengatakan bahwa pemerintah tidak memiliki sumber daya untuk memindahkan relik dari daerah terpencil tersebut, yang mana telah terlihat beberapa pertempuran selama pemberontakan terjadi, tapi berharap untuk membangun museum di sana.

Kata kunci:
Penulis:

REKOMENDASIKAN: